Mengapa?

Mengapa setiap orang tidak boleh menikmati usianya sendiri sepanjang hidupnya?

Ada apa dengan kita yang wajib berdua agar tidak dicerca?

Mengapa seorang wanita harus merelakan sisa hidupnya kepada laki-laki yang tidak lama dikenalnya?

Mengapa tidak masing-masing kita puas dengan hidup kita? Memilih puas dengan pilihannya.

Mengapa harus ada sakit yang mengiringi cinta dan dinamika?

Mengapa segala persepsi dengan mudahnya membunuh kita?

Mengapa begitu sulitnya mencari seorang teman untuk mendengarkan serta dapat dipercaya?

Mengapa ada banyak definisi di dunia? 

Mengapa sering sekali teralienasi pikiran kita? Dan sulitnya untuk bicara.

Lantas, mengapa aku menyesal telah menjawab ‘iya’?

Tilamuta, 14 November 2017

Advertisements

Harga

Katanya, semakin jauh suatu hal dari jangkauan, maka semakin mahal lah harganya.

Semakin mustahil tuk dimiliki, pun makin bersinarlah ia. 

Sehingga,

Segala hal yang dimiliki terkecap biasa saja

Semua yang sudah ada di genggaman menjadi biasa harganya

Begitupun kita, yang menjadi-jadi saja berkurang nilainya,

di matanya.


Tilamuta, 11 November 2017

Yang Lebih Rindu

Setiap idealisme selalu membutuhkan pengorbanan, yang dampaknya melampaui diri sendiri. Kita bebas terbang setinggi apapun, sejauh manapun, menikmati kehidupan baru. Tapi ada yang tak mampu ditanggalkan: rasa rindu.

Karena beban yang dirasa bukan hanya ditanggung sendiri. Kita bebas mengutuk rindu yang berulang kali menyapa, tapi tak tahu

bahwa ada yang lebih berat menanggung rindu: ayah-ibu.

Setiap detik adalah penantian panjang menunggu kabar dari anak tersayang.

Rinduku tak seberapa besar dibanding milik keduanya. Egoisku yang melambung, berpikir bahwa rinduku sudah terlalu besar untuk ditampung.

Karena cita-cita tak pernah berjalan tanpa seiring pengorbanan.

 

Tilamuta, 13 Oktober 2017

Tumbang

Setelah lama sekali tidak sakit (lupa kapan terakhir sakit), hari ini saya kembali harus merasakan sakit. Demam tinggi yang membuat saya setengah hari menggigil. Salah saya yang nggak memperhatikan proteksi diri sendiri di rumah sakit.

Kelar periksa pasien, kadang lupa cuci tangan.

Nggak pakai masker saat periksa pasien batuk-pilek. Kalau ndilalah itu pasien TB-MDR (kebal obat), bisa kelar hidup saya.

Itulah maknanya prinsip “save yourself first before you save others”.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya merasakan nyeri sebadan-badan. Ditambah low back pain yang kambuh, akibat posisi sehari-hari yang kurang ergonomis. Terutama saat mencuci baju dan menyetrika, yang membuat tulang belakang saya mesti membungkuk dalam waktu lama.

Atau memang tubuh saya saja yang lemah? Padahal beban kerja juga nggak berat-berat amat. Hadeh…

Mungkin Allah ingin saya agar lebih bisa simpati terhadap keadaan pasien.

Mungkin sakit yang nggak seberapa ini bisa membantu menggugurkan dosa-dosa saya.

 

Hasil gambar untuk save yourself first

Source: youthspecialties.com 

Tilamuta, 28 September 2017

 

 

Sembuh.

Dear Cil,

Kamu tahu, mengapa sakit fisik bisa muncul meski penyebab sakitnya tidak sungguh-sungguh ada di dalam sel-sel tubuh?

Asalnya dari dalam pikiranmu, yang lalu turun ke hati kemudian menyebar dan menggerogoti tubuhmu perlahan.

Dulu aku pikir, orang paling kuat di dunia adalah mereka yang tidak pernah menangis. Aku pikir, orang-orang yang tidak pernah hilang senyumnya adalah orang yang paling bahagia.

Aku salah besar, Cil.

Orang-orang yang kuat itu, justru mereka yang berani menunjukkan air matanya kepada dunia lantas menyusun kembali puing-puing harapannya untuk kemudian menjadi kuat kembali. Orang-orang yang pesakitan, adalah orang-orang yang menumpuk beban perasaannya hingga tanpa ia sadari sudah bergeser jauh ke palung hatinya. Terpendam begitu lama hingga sulit untuk mengangkatnya lagi ke permukaan hingga hatinya tercemar.

Cil, aku pernah begitu bodohnya merasa sebagai orang yang kuat meski kenyataannya aku hanya berpura-pura menjadi orang kuat. Mulutku begitu terkunci untuk menumpahkan resah hanya agar aku tidak dianggap lemah. Sampai suatu waktu aku tak mampu menampung keluh kesah siapapun lagi karena lautanku sendiri telah penuh gelisah yang tak jua terungkap.

Cil, tidak semua orang bisa menjadi pendengar yang baik, dan tidak semua orang mampu menyimpan rahasia orang lain dengan baik. Tapi kamu, adalah sahabat baik. Seorang teman yang darinya tidak kukecap rasa pengkhianatan.

Terima kasih untuk pundak yang teramat nyaman untuk tempatku bersandar. Terima kasih untuk kedua telingamu yang mendengarkan segala resahku tanpa penilaian-penilaian. Kamu membantuku sembuh dari pesakitan.

Satu janjiku kepada diriku dan untuk anak-anakku nanti, akan kubiarkan mereka bercerita segala sesuatu tentang hidupnya. Apapun, meski itu nanti membuatku resah sebagai orangtua. Bila ia ingin menangis, menangislah. Aku ingin ia tahu bahwa ia didengarkan, bahwa ia tak sendirian. Bahwa duka dalam hidup adalah untuk dibuang, bukan disimpan dan seumur hidup menjadi beban.

 

357334-Paulo-Coelho-Quote-We-pretend-to-be-strong-because-we-are-weak.jpg

 

Tilamuta, 21 Agustus 2017

 

 

Mengapa Sulit?

Puluhan kali aku merawat luka milik sesiapa,

Demikian menjahitnya hingga lalu ia kering meninggalkan bekasnya.

Mengapa lantas aku abai merawatnya: luka milikku sendiri.

Mengapa aku abai akan tepinya yang tak juga mengering,

akan ujung saraf yang masih saja menghantarkan nyeri

menyusup terus dan enggan pergi.

Meski sungguh ku tak sudi air mataku jatuh hingga pipi!

Tapi,

Oh Gusti, mengapa demikian sulit sekali?


Tilamuta, 9 Agustus 2017

Lemesin Aja, Jangan Dilawan

“Lemesin aja, jangan dilawan.” -entah siapa

Sungguh, kalimat di atas ini sangat berguna di banyak aspek kehidupan. Apalagi buat orang pencemas macam saya. Apa-apa dipikirin. Segala macam dipusingin. Nasib, jadi orang HSP (silahkan dicari artinya bagi yang belum tahu). Terlihat pedas di luar, padahal dalamnya kinyis-kinyis: kayak keripik maicih. Digigit sedikit langsung ambyar jadi serpihan-serpihan. Melankolis total.

Saya sendiri biasanya menggunakan kalimat di atas itu saat periksa pasien stroke, untuk menguji lateralisasi dan gerak pasifnya.

“Lemesin aja Pak/Bu tangannya, jangan dilawan ya tangan saya….” Begitu.

Tapi kalimat ini sekarang saya pakai buat menenangkan diri. Kita memang terkadang mesti terlihat kuat demi menenangkan orang lain, tapi justru cara untuk membuat diri kita tenang adalah sebaliknya, yaitu: menerima bahwa diri kita ini sebenarnya lemah. Sebenarnya sungguh membutuhkan orang lain.

Saya memang sedang lemah, hati saya seakan sesak oleh berbagai macam emosi yang mungkin diciptakan oleh pikiran saya sendiri. Karena saya seakan baru tersadar bahwa saya mulai kehilangan. Entah teman-teman, keluarga, juga momen bahagia. Meskipun suatu kehilangan itu berarti menyambut kebahagiaan baru, tetap rasanya kaki-kaki ini dirantai dengan bola-bola besi.

Seorang bapak (bukan bapak saya-red) pernah menasihati saya,

“Momen menyenangkan di masa lalu itu ada untuk dikenang, tapi Rifa jangan pernah tinggal lama-lama di sana.”

Bapak ini juga yang pernah menasihati saya untuk jujur dengan perasaan sendiri. Katanya, “Kalau sedih menangislah, kalau ingin tertawa ya silahkan saja sampai terbahak-bahak. Jangan terkungkung oleh image tentang kamu yang dibuat oleh dirimu sendiri.”

Dan saat ini saya ingin me-‘lemas’-kan kebaperan ini. Biar saja, nggak usah dilawan. Percayalah, jadi orang kuat itu melelahkan. Apalagi kalau kamu pura-pura kuat. Air mata itu ada untuk dikeluarkan bersamaan dengan beban-beban di pundakmu. Setelah beban-bebanmu larut dan keluar, baru setelah itu kamu bisa kembali berdiri tegak.

Saya pernah membangun benteng yang begitu tinggi dan tebal demi melindungi hati dan jiwa. Dari apapun. Karena keadaan pun menuntut demikian. I was in dominant position for several times. Kamu nggak bisa jadi lemah kalau kamu yang jadi kepala, kan? Kamu akan berusaha sekuat tenaga tetap tegak bila kamu yang jadi sandaran kan?

Dan saya pernah menjadi orang keras kepala nan egois yang tidak mau mendengarkan kata-kata orang lain terlebih dahulu, sampai kemudian seorang teman mengingatkan tentang hal ini di hari ulang tahun ke-17 saya.

Kalau kamu berkata bahwa….

jomblo bahagia itu nggak ada dan perempuan jomblo itu menderita,

bahwa semua wanita mau menikah karena ingin ada yang menanggung semua biaya,

bahwa wanita nggak cukup kuat dengan dirinya sendiri,

saya bisa berkata bahwa anda salah besar. 

Percayalah, banyak wanita yang bisa berdiri tegak di atas kakinya sendiri. Banyak wanita yang  merasa puas dengan dirinya sendiri. 

Dulu, saya kira seorang wanita bisa menjadi pemimpin. Dimanapun, dalam keadaan apapun. Setelah berbagai ilmu yang saya dapat di boarding school, di buku-buku, dan dirumah saya sendiri, saya tahu kalau perempuan tak bisa menjadi pemimpin di satu tempat: rumah tangga. 

Setinggi apapun jabatan seorang wanita di kantor, seberapapun anak buahnya di organisasi, tetap dia mesti menjadi makmum di rumah. Sebuah pemahaman yang dulu tak bisa saya terima. Dulu saya pikir, kisah suami-suami takut istri itu wajar adanya dan dibenarkan. Memang banyak terjadi, tapi ternyata bukan hal yang benar.

Setara bukan berarti menduduki posisi yang sama. 

Laki-laki dan perempuan punya derajat yang sama di mata-Nya, tapi diciptakan dengan peran berbeda. Hierarki memang sudah menjadi takdir manusia. Karena rumah tangga tentu tidak bisa berjalan dengan dua kepala. Bahwa Allah pun menciptakan dua jenis kelamin dengan perangkat dan kebutuhan psikologis yang berbeda. Laki-laki akan hancur bila sisi kepemimpinan dan egonya dilukai, sedang perempuan dengan mudahnya hancur bila perasaannya disakiti.

Dulu saat jadi panitia acara keagamaan di kampus, saya dan teman-teman muter-muter di pasar mencari barang. Karena melihat teman laki-laki saya bawa barang banyak, spontan saya ambil salah satu barang dari tangannya. Tujuannya yaa cuma satu: membantu. Tapi dia malah diam lalu bicara,

“Lo melukai harga diri gue, Rif…..”

Hayati bingung, apa yang salah dengan niat baik hamba?

Dan akhirnya saya belajar bahwa dalam sebuah hubungan, kemandirian wanita yang berlebih bisa menjadi bumerang dalam relationship-nya. Dominasi perempuan bisa menjadi penghancur rumah tangganya sendiri. Dan saya pernah ragu, apakah saya bisa bertemu dengan laki-laki yang bisa mendominasi saya tapi tanpa mengintimidasi? Seseorang yang bisa membuat saya mau mendengarkan dan taat padanya tanpa rasa terpaksa.

Seseorang yang membuat saya mengingat kalimat, “Lemesin aja, jangan dilawan.” untuk ego dan keras kepalanya saya.

Nyatanya (dulu) saya lebih sering bertemu dengan laki-laki baik yang pada akhirnya lebih cocok untuk saya kendalikan. Salah satu alasan mengapa perempuan mulai mendominasi adalah karena tidak cukup banyak laki-laki yang cakap menjadi pemimpin.

Tapi, saya sudah bertemu dengan laki-laki yang saya maksud di atas. Seseorang yang insyaAllah tepat untuk menjadi partner sehidup semati. Laki-laki yang membuat saya tidak melakukan effort yang sedemikian besar hanya untuk merasa nyaman, yang meyakinkan hati saya untuk merobohkan benteng dan membangun jembatan menujunya.

Orang yang membuat saya dengan sukarela meluaskan ruang penerimaan, meletakkan ego dan menyusun ulang ambisi pribadi demi menjalani ibadah besar bernama pernikahan.

Karena pernikahan adalah ibadah seumur hidup. Mesti dijalani dengan orang yang mau sama-sama terus belajar meski tertatih. Salah memilih pasangan, maka neraka mengiringi seumur hidup.

Dan kami masih harus menunggu, demi jalan hidup yang lebih baik. InsyaAllah 🙂

 

“Benar aku cinta, tapi ku percaya. Kau yang kuinginkan tak harus hari ini.

Mungkin hari nanti kamu ada di sisi, kita kan bersama dalam indahnya cinta.”

-Tak Harus Hari Ini by Iqbal Ceka

 

Bekasi, 20 Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengumuman Pemenang GIVEAWAY “Mengeja Bahagia” :)

Hallooo khalayak blog, akhirnya saya mengisi laman blog saya lagi setelah post terakhir saat hari raya Idul Fitri. Sudah lama sekali blog saya berdebu dan penuh sarang laba-laba di sana-sini. Dan…..saya muncul lagi di home page anda malam hari ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk……

 

giveaway

 

*tebar-tebar Confetti*

Sebelumnya kami memohon maaf karena pengumuman ini semestinya dibuat kemarin, tetapi karena ada hal yang membuat kami sok sibuk, jadi……baru hari ini bisa diumumkan. Kami akui, keseluruhan karya yang masuk ke link kami bagus-bagus. Kami menyadari, bahwa memang arti kata bahagia bagi setiap orang sangat beragam. Sangat bergantung pada standar-standar yang masing-masing kita perjuangkan.

Terima kasih banyak kepada semua yang telah berpartisipasi dan setelah melalui proses kontemplasi yang panjang *lebay*, akhirnya kami memutuskan karya-karya inilah yang menjadi pemenang.

(bdw, berhubung saya belum kenal nama aslinya, jadi saya pakai nama user saja yah….)

 

HERE THEY ARE…..

giveaway2

 

Pemenang I : Kak newzizzahaz dengan karyanya Mengeja Bahagia

Pemenang II : Kak momo taro dengan tulisannya Bahagiamu, Bahagiaku 

Pemenang III : Kak rayamakyus dengan artikelnya Karena BAHAGIA Datangnya Dari Hati

dan satu pemenang favorit yaitu…..

Kak Nur Irawan dengan tulisannya Kamulah Bahagiaku yang Sebenarnya

 

CONGRATULATION buat para pemenang!!!

Kepada seluruh pemenang, diharapkan mengirimkan alamat rumah dan nomor telepon aktif ke rifa.roa@hotmail.com dan parmantos@gmail.com

Plus, kepada pemenang I, II, dan III, tolong beritahu kami ukuran kaos yang biasa dipakai ya, dan cantumkan ingin lengan panjang atau pendek. 

Sekali lagi, terima kasih kepada semua yang telah berpartisipasi dan sampai ketemu di (InsyaAllah) giveaway-giveaway selanjutnya :”)

Ramadhan: #Last Day

Ada yang bersorak-sorai menggemakan riang,

Ada yang memekik senang membuncah rindu,

Ada yang tidak mau tahu-menahu,

Ada yang kehilangan di tengah rumpun bahagia,

Ada yang masih bertanya-tanya.

Juga ada yang bergemuruh melesak dada begitu dalam:

rindu milik ayah dan ibuku.


IGD RSTN, malam lebaran. 

Ramadhan Day #26: Who?

Who saves you?

At the end, you have to stand all by yourself. 

Rely on yourself. Hug yourself.

The only one in this earth whom you can trust: just yourself. 


Menjelang Idul Fitri, 21 Juni 2017

Previous Older Entries