Pre-Marriage Preparation: Mental

Judulnya marriage preparation tapi bikin postingan-nya sebulan setelah nikah wkwk…

Tapi dengan begini saya jadi bisa membandingkan keadaan sebelum menikah dengan realita paska menikah. Tapi yang namanya baru satu bulan setengah, jelas ini masih perspektif manten anyar. Huehuehe…

Saya percaya bahwa menikah itu butuh kesiapan mental dan jadi makin menyetujuinya setelah menikah. Because marriage starts right after the wedding ceremony. Pada dasarnya, kesuksesan pernikahan bisa disandarkan pada dua hal: saat memilih pasangan dan persiapan mental sejak sebelum pernikahan.

Saya sempat mengalami masa-masa galau menjelang pernikahan, masa dimana banyaaaak syekali pertanyaan menghinggapi kepala saya. Juga tarik ulur perasaaan.

Galau….

Sebenarnya ya, pertanyaan-pertanyaan saya itu memang pertanyaan umum orang-orang menjelang nikah,

udah siap belum ya saya nikah?

calon suami saya orang yang tepat bukan ya?

bisa nggak ya nanti tinggal pisah sama ortu?

gimana sama karir saya nanti? masih bisa lanjutkah?

macam begitulah, sampai saya pusing sendiri. Apalagi sifat perfeksionis saya menuntut kesempurnaan tidak hanya dari diri saya sendiri, tapi juga terhadap orang lain.

Saya takut,

saya takut kalau-kalau saya membuat standar yang terlalu tinggi terhadap pasangan saya sehingga akhirnya saya kecewa. Juga takut tidak bisa mentoleransi kesalahan-kesalahan yang menurut orang lain biasa saja.

Rempong yak? banget.

Sejak setahun lalu pun saya sudah membekali diri dengan buku-buku pernikahan, favorit saya buku Rumah Tangga Surga-nya Canun-Fufu. Materi-materi lain yang saya baca:

  1. Jodohku, Inilah Proposal Nikahku by Canun-Kamil
  2. Man Are From Mars, Women Are From Venus by John Gray (asli ini buku membuka mata banget, sumber segala pertikaian antara perempuan dan laki-laki bisa disimpulkan dari sini)
  3. Lovable Ladies-nya Hitman System
  4. Artikel-artikel yang berseliweran di blog, facebook, instagram terutama tulisannya Ust. Cahyadi Takariawan

Tapi……ya gitu,

semakin saya mendalami ilmu pernikahan semakin saya mengkeret setelah tahu realita ternyata pernikahan itu nggak secantik apa yang ditampilkan orang-orang. Di balik kemegahan dekorasi gedung yang memanjakan mata itu, ada suatu lorong panjang yang entah dimana ujungnya. Lorong yang mesti dilalui berdua hingga nanti sampai ke ujungnya. Kalau salah pilih pasangan, lorong itu bisa terasa jaauuuhh lebih gelap dan pengap.

Makin tambah-tambah galau lah saya saat itu. Yhaa…

Bahkan, kata-kata orang kepada saya macam “Bersyukur kamu Rif, udah ada yang ngajakin serius.” itu nggak mempan di hati saya. Membal….

Saya berikhtiar kepada Allah kalau memang ini adalah keputusan terbaik, atas dasar keyakinan yang saya rasakan dan restu orang tua. Bismillah.

And it happened.

Right after the holy matrimony, saya tahu kalau isi dari buku-buku pernikahan itu benar. Khatam membaca buku itu pun ngga bikin saya jadi ahli relationship juga, tapi setidaknya jadi paham kenapa hambatan-hambatan di dalam suatu hubungan bisa terjadi. Ya gimana ya, namanya juga cewek, ada aja waktu-waktu sensitif sama manjanya kumat dan jadinya caper nggak jelas ke suaminya :p untung suami saya kadar sabarnya melimpah wkwk

Kalau lagi kesel, ilmu-ilmu dari buku-buku itu langsung menguap entah kemana.

Nikah itu enak, beneran. Karena bisa ada yang digelendotin manja tiap hari (dan sebaliknya, re: digelendotin). Kita dan pasangan nggak sempurna dan pasti akan ada harapan yang nggak terpenuhi. But it’s not a big problem, really. Seperti yang saya katakan di awal, bila kita nggak salah pilih pasangan ūüôā

Pasangan yang tepat itu bukan berarti yang cocok seratus persen, tapi yang bisa membuat nyaman satu sama lain. Dan cara menemukannya adalah dengan membuat kriteria. Tulis aja semua kriteria yang diinginkan sampaiiii sekecil-kecilnya tapi buat prioritas. Prioritas itu adalah kriteria yang wajib ada di calon pasangan. Hal-hal yang nggak bisa ditolerir. Kalau saya, kriteria prioritasnya adalah:

  1. Muslim wasathon (ideologi juga penting buat saya)
  2. Rajin sholat dan bisa baca Qur’an alias ngerti tajwid
  3. Punya sudut pandang yang mirip kayak saya (kalau udah begini jadinya enak buat ngobrol)
  4. Penyayang dan lembut ke perempuan (tapi nggak lenjeh dan genit)
  5. Nggak pernah zina
  6. Bukan tukang selingkuh
  7. Status pendidikan minimal setara
  8. Punya mimpi alias cita-cita
  9. Lebih tinggi secara fisik dari saya
  10. Dewasa secara mental
  11. Enak dilihat secara fisik menurut saya

Lhoo…kok banyak hahaha….

Alhamdulillah si Mas punya semua kriteria prioritas di atas. I am so blessed having a husband like you ‚̧

Kenapa kriteria itu wajib? biar apa yang kita cari terarah dan bisa tahu dimana menemukannya. Kriteria-kriteria lain yang selain prioritas boleh lah ditoleransi kalau nggak ada. Yang penting adalah, jangan mentoleransi calon pasangan yang memang sudah ketahuan nggak baik dari awal.

Cari pasangan yang nyambung buat diajak ngobrol juga penting, karena kita akan hidup berdua bersamanya sampai akhir hayat. Bagaimana bisa hidup bahagia kalau bahkan untuk bercerita saja susah?

Jangan sampai pernikahan hanya bahagia di dalam foto saat di pelaminan, tapi sengsara saat di perjalanan.

Dari Rifa,

yang masih berusaha menjalani kehidupan berumahtangga dengan sebaik-baiknya.

Advertisements

Looking for My Self Worth

Source: happify.com

 

Bener kata orang, setiap makhluk itu punya ujiannya masing-masing, cuma disesuain aja kadarnya sama Yang Diatas. Ada yang dikasih cobaan beraaat banget, macam hidup daerah konflik dan serba kekurangan. Ada juga yang cobaannya ya dirinya sendiri. Macam saya ini.

Saya sering banget mempertanyakan ke Allah, kenapa kok hati saya diciptakan ‘kecil’ sekali dibandingkan orang lain. Rasa-rasanya saya ini orang paling lemah. Tapi nyatanya ini sesuai dengan apa yang Allah kasih di hidup saya. Karena perhitungan Allah nggak akan pernah salah.

Butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk mencintai diri saya sendiri dan ‘membersihkan’ kaca mata yang selama ini saya pakai. Selama ini saya ‘kabur’ dalam memandang diri saya sendiri sehingga seringkali menganggap diri ini jauh lebih rendah dibanding orang lain. Tak peduli seberapa banyak pujian dilayangkan kepada saya. Ansietas yang ditambah dengan perfeksionisme membuat hidup terasa seperti neraka.

Kalau orang-orang diuji dengan kehidupannya, saya diuji dengan diri saya sendiri.

Saking rendahnya memandang diri sendiri, sampai pendapat orang lain menjadi begitu penting bagi saya. Lelah? Sangat. Saya jadi kayak orang nggak punya pendirian. Perjalanan menyembuhkan diri sendiri ini sejalan dengan persiapan mental yang saya bangun menjelang nikah.

Tuhan, betapa banyak waktumu yang hamba sia-siakan hanya dengan meratapi nasib yang sesungguhnya baik. 

Kalau kamu akrab sekali dengan hal-hal di bawah ini, mungkin kita senasib hehe:

  1. Berekspektasi segala hal sempurna, hingga saatnya da cela saja di satu karyamu, kamu merasa jadi orang paling gagal.
  2. Bersuara rendah dan postur tubuh yang menunduk. Sisi psikologis mempengaruhi penampilan secara keseluruhan, lho.
  3. Menahan diri untuk menyuarakan pendapat sendiri karena menganggap pandangan orang lain lebih baik.
  4. Ragu-ragu dalam bertindak.
  5. Prokrastinasi dalam hal apapun, ujung-ujungnya jadi mager.
  6. Hmm…apalagi ya, maybe¬†ada yang mau menambahkan….

 

Dan ternyata, mencintai diri sendiri itu nggak bisa instan, tapi mesti bertahap. Pelan-pelan. Demi apapun,jadi orang perfeksionis itu menyiksa. Mungkin kalian pernah baca tulisan-tulisan tentang perfeksionisme di blog ini. Jelas itu karena saya ingin sekali membuang sifat ini karena lebih banyak¬†negative side¬†nya dibanding¬†positive side¬†nya. HUFT….

Btw, quote¬†ini ngena banget deh buat saya…

‚ÄúYou can be the most beautiful person in the world and everybody sees light and rainbows when they look at you, but if you yourself don’t know it, all of that doesn’t even matter. Every second that you spend on doubting your worth, every moment that you use to criticize yourself; is a second of your life wasted, is a moment of your life thrown away. It’s not like you have forever, so don’t waste any of your seconds, don’t throw even one of your moments away.‚Ä̬†

C. JoyBell C.

Nggak jelas, 15 Februari 2018

Hey, 2018!

Alhamdulillah penghujung tahun 2017 sudah terlewati^^

Entah ini memang sebentar lagi mau kiamat atau gimana, 2017 melesat gitu aja. Masih inget belum lama serombongan nge-book warnet buat milih wahana internship, eh sekarang udah tinggal sebulan lagi aja ishipnya.

IMG-20170210-WA0010.jpg

Foto pas awal iship, sekarang udah mau pisah aja wk

 

Saya masih belum bisa memenuhi janji ke diri sendiri untuk posting beruntun soal iship di RSTN Boalemo ini. Yang pasti adalah, overall iship di sini itu enak, terutama buat orang yang ‘sanggup’ tinggal di desa. Buat yang mesti banget di kota, saya nggak merekomendasikan wahana ini ya.

Buat yang suka wisata alam, Gorontalo totally recommended, terutama yang fetish dengan pantai hijau tosca berpasir putih. Karena iship di sini juga, feed instagram saya mayoritas diisi foto-foto laut. Bisa di cek di akun ig rifaroa *promosi

Berhubung khalayak blogger pada bikin resolusi, saya mau me-review hal-hal di 2017 yang ‘nyentuh’ banget di hati, sbb:

1. Kerja sebagai dokter sebenarnya  

Ternyata asik juga #eh.

Setelah sebelumnya berstatus mbak koas, sekarang saya merasakan gimana rasanya jadi seorang dokter yang bertanggung jawab penuh di IGD dan bangsal. Ngeri-ngeri sedap sih, karena saya anaknya panikan. Ngeliat pasien dateng-dateng sesak, sayanya ikutan sesak. Ngeliat pasien sakaratul maut, sayanya sedih karena merasa bertanggung jawab penuh 100% terhadap hidupnya.

Selama setahun ini saya belajar membedakan simpati dan empati, belajar membatasi keterlibatan perasaan untuk apapun yang terjadi di sekitar saya. Saya belajar membatasi diri untuk tidak sedih dan merasa bersalah terhadap apapun yang memang terjadi di luar kuasa saya.

 

2. Mengenal lebih banyak ragam orang

Ini jelas, karena makin bermacam-macam jenis suku yang saya temui. Sudut pandang saya bertambah, terutama tentang rakyat Sulawesi. Seumur-umur saya merantau, saya tidak belum pernah terdampar di suatu tempat yang membuat saya menyesal merantau.

 

3. LDR

Ini sih part nggak enaknya ūüė¶ ALHAMDULILLAH di tahun 2017 ini lalu saya dikhitbah atau bahasa lazimnya tunangan. Saya merasa, skenario Allah itu luar biasa indah, semuanya terasa tertata dari langit. Tapi sebagaimana konsekuensi jarak jauh, saya merasakan nggak enaknya menahan-nahan rindu. Akhirnya mengandalkan sinyal internet yang kadang nggak bisa diajak kerjasama untuk komunikasi.

Pantesan aja ya, banyak orang bilang kalau LDR itu berat.

IMG-20171213-WA0016-1.jpg

 

4. Hampir jadi Bridezilla

Karena keterbatasan jarak ini pun, urusan detail-detail pernikahan jadi rempong. Di saat saya berusaha untuk selow, malah orang-orang di sekitar saya yang ngomporin dan ngingetin tetek bengek urusan nikah.

Rif, udah belum sewa bajunya??

Mau dikadoin apa nanti?

Make up udah fix beloom? Katering udah beres??

Makan melulu, inget udah berapa bulan lagi….

*jambak rambut sendiri*

Ya gimana ya, ini saja yang bisa saya lakukan dengan kondisi orangtua di Kota Bekasi, Mas di Cikarang, calon mertua di Wonogiri, dan saya sendiri di…..Gorontalo ._.

Untungnya Mas selalu nenangin dan seketika saya merasa kalau semuanya akan berjalan baik-baik saja. Dan di saat-saat kayak begini, thanks buat blog, instagram, aplikasi bridestory dan weddingku yang udah kayak oase penyegar bride-to-be yang pusing dan bingung mau cari-cari vendor, terutama yang sedang jauh dari lokasi macam saya begini haft.

 

4. Hape RIP

Ini masalah konyol yang seharusnya nggak terjadi. Saya terpaksa beli hape baru et causa hape saya yang masih bagus itu terjun bebas ke bak mandi. Saya suka gadget bagus, tapi belinya nggak karena kondisi begini juga -_-

Sebel, karena saya nggak sedang memprioritaskan membeli hape baru dalam waktu dekat. Sudah setahun ini saya benar-benar lepas nggak dikasih uang apapun lagi sama ortu. Yang ada malah saya yang kirim ke rumah hampir tiap bulan.

Ternyata beli barang mahal pakai uang sendiri itu berat ya, hiks ūüė¶

Ditambah lagi, uang bulanan saya sudah terpotong lumayan banyak karena saya sisihkan untuk perawatan head-to-toe pra-nikah. Beauty is really pain. Pain di badan, pain di dompet juga.

Nggak papa ding, yang penting bahagia huehehe. Capek-capek kerja kan buat memanjakan diri juga :p

 

5. Galau pasca iship

Ini dilema semua dokter internship tentunya, tidak terkecuali. Mau ngapain abis iship. Komentar yang sering saya dapati adalah…

“Kamu mah enak Rif, abis ini langsung nikah. Nggak pusing mau ngapain dulu.”

Nggak cuma dari teman perempuan, bahkan yang laki-laki pun.

Berhubung saya bukan perempuan yang niat menikahnya untuk meraih ketenangan finansial dari sosok suami, pikiran seperti teman saya itu tidak pernah melintas di otak saya. Memang, banyak perempuan yang sudah lelah kuliah dan kerja lantas berpikir, ‘mau nikah aja ah, capek kerja, biar dikasih duit dari suami aja’.

Nope, tidak sesederhana itu. Perempuan memang dinafkahi suami, tapi sudah siapkah menjalani hidup sebagai seorang istri dan ibu, yang berarti merelakan banyak porsi dari 24 jamnya untuk mengurusi orang lain? Menyeimbangkan ambisi pribadi dan ketahanan keluarga itu butuh effort besar.

 

Hey, 2018!

Saya nggak tahu akan secepat apa 2018 berlalu, apakah seperti 2017 ini ataukah lebih lebih cepat lagi. Saya nggak tahu Allah akan memberi saya kejutan apa di tahun ini. Semoga saya bisa lebih nggak panikan dan baperan di tahun ini, udah itu aja wk.

 

Rumah Dinas Dokter Internship, 1 Januari 2018.

 

 

Mengapa?

Mengapa setiap orang tidak boleh menikmati usianya sendiri sepanjang hidupnya?

Ada apa dengan kita yang wajib berdua agar tidak dicerca?

Mengapa seorang wanita harus merelakan sisa hidupnya kepada laki-laki yang tidak lama dikenalnya?

Mengapa tidak masing-masing kita puas dengan hidup kita? Memilih puas dengan pilihannya.

Mengapa harus ada sakit yang mengiringi cinta dan dinamika?

Mengapa segala persepsi dengan mudahnya membunuh kita?

Mengapa begitu sulitnya mencari seorang teman untuk mendengarkan serta dapat dipercaya?

Mengapa ada banyak definisi di dunia? 

Mengapa sering sekali teralienasi pikiran kita? Dan sulitnya untuk bicara.

Lantas, mengapa aku menyesal telah menjawab ‘iya’?

Tilamuta, 14 November 2017

Harga

Katanya, semakin jauh suatu hal dari jangkauan, maka semakin mahal lah harganya.

Semakin mustahil tuk dimiliki, pun makin bersinarlah ia. 

Sehingga,

Segala hal yang dimiliki terkecap biasa saja

Semua yang sudah ada di genggaman menjadi biasa harganya

Begitupun kita, yang menjadi-jadi saja berkurang nilainya,

di matanya.


Tilamuta, 11 November 2017

Yang Lebih Rindu

Setiap idealisme selalu membutuhkan pengorbanan, yang dampaknya melampaui diri sendiri. Kita bebas terbang setinggi apapun, sejauh manapun, menikmati kehidupan baru. Tapi ada yang tak mampu ditanggalkan: rasa rindu.

Karena beban yang dirasa bukan hanya ditanggung sendiri. Kita bebas mengutuk rindu yang berulang kali menyapa, tapi tak tahu

bahwa ada yang lebih berat menanggung rindu: ayah-ibu.

Setiap detik adalah penantian panjang menunggu kabar dari anak tersayang.

Rinduku tak seberapa besar dibanding milik keduanya. Egoisku yang melambung, berpikir bahwa rinduku sudah terlalu besar untuk ditampung.

Karena cita-cita tak pernah berjalan tanpa seiring pengorbanan.

 

Tilamuta, 13 Oktober 2017

Tumbang

Setelah lama sekali tidak sakit (lupa kapan terakhir sakit), hari ini saya kembali harus merasakan sakit. Demam tinggi yang membuat saya setengah hari menggigil. Salah saya yang nggak memperhatikan proteksi diri sendiri di rumah sakit.

Kelar periksa pasien, kadang lupa cuci tangan.

Nggak pakai masker saat periksa pasien batuk-pilek. Kalau ndilalah itu pasien TB-MDR (kebal obat), bisa kelar hidup saya.

Itulah maknanya prinsip¬†“save yourself first before you save others”.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya merasakan nyeri sebadan-badan. Ditambah low back pain yang kambuh, akibat posisi sehari-hari yang kurang ergonomis. Terutama saat mencuci baju dan menyetrika, yang membuat tulang belakang saya mesti membungkuk dalam waktu lama.

Atau memang tubuh saya saja yang lemah? Padahal beban kerja juga nggak berat-berat amat. Hadeh…

Mungkin Allah ingin saya agar lebih bisa simpati terhadap keadaan pasien.

Mungkin sakit yang nggak seberapa ini bisa membantu menggugurkan dosa-dosa saya.

 

Hasil gambar untuk save yourself first

Source: youthspecialties.com 

Tilamuta, 28 September 2017

 

 

Sembuh.

Dear Cil,

Kamu tahu, mengapa sakit fisik bisa muncul meski penyebab sakitnya tidak sungguh-sungguh ada di dalam sel-sel tubuh?

Asalnya dari dalam pikiranmu, yang lalu turun ke hati kemudian menyebar dan menggerogoti tubuhmu perlahan.

Dulu aku pikir, orang paling kuat di dunia adalah mereka yang tidak pernah menangis. Aku pikir, orang-orang yang tidak pernah hilang senyumnya adalah orang yang paling bahagia.

Aku salah besar, Cil.

Orang-orang yang kuat itu, justru mereka yang berani menunjukkan air matanya kepada dunia lantas menyusun kembali puing-puing harapannya untuk kemudian menjadi kuat kembali. Orang-orang yang pesakitan, adalah orang-orang yang menumpuk beban perasaannya hingga tanpa ia sadari sudah bergeser jauh ke palung hatinya. Terpendam begitu lama hingga sulit untuk mengangkatnya lagi ke permukaan hingga hatinya tercemar.

Cil, aku pernah begitu bodohnya merasa sebagai orang yang kuat meski kenyataannya aku hanya berpura-pura menjadi orang kuat. Mulutku begitu terkunci untuk menumpahkan resah hanya agar aku tidak dianggap lemah. Sampai suatu waktu aku tak mampu menampung keluh kesah siapapun lagi karena lautanku sendiri telah penuh gelisah yang tak jua terungkap.

Cil, tidak semua orang bisa menjadi pendengar yang baik, dan tidak semua orang mampu menyimpan rahasia orang lain dengan baik. Tapi kamu, adalah sahabat baik. Seorang teman yang darinya tidak kukecap rasa pengkhianatan.

Terima kasih untuk pundak yang teramat nyaman untuk tempatku bersandar. Terima kasih untuk kedua telingamu yang mendengarkan segala resahku tanpa penilaian-penilaian. Kamu membantuku sembuh dari pesakitan.

Satu janjiku kepada diriku dan untuk anak-anakku nanti, akan kubiarkan mereka bercerita segala sesuatu tentang hidupnya. Apapun, meski itu nanti membuatku resah sebagai orangtua. Bila ia ingin menangis, menangislah. Aku ingin ia tahu bahwa ia didengarkan, bahwa ia tak sendirian. Bahwa duka dalam hidup adalah untuk dibuang, bukan disimpan dan seumur hidup menjadi beban.

 

357334-Paulo-Coelho-Quote-We-pretend-to-be-strong-because-we-are-weak.jpg

 

Tilamuta, 21 Agustus 2017

 

 

Mengapa Sulit?

Puluhan kali aku merawat luka milik sesiapa,

Demikian menjahitnya hingga lalu ia kering meninggalkan bekasnya.

Mengapa lantas aku abai merawatnya: luka milikku sendiri.

Mengapa aku abai akan tepinya yang tak juga mengering,

akan ujung saraf yang masih saja menghantarkan nyeri

menyusup terus dan enggan pergi.

Meski sungguh ku tak sudi air mataku jatuh hingga pipi!

Tapi,

Oh Gusti, mengapa demikian sulit sekali?


Tilamuta, 9 Agustus 2017

Lemesin Aja, Jangan Dilawan

“Lemesin aja, jangan dilawan.” -entah siapa

Sungguh, kalimat di atas ini sangat berguna di banyak aspek kehidupan. Apalagi buat orang pencemas macam saya. Apa-apa dipikirin. Segala macam dipusingin. Nasib, jadi orang HSP (silahkan dicari artinya bagi yang belum tahu). Terlihat pedas di luar, padahal dalamnya kinyis-kinyis: kayak keripik maicih. Digigit sedikit langsung ambyar jadi serpihan-serpihan. Melankolis total.

Saya sendiri biasanya menggunakan kalimat di atas itu saat periksa pasien stroke, untuk menguji lateralisasi dan gerak pasifnya.

“Lemesin aja Pak/Bu tangannya, jangan dilawan ya tangan saya….” Begitu.

Tapi kalimat ini sekarang saya pakai buat menenangkan diri. Kita memang terkadang mesti terlihat kuat demi menenangkan orang lain, tapi justru cara untuk membuat diri kita tenang adalah sebaliknya, yaitu: menerima bahwa diri kita ini sebenarnya lemah. Sebenarnya sungguh membutuhkan orang lain.

Saya memang sedang lemah, hati saya seakan sesak oleh berbagai macam emosi yang mungkin diciptakan oleh pikiran saya sendiri. Karena saya seakan baru tersadar bahwa saya mulai kehilangan. Entah teman-teman, keluarga, juga momen bahagia. Meskipun suatu kehilangan itu berarti menyambut kebahagiaan baru, tetap rasanya kaki-kaki ini dirantai dengan bola-bola besi.

Seorang bapak (bukan bapak saya-red) pernah menasihati saya,

“Momen menyenangkan di masa lalu itu ada untuk dikenang, tapi Rifa jangan pernah tinggal lama-lama di sana.”

Bapak ini juga yang pernah menasihati saya untuk jujur dengan perasaan sendiri. Katanya, “Kalau sedih menangislah, kalau ingin tertawa ya silahkan saja sampai terbahak-bahak. Jangan terkungkung oleh¬†image tentang kamu¬†yang dibuat oleh dirimu sendiri.”

Dan saat ini saya ingin me-‘lemas’-kan kebaperan ini. Biar saja, nggak usah dilawan. Percayalah, jadi orang kuat itu melelahkan. Apalagi kalau kamu pura-pura kuat. Air mata itu ada untuk dikeluarkan bersamaan dengan beban-beban di pundakmu. Setelah beban-bebanmu larut dan keluar, baru setelah itu kamu bisa kembali berdiri tegak.

Saya pernah membangun benteng yang begitu tinggi dan tebal demi melindungi hati dan jiwa. Dari apapun. Karena keadaan pun menuntut demikian. I was in dominant position for several times. Kamu nggak bisa jadi lemah kalau kamu yang jadi kepala, kan? Kamu akan berusaha sekuat tenaga tetap tegak bila kamu yang jadi sandaran kan?

Dan saya pernah menjadi orang keras kepala nan egois yang tidak mau mendengarkan kata-kata orang lain terlebih dahulu, sampai kemudian seorang teman mengingatkan tentang hal ini di hari ulang tahun ke-17 saya.

Kalau kamu berkata bahwa….

jomblo bahagia itu nggak ada dan perempuan jomblo itu menderita,

bahwa semua wanita mau menikah karena ingin ada yang menanggung semua biaya,

bahwa wanita nggak cukup kuat dengan dirinya sendiri,

saya bisa berkata bahwa anda salah besar. 

Percayalah, banyak wanita yang bisa berdiri tegak di atas kakinya sendiri. Banyak wanita yang  merasa puas dengan dirinya sendiri. 

Dulu, saya kira seorang wanita bisa menjadi pemimpin. Dimanapun, dalam keadaan apapun. Setelah berbagai ilmu yang saya dapat di boarding school, di buku-buku, dan dirumah saya sendiri, saya tahu kalau perempuan tak bisa menjadi pemimpin di satu tempat: rumah tangga. 

Setinggi apapun jabatan seorang wanita di kantor, seberapapun anak buahnya di organisasi, tetap dia mesti menjadi makmum di rumah. Sebuah pemahaman yang dulu tak bisa saya terima. Dulu saya pikir, kisah suami-suami takut istri itu wajar adanya dan dibenarkan. Memang banyak terjadi, tapi ternyata bukan hal yang benar.

Setara bukan berarti menduduki posisi yang sama. 

Laki-laki dan perempuan punya derajat yang sama di mata-Nya, tapi diciptakan dengan peran berbeda. Hierarki memang sudah menjadi takdir manusia. Karena rumah tangga tentu tidak bisa berjalan dengan dua kepala. Bahwa Allah pun menciptakan dua jenis kelamin dengan perangkat dan kebutuhan psikologis yang berbeda. Laki-laki akan hancur bila sisi kepemimpinan dan egonya dilukai, sedang perempuan dengan mudahnya hancur bila perasaannya disakiti.

Dulu saat jadi panitia acara keagamaan di kampus, saya dan teman-teman muter-muter di pasar mencari barang. Karena melihat teman laki-laki saya bawa barang banyak, spontan saya ambil salah satu barang dari tangannya. Tujuannya yaa cuma satu: membantu. Tapi dia malah diam lalu bicara,

“Lo melukai harga diri gue, Rif…..”

Hayati bingung, apa yang salah dengan niat baik hamba?

Dan akhirnya saya belajar bahwa dalam sebuah hubungan, kemandirian wanita yang berlebih bisa menjadi bumerang dalam relationship-nya. Dominasi perempuan bisa menjadi penghancur rumah tangganya sendiri. Dan saya pernah ragu, apakah saya bisa bertemu dengan laki-laki yang bisa mendominasi saya tapi tanpa mengintimidasi? Seseorang yang bisa membuat saya mau mendengarkan dan taat padanya tanpa rasa terpaksa.

Seseorang yang membuat saya mengingat kalimat, “Lemesin aja, jangan dilawan.” untuk ego dan keras kepalanya saya.

Nyatanya (dulu) saya lebih sering bertemu dengan laki-laki baik yang pada akhirnya lebih cocok untuk saya kendalikan. Salah satu alasan mengapa perempuan mulai mendominasi adalah karena tidak cukup banyak laki-laki yang cakap menjadi pemimpin.

Tapi, saya sudah bertemu dengan laki-laki yang saya maksud di atas. Seseorang yang insyaAllah tepat untuk menjadi partner sehidup semati. Laki-laki yang membuat saya tidak melakukan effort yang sedemikian besar hanya untuk merasa nyaman, yang meyakinkan hati saya untuk merobohkan benteng dan membangun jembatan menujunya.

Orang yang membuat saya dengan sukarela meluaskan ruang penerimaan, meletakkan ego dan menyusun ulang ambisi pribadi demi menjalani ibadah besar bernama pernikahan.

Karena pernikahan adalah ibadah seumur hidup. Mesti dijalani dengan orang yang mau sama-sama terus belajar meski tertatih. Salah memilih pasangan, maka neraka mengiringi seumur hidup.

Dan kami masih harus menunggu, demi jalan hidup yang lebih baik. InsyaAllah ūüôā

 

“Benar aku cinta, tapi ku percaya. Kau yang kuinginkan tak harus hari ini.

Mungkin hari nanti kamu ada di sisi, kita kan bersama dalam indahnya cinta.”

-Tak Harus Hari Ini by Iqbal Ceka

 

Bekasi, 20 Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous Older Entries