Sebelum Meminta Lebih

Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. (Al-Baqoroh: 152)

syukur-nikmat

courtesy of dawaihati.com

Ada kalanya kita terlalu sering ‘menengok’ ke atas sehingga hati menjadi silau melihat segalanya. Seringkali kita terlalu lama menatap anugrah-anugrah yang ada pada orang lain sehingga alpa menyadari anugrah yang ada di hidup kita sendiri. Semua manusia melewati perjalanan hidup yang berbeda-beda dan hanya Allah lah yang tahu seperti apakah hidup kita sesungguhnya dan hal-hal apa saja yang sejatinya memang kita butuhkan. Yang terbaik bagi orang lain belumlah tentu menjadi yang terbaik bagi diri kita. Dan itu semua hanya Ia yang tahu.

Melihat orang lain memiliki banyak gadget mahal, seketika iri. Melihat orang lain lulus tes (apapun itu), langsung dengki. Melihat orang lain mampu membeli segala hal yang ia inginkan dalam beberapa hari saja, saat itu juga merasa bahwa Tuhan tidak adil. Melihat fisik orang lain lebih bagus, seketika merasa tidak memiliki apa-apa. Seketika itu juga melupakan segala hal yang kita punya. 

Saat ini, detik ini, bisa jadi banyak orang di luar sana yang rela melakukan apapun demi mendapatkan segala hal yang kita miliki sekarang. Hidup kita sekarang.

Karena kita tidak harus berlelah-lelah dan banjir keringat sebab bekerja keras demi kebutuhan sandang, pangan, dan papan adik-adik kita.

Karena sanggup membeli apapun yang kita mau hanya dengan meminta uang kepada orangtua.

Karena dapat sekolah tanpa harus menunda beberapa tahun sebab harus bekerja untuk mencicil uangnya terlebih dahulu.

Karena masih memiliki orangtua dan keluarga yang utuh, yang selalu melimpahkan hidup kita dengan kasih sayang.

Karena tak harus tidur berlapiskan kardus di pinggir-pinggir rel kereta api dan kerap terganggu oleh deru kereta yang melaju.

Karena tak perlu terusir dari negara sendiri sebab diskriminasi atas status minoritas yang melekat sedari lahir.

Karena tidak tinggal di daerah konflik, sehingga bisa tidur nyenyak tanpa ditemani suara benda-benda peledak.

Orang-orang yang telah mengalami kerasnya hidup itu, adalah alasan yang cukup besar untuk dapat membuat kita bersyukur bahwa Allah masih menganugrahkan kepada kita karunia yang besar. Seringkali juga lupa ‘menengok’ ke bawah sehingga tak sadar bahwa kita telah menjadi kufur. Sebelum meminta lebih, sesungguhnya masih banyak hal yang terlebih dahulu perlu kita syukuri. Berterima kasih kepada-Nya akan mengetuk pintu langit sehingga Ia akan memberi kita rezeki yang lebih dan lebih lagi. Semoga Bulan Ramadhan tahun ini dapat menjadi titik balik bagi hidup kita dan menjadikan kita hamba yang lebih dekat kepada-Nya. Allahumma amiin… 

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. DiCapriadi
    Jun 21, 2015 @ 14:06:52

    Super sekalih,
    Mungkin seharusnya kita harus bersyukur dgn yg kita punya dan yg kita mampu. 😊

  2. Rifa Roazah
    Jun 21, 2015 @ 14:37:41

    Bener banget rud, dan perlu banget disadarin kalau masih banyak orang di sekitar kita yang ngga lebih beruntung dari kita…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: