Ramadhan Day #14: No Way Back

Besok sudah tepat pertengahan Ramadhan. Kemarin tepat 4 bulan saya bertugas jauh dari rumah. Tadi malam saya sudah tidur di rumah dinas baru, dan saya jadi punya masalah baru. Kalau sedang tidak ada masalah, tentu saya akan malas menulis blog (?).

Masalah kecil sih: homesick.

Ternyata saya terlalu menyepelekan masalah ini, hingga akhirnya ia menyerang saya justru di saat yang sangat menyusahkan. Huft.

Karena konsekuensi akan selalu mengikuti sebuah pilihan, dan inilah konsekuensi yang mesti saya terima. Saya punya banyak pilihan, dulu sekali. Bahkan pilihan terbaik pun tidak berarti bebas dari konsekuensi buruk. Diri kita ini saat mengambil pilihan, sebenarnya bukan berada di sebuah persimpangan dengan banyak cabang. Melainkan, ada di tengah lautan dalam sebuah kapal kayu. Kita bebas mengambil arah manapun dengan cara bagaimanapun. Kita bebas memilih pulau manapun, pantai manapun.

Akan tetapi, begitu saatnya kita sampai di tujuan, kapal yang kita gunakan akan terbakar. Juga tidak ada kapal-kapal lain yang bisa kita gunakan di tempat tujuan.

Dengan kata lain: there’s no way back.

Selamanya keputusan yang kita ambil akan mengiringi selama perjalanan. Ditambah lagi dengan kecemasan-kecemasan: bisakah nanti hidup di tempat tujuan yang baru? apakah justru tidak ada air dan selamanya kita akan hidup dalam kekeringan? Apakah di sana ada makanan yang cukup? dan segala macam pertanyaan tentang esok hari yang tak mungkin jawabannya bisa didapatkan saat ini.

Setiap keputusan yang kita ambil akan terus bergaung hingga akhir hayat dan sekali ada penyesalan, gaung itu akan terus terdengar memekakkan telinga entah sampai kapan. Kita hanya bisa berhati-hati di awal untuk mencegah hal-hal yang kelak menjadi penyesalan. Kita hanya perlu membuang segala jenis kecemasan untuk yakin melangkah ke depan.

 

#notetomyself

Tilamuta, 9 Juni 2017

Advertisements

Ramadhan Day #6: kering

Hampir seminggu sudah Bulan Suci ini berjalan. Waktu memang berjalan cepat, ya, sampai saya pun baru sadar bahwa sebentar lagi tugas saya akan berpindah ke rumah sakit. Pengalaman di Puskesmas ini akan saya tuliskan di bagian tersendiri nanti, InsyaAllah.

Saya memulai Ramadhan tahun ini dengan keadaan hati saya yang kering sekali. #huft

Untuk kesekian kalinya, saya menjalani puasa di kota orang. Literally, saya memang kering di sini karena cuaca yang terik di Gorontalo. Dan parahnya, saat ini saya homesick, sesuatu yang saya kira tak akan saya alami di perantauan saat ini. Mungkin juga saking longgarnya waktu saya di sini, karena kan kesibukan itu bisa menjinakkan rasa rindu.

Ramadhan tahun ini saya gunakan untuk perlahan membasuh hati saya yang kering karena sudah semakin jauh dari-Nya. Dengan lebih banyak membaca Kalam-Nya, mengulang-ulang hafalan, juga sholat sunnah (yang belakangan sudah jarang saya lakukan). Memang, Alquran itu candu. Semakin lama ditinggalkan, hati pun jadi kalap mencari-cari. Seperti ada yang hilang, dan hati jadi menyisakan bagian kosong karena lama ditinggalkan. Kemudian menjadi kering karena sesak diisi dengan hal-hal duniawi saja. ūüė¶

I’ve lost myself. Selain hati saya yang menjadi kering, entah mengapa rasanya akhir-akhir ini saya seperti kehilangan diri saya sendiri. Rasanya seperti bergeser dari titik keseimbangan yang selama ini saya jaga. Saya bahkan lupa dengan hal-hal yang pernah saya cintai dulu. Saya menjadi sulit menikmati apa-apa yang dahulu saya suka. Semangat untuk melakukan ini-itu entah mengapa menjadi pudar.

Atau ini karena hati saya yang memang sedang kering saja sehingga rasanya tak ada yang baik-baik saja?

Bulan suci Ramadhan ini jadi sebuah titik balik bagi saya untuk kembali mempertanyakan diri sendiri tentang apa-apa yang menjadi tujuan ke depan. Tentang bakti kepada Sang Pencipta, dan mengukur jarak sudah sejauh apa diri ini telah berpaling dari-Nya. Sehingga akhirnya bisa kembali dekat dengan-Nya dan menemukan diri seutuhnya (lagi).

 

Paguyaman, 01 Juni 2017

2758 km: #myishipmyadventure (1)

Pantas saja saya merasa ada yang kurang di hari-hari saya, dan ternyata itu karena sudah lamaaa sekali tidak merangkai kata-kata. Blog ini saya tinggalkan sementara saat mengurus detail-detail internship maka postingan baru ini pun saya buka dengan cerita internship yang sudah saya jalani satu bulan lebih ini. Di tengah sinyal internet yang bikin frustasi, mari kita mulai tulisan ini *kretekin tangan*

Duluu sekali, nggak ada di bayangan bahwa saya akan menginjakkan kaki di (hampir) ujung Pulau Sulawesi. Saya memang tidak berniat untuk internship di Jakarta dengan berbagai pertimbangan, tapi yang dulu saya incar adalah NTB (especially Lombok), Riau (termasuk Kepri), dan Aceh. Sempat malah terpikir mau ke Papua sekalian tapi……malarianya itu loh. Karena sejauh-jauhnya saya pergi, saya tetap mesti bikin hati orangtua tenang melepas anaknya ini kan ūüôā

Dan di sinilah saya, terdampar di provinsi ke-32 Indonesia yang kerap dijuluki Serambi Madinah. Lebih tepatnya mendamparkan diri, karena secara sadar jari-jari saya meng-klik Rumah Sakit Tani dan Nelayan, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo di daftar wahana internship yang milihnya pake rebutan itu. Saya dan tiga teman tercinta saya (sebut saja Ni‚Äôma, Gina, dan Ridho) dari UPN yang sudah janjian untuk iship di sana untungnya dapat semua dan nggak ada yang salah klik lantas nyasar sendiri ke Maluku atau bahkan Papua. Karna paaaas banget di bawahnya Gorontalo itu nama-nama RS di Maluku.  

IMG-20170210-WA0010.jpg

RSTN Squad, foto di depan RS saat penyambutan

Mereka-mereka inilah yang menjadi keluarga saya di sini, sejawat-sejawat dari seluruh Indonesia. Sebut saja Gratia, Lani, Nadya, Janet, Suryadi, Steve, Erik, Bang Leon (FK Univ Sam Ratulangi), Ummul (FK Unpad), Chintya, Irvin, Fredy (FK UI), Miki, Kevin, Avian (FK UGM), Bang Zaky (FK Trisakti), dan sisanya anak-anak UPN yang saya sebut di atas. Saya bukannya tanpa rasa galau meninggalkan rumah, dan dengan adanya mereka-mereka ini rasanya perantauan jadi lebih mudah.

Apalagi kami satu visi untuk……jalan-jalan ekplor Gorontalo (/^_^)/

Serius, kalau tanpa mereka ini kehidupan internship bisa jadi berat. Itulah mengapa kita akan selalu membutuhkan adanya orang lain di sisi kita dalam keadaan apapun. Saat memilih wahana internship dulu itu, saya sangat bisa memilih RS di DKI Jakarta karena nama-nama RS tersebut masih tampak lengkap di depan mata saat online. Tapi namanya juga pilihan, pun saat itu insyaAllah sudah siap dengan konsekuensinya: jauh dari keluarga dan rumah (lagi), jauh dari teman-teman, jauh dari Starbucks (di Gorontalo enggak ada), dan jauh dari (uhuk) seseorang.

Padahal saat itu saya sedang ingin sekali merawat ayah dan ibu saya dari dekat. Padahal saat itu saya sedang berencana membangun masa depan dengan seseorang, dan kami mesti terpisah 2758 km di kala baru saja memulai.

Tapi saya merasa kalau pengalaman saya tak akan berkembang bila tidak ‘melihat’ keluar dan kemudian telinga saya letih akan suara klakson yang bersahutan di jalanan ibu kota. Teman-teman saya pun akan dominan dari daerah yang sama. Bukan bermaksud mendiskreditkan teman-teman saya yang memilih DKI Jakarta, saya tahu mereka pun punya alasan masing-masing.

Beda dengan Manado, Gorontalo ini kering dan panas buanget. Saking panasnya sampai sayur-sayuran nggak semuanya bisa tumbuh di sini dan berimbas ke harga yang mahal. Ditambah dengan kepercayaan orang sini bahwa “banyak makan sayur bisa bikin asam urat”, maka makin jaranglah penduduk sini makan sayur. Sampai hal ini pernah dibahas di Musyawarah Masyarakat Desa yang dipandu Puskesmas. Ohya, saya masuk di stase Puskesmas dulu di empat bulan pertama, lalu ke IGD, lalu ke bangsal. Dan stase Puskesmas ini adalah waktunya jalan-jalaaaan XD

Selain panas, di sini juga mati lampunya S3dd1 alias tiga kali sehari. *kipas-kipas

Hal yang bikin saya meringis adalah obat-obatan yang memang kurang lengkap di Puskesmas, sinyal yang angot-angotan, dan…..bahasa. Saya masih suka roaming dengar pasien pakai Bahasa Gorontalo. Kalau ada campuran Bahasa Manado-nya saya masih bisa nangkep, tapiiii kalau udah bahasa yang aslinya banget itu….bikin pengin jambak rambut. Rambut saya kok, bukan rambut pasiennya :p

Ini bocoran vocabnya:

Mongoto –> sakit

Lunggongo –> kepala

Bulo’o –> leher

Ulu’u –> tangan

Duhelo –> dada

Ombongo –> perut

Hilawo –: hati

Maka, bahasa gorontalo-nya sakit hati adalah mongoto hilawo. *catet

Berhubung Puskesmas Paguyaman ini pas banget ada di sisi Jalan Trans Sulawesi, jadi ya banyak kasus kecelakaan. Tabrakan ada, kecelakaan tunggal lebih banyak lagi. Keseringan adalah karena demi menghindari hewan (-_-). Percayalah, di sini anda bisa menemui sapi, kambing, ayam, anjing, dan (tentu saja) kucing berkeliaran dimana-mana.


Beginilah kalau lagi ada kasus kecelakaan yang banyak dan berat, kita ramean ngerjainnya. Ini pas jam jaga saya, emang teman-teman saya ini lovely banget deh mau pada bantuin. Percayalah, ini selfie dan senyum riang bukan karena menertawakan pasien, tapi ya gitu, maybe sudah kebal dengan bau darah dan kalau stres yang ada nanti malah tegang. Untungnya kelompok saya ini kompak banget, termasuk otak kriminalnya. Tenang, bukan kriminal yang enggak-enggak kok.

Kompak lainnya adalah kalau yang satu masak, yang lain cuci piring sama cuci beras. Yang satu ambil laundry, yang lain beli galon. Yang satu ambil libur, yang lain nge-back up. Menikmati playlist JOOX di mobil rame-rame. Dan setelah hampir lewat dua bulan ini, saya langsung yakin bahwa masa satu tahun internship ini akan jadi masa yang kelak akan saya rindukan. Seperti saya merindukan Ambawara, seperti saya merindukan Palembang, Semarang, dan Magelang.

Ini destinasi pertama kami, Pantai Bolihutuo.

Kami datang kesini saat belum terpisah jadi kelompok-kelompok stase, jadi masih ber-20. Saya akui, Gorontalo ini cantik banget secara keseluruhan. Kanan-kiri jalan pemandangan bukit, sawah, ladang jagung, dengan pohon kelapa yang melambai-lambai. Apalagi buat yang dari kecil tinggal di kota macam saya, pengalaman kayak gini bikin saya bersyukur banget.

Perjalanan menuju air terjun Ayuhulalo, bikin adem mata banget.

Ini air terjunnya, nggak terlalu ‘wah’ memang, tapi di Gorontalo ada air terjun-air terjun lain yang kece banget

Kalau yang ini, view saat menuju air terjun Bontula


and this is the waterfall


Geng Puskesmas Paguyaman in Red

Ini Desa Bongo, dulu namanya Kampung Bubohu dan daerah ini bekas kekuasaaan Kerajaan Gorontalo. Desa ini disebut juga Desa Religi karena merangkap pesantren alam. Rumah-rumah di belakang kami itu adalah tempat dilakukannya halaqoh dan kolam di bawah kami biasanya ada airnya tapi saat ini sedang kering. Merpatinya banyaaak dan kalau mau ngasih makan bisa beli jagung satu gelas seharga Rp. 5000,-. Baru aja nadahin tangan yang menggenggam jagung, burung-burung merpati pasti langsung berdatangan. Tapi ya gitu….tetep sulit ditangkep.

Namanya juga jinak-jinak merpati >.<

Di dekat situ ada Masjid Walima Emas yang punya view bagus tapi sayangnya saat kami kesana gerbangnya sedang ditutup dan penjaga gerbangnya lagi pergi entah kemana. Masjid ini pas banget di atas jadi kalau melihat ke bawah bisa menikmati hamparan bukit hijau dengan pantai dan lautan luas.

Ini di Desa Girisa, kami bela-belain bertujuh datang ke Posyandu di Desa ini demi berfoto lengkap di perahu katinting hehee. Biasanya kalau anak-anak internship kesini pasti sambil ke pantai di Desa Balate lalu bakar-bakar ikan. Tapi sayang, Kak Mano yang biasanya mensponsori bumbu untuk bakar ikan saat itu sedang sakit.


Mukanya seneng, padahal aslinya takut kecebur….

Destinasi terakhir sampai saat saya menulis postingan ini, Pantai Libuo di Pohuwato. 

Di sana kami kumpul lagi ber-20 untuk BBQ-an. Tapi sayangnya saya belum sempat foto di dermaganya. Saya selalu suka suasana pantai saat senja, always awesome. Wish you were here with me, Mas. 

Ini baru postingan pertama tentang internship dan bakal ada postingan-postingan selanjutnya insyaAllah. Masih ada kisah IGD dan bangsal. Masih ada Pulau Saronde, masih ada Taman Laut Olele, masih ada wisata hiu paus Batubarani, Tanjung Karang, Paguyaman Pantai, dan yang pasti…..PULAU CINTA!

Dan weekend ini saya akan ikut Travelling and Teaching Gorontalo #5. Untuk kedua kalinya saya mencicip jadi relawan. Kalau dulu sebagai guru (meski nggak berbakat), yang sekarang ditambah pengobatan massal. Plus snorkeling di Taman Laut Olele #tetep.

See ya when I see ya. ūüôā ‚̧


Desa Molombulahe, 23 Maret 2017

Review Anime: Kimi no Na wa (Your Name)

“Once in a while when I wake up, I find myself crying. I can never recall, but there’s sensation that I’ve lost something, lingers for long time after I wake up.”

mv5bmzbhntcxmtetymq1ys00njc1ltk0mtmtnjq2ngmzody0yzq4l2ltywdll2ltywdlxkeyxkfqcgdeqxvynde3otayndu-_v1_

Suatu pagi, Taki terbangun dari tidurnya dan sadar seketika bahwa tubuhnya adalah tubuh perempuan remaja. Tidak ada hal aneh yang terjadi sebelumnya. Taki sadar, jiwanya berada di tubuh orang lain, di tubuh seorang gadis.

Pemilik asli tubuh yang ‘didiami’ oleh Taki itu bernama Mitsuha, seorang gadis pelajar SMA di sebuah desa bernama Itomori. Mitsuha lahir di keluarga penjaga kuil dan sedari kecil tinggal bersama nenek dan adiknya tersebab ibunya telah lama meninggal dan ayahnya tinggal terpisah, memilih menyibukkan diri sebagai walikota Itomori.

Di kota lain, Tokyo, jiwa Mitsuha tinggal di tubuh Taki, seorang anak laki-laki metropolitan yang punya pekerjaan sampingan sebagai waiter di sebuah restoran Italia dan suka menggambar. Taki dan Mitsuha bertukar tubuh dua hingga tiga kali dalam seminggu dan saling meninggalkan catatan bagi satu sama lain tentang bagaimana memperlakukan tubuhnya. Mitsuha sempat sengaja membuat Taki jadi semakin dekat dengan gebetannya, Nona Okudera dan saat ia kembali di tubuhnya sendiri di pagi hari, entah mengapa ia menangis. Tangis yang ia sendiri tidak tahu sebabnya.

mv5bywm3zddkmmmtnwjknc00ngjjlwizywutmzgxnthizjk5ztbmxkeyxkfqcgdeqxvymzgxodm4njm-_v1_

Suatu ketika, Mitsuha dan Taki tak pernah bertukar tubuh lagi dan nomor Mitsuha tak bisa dihubungi. Berbekal ingatannya saat bertukar tubuh, Taki menggambar Desa Itomori sebagai bekalnya mencari Mitsuha bersama Okudera dan Tsukasa. Taki sampai di tempat tujuan, tapi apa yang ditemukannya?

Hanya sebuah danau besar disertai reruntuhan sebuah kota. Village that vanished. Itomori telah hancur tiga tahun yang lalu dan tak menyisakan seorangpun penduduknya. Komet Tiamat yang indah dan melewati Jepang tiga tahun yang lalu tanpa disangka telah terpecah menjadi meteor dan jatuh menghantam tepat Desa Itomori yang sedang merayakan festival. Nama Mitsuha ada di daftar warga yang meninggal.

Taki semakin yakin bahwa apa yang ia alami sebelumnya hanya mimpi, tapi mengapa bisa begitu nyata?

Dan Taki semakin melupakan nama Mitsuha…..

“I feel like I’m always searching for something, for someone.¬†Someone dear to me. I shouldn’t forget, I didn’t want to forget!”

Tapi suara Mitsuha terdengar berulang-ulang di kepalanya. Taki nekat mendatangi bekas reruntuhan Itomori dan berjalan menuju sebuah pohon besar dimana kuchikami-zake buatan Mitsuha disimpan di sana. Taki meminum sake yang merupakan separuh jiwa Mitsuha itu dan seketika kembali ke masa dimana Mitsuha masih hidup, tiga tahun lalu. Keduanya bertukar tubuh lagi.

Taki bertekad untuk menyelamatkan Mitsuha dan orang-orang Desa Itomori dari komet Tiamat. Taki bertekad untuk mengubah masa lalu dan mengembalikan Mitsuha.

Mitsuha dan Taki akhirnya bertemu di pinggir Danau Itomori, di senja hari, saat kataware-doki, waktu dimana dua dunia yang berbeda bisa terhubung.

thumb-1920-737407

 

Keduanya menuliskan nama masing-masing di telapak tangan agar tak saling melupakan. Tapi sayangnya kataware-doki sudah berlalu saat Mitsuha belum selesai menuliskan namanya di telapak tangan Taki. Senja berlalu dan Mitsuha yang sudah kembali ke tubuh aslinya melanjutkan tekad Taki untuk menyelamatkan desanya.

Tetapi, keduanya kembali saling melupakan nama masing-masing. Begitupun Mitsuha yang pada akhirnya lupa nama Taki, karena yang ditulis Taki di telapak tangannya bukan namanya sendiri, melainkan….

i-love-you

uuuuu sweet bangeeet #yhabaper

Lalu….

Apakah Mitsuha berhasil menyelamatkan Itomori dan mengubah takdirnya? Hingga akhirnya ia bisa bertemu Taki di masa depan?

Apakah Taki dan Mitsuha akhirnya bisa bersama?

Nonton film-nya aja yah hehhee, udah banyak di situs donlot-an. Ini aja kayaknya udah spoiler banget :p

Makasih banyak banget buat teh ninih alias Nima yang udah ngebagi film yang lagi ngehits ini. IMDBnya 8.8! Seneng banget, apalagi buat penikmat anime, kartun, dan animasi macam saya ini hehehee.

Ini anime-nya diproduksi oleh Makoto Shinkai dan ceritanya diambil dari novel beliau sendiri. Anime ini jadi anime dengan pendapatan kotor tertinggi kedua sepanjang sejarah (288.8 dollar AS). Ost-nya juga enak-enak menurut saya, dibuat sama band rock asal Jepang Radwimps. Judul-judulnya:

  1. Sparkle
  2. Kataware-doki
  3. Zenzenzense
  4. Yume Toro
  5. Nandemonaiya

Ini Sparkle, videonya bisa jadi sekalian¬†teaser-nya…

 

Kalau yang ini versi instrumentalnya Kataware-doki, enak banget jadi¬†lullaby…

 

Karena masih demam Kimi no Na wa ini, sampai ada meme-nya coba di 9gag,

1483104717818_1483167417367.jpg

Hahahahahahaa ngacoo

Selamat menyambut tahun baru! ‚̧

Depok, 31 Desember 2016

It’s All in Your Head!

Pernah nggak berobat ke klinik/RS karena keluhan pusing, sakit kepala, perut nggak enak, atau gangguan tidur (re: insomnia) lalu dokternya bilang….

“Kamu lagi banyak pikiran ya? Ini sakitnya karena stres.”

Maybe yang ada di pikiranmu adalah, ‘yaelah dok, udah jauh-jauh berobat masa dibilangnya cuma gara-gara stres. Nggak ada alasan lain apa.’

Dokter pun sebenarnya diajari untuk mendiagnosis suatu penyakit dengan mindset organ-oriented, alias dengan mencari penyebab fisik terlebih dahulu dan mengekslusikan penyebab psikis. Tapi kenyataannya, sisi psikologis kaitannya dengan gangguan fisik seseorang tidak bisa dipandang sebelah mata. 

o-depression-facebook

Depresi (sumber: huffingtonpost.com)

Judul postingan ini pun merupakan judul sebuah buku yang ditulis oleh seorang neurologis (dokter spesialis saraf) bernama Suzanne O’Sullivan. Beliau ini sempat ‘bingung’ karena sering didatangi pasien-pasien dengan gejala penyakit saraf macam nyeri punggung bawah, sakit kepala, buta, dan paralisis tapi kok nggak ada kelainan organ yang mendasarinya. Hasil pemeriksaan semuanya normal-normal aja, dari pemeriksaan fisik sampai laboratorium diagnosis canggih macam MRI pun normal-normal aja. Dari sinilah semakin dikenal istilah psikosomatis (re: gejala fisik yang diakibatkan oleh faktor psikis).

Meski tampak ‘abu-abu’, gangguan jiwa bisa dijelaskan dengan mekanisme-mekanisme di otak. Emosi kita di atur oleh bagian otak yang bernama korteks pre-frontal, amigdala, ventral tegmental area, dan striatum (nah lho, pusing deh). Kerja emosi di bagian-bagian itu ‘dimainkan’ oleh neurotransmitter-neurotransmitter unyu yang kita sebut saja serotonin, dopamin, dan adrenergik. Serotonin sama dopamin ini kalau kadarnya cukup bisa bikin kita jadi bahagia ‚̧

functions-of-oxytocin

Emosi dan komposisi kimianya di otak (sumber: consumerhealthdigest.com)

Spektrum penyakit fisik yang disebabkan oleh gangguan psikis itu disebutnya sekarang Somatic Symptoms Disorder, setelah sebelumnya di DSM-IV disebut Gangguan Somatoform. Nah, penyakit somatik atau biasa disebut psikosomatik ini biasanya dialami sama orang-orang dengan kecenderungan cemas atau depresi.

Gejala yang paling sering diakibatkan oleh psikis ya tadi itu, perut perih dan begah, kepala sakit, dan insomnia. Justru kenyataannya, rasa perut ngga enak alias maag alias dispepsia itu paling banyak karena faktor psikis dibandingkan dengan kelainan organik (benar-benar ada kelainan di organ yang mendasari). Saat masa embrio dan pembentukan organ-organ, saraf di otak tersambung dengan saraf enterik (pencernaan) dan hingga lahir pun tetap terhubung dan hal ini bisa menjelaskan mengapa stres bisa menyebabkan gangguan lambung.

Saya sendiri pernah ketemu pasien kasus seperti ini di klinik….

Pasien: Saya udah semingguan ini nggak bisa tidur dok…

Me: Susah mulainya apa susah pertahanin tidur, Pak? Kayak kebangun-kebangun terus gitu. Ada mimpi buruk nggak?

P: Dua-duanya. Dulunya sih enggak. Mimpi nggak aneh-aneh sih…

Me: Sebelum tidur ada yang dipikirin nggak, Pak?

P: *terdiam* iyaa, saya tuh capeeekk kerjaan lagi banyak banget semingguan ini. Saya pusing ini ada deadline, takut nggak kekejar, bla bla bla bla…..

Me: ……………..

Akhirnya pasien tersebut saya berikan terapi anti-depressan (namanya rahasia) untuk membantu mengurangi gejalanya. Guideline saat ini pun menggunakan anti-depresan untuk gejala cemas. But for caution, obat macam ini tidak boleh dibeli sendiri karena efek candunya yang besar, apalagi buat golongan benzodiazepin macam Alprazolam. Banyak orang membeli sendiri Alprazolam dan mengalami kecanduan hingga dosisnya suliiiiiit sekali untuk diturunkan. Diturunkan sedikit, rasa cemas yang dialami langsung kembali lagi, bahkan dalam bentuk lebih parah dibanding sebelumnya (rebound).

Lebih baik memang konsultasi ke psikiater (dokter spesialis kesehatan jiwa). Sayangnya, di negara kita ini stigma penyakit jiwa masih jelek sekali dan orang-orang yang berobat ke psikiater dianggap gila. Biasanya bakal ada komentar…

“Ngapain konsultasi ke psikiater, kayak nggak pernah sholat aja.”

“Sakit jiwa lu ya, pake berobat ke dokter jiwa?”

“Ibadah makanya yang banyak-banyak, biar nggak stres.”

Menurut saya, orang-orang seperti itu jahat. Padahal, kita pun ‘disuruh’ oleh-Nya untuk ikhtiar ketika menghadapi masalah. Datang ke psikiater untuk mengeluarkan segala macam unek-unek adalah salah satu bentuk ikhtiar nyata yang bisa dilakukan bersamaan dengan mendekatkan diri kepada-Nya. Banyak juga orang takut ke dokter jiwa karena nggak mau kecanduan obat. Lha, wong psikiater itu kerjaannya sehari-hari nanganin orang-orang kecanduan narkoba. Tenang, terapi dengan obat itu juga ada guideline-nya dan obat pun bukan satu-satunya terapi. Ada terapi yang lebih penting, yaitu psikoterapi. 

Psikoterapi ini ada banyaaak jenisnya, termasuk di dalamnya Congnitive Behavioural Therapy, terapi relaksasi, dll. Ohya, jangan pernah coba-coba juga pakai narkoba ya. Di dalam tubuh kita ini sebenarnya sudah ada ‘penenang’ alaminya (ec: endorfin) dan dengan menggunakan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) akan mendepak penenang alami kita dan membuat kecanduan terus terus daaan terruuusss…

Selain itu, dosis yang dibutuhkan pun akan semakin meningkat. Untuk merasakan efek seperti saat ini, dibutuhkan dosis yang lebih tinggi lagi, lagi, dan lagi. Saran saya sih, kalau mau kecanduan yang murah ajaa #eh. Jangan kokain, karena kokain itu narkoba paling mahal sedunia. Sekarang itu pecandu malah makin kreatif (?), obat-obatannya ditumbuk sendiri lantas diinjeksikan ke dalam darah. Hadeehh…

Percayalah, kebahagiaan yang ditawarkan oleh NAPZA adalah kebahagiaan yang semu. Merusak tubuh dan hidup sendiri.

Postingan ini sekedar sharing hasil seminar kesehatan jiwa di RS Mayapada Tangerang Hari Sabtu 17 Desember 2016 lalu (udah lama banget yak). Salah satu pembicaranya adalah dr. Andri, SpKJ, FAPM, seorang dokter jiwa yang nge-hits di medsos. Saya kagum sama beliau ini, doi ini sudah ikut fellowship bidang Psychosomatic Medicine. Kalau mau kepoin doi, bisa di twitternya, @mbahndi. Ada juga instagramnya tapi saya nggak tau namanya hehe…

img-20161217-wa0004_1481941518697

Foto sama dr. Andri, SpKJ plus buku beliau 

Pulangnya kita makan Bakso Boedjangan di Rawamangun hahaha XD

img_20161217_190314

Nyam nyam nyam….bakso isi cabe dan mozarella yang rasanya kayak heaven in disguise

Salam sehat jiwa! ūüėÄ

Salemba, 28 Desember 2016

Selamat Menggenap (2)

Alasan saya akhirnya mem-publish draft ini adalah……karena Sabtu besok tanggal 3 November 2016 saya ada kondangan lagi. Kondangan teman SMA saya di Kediri. Iya, di Kediri. Kemungkinan besar itu bakal jadi postingan Selamat Menggenap (3) maka yang bagian kedua ini mesti saya kelarkan. *kretekin tangan*

Momen pernikahan itu sebenarnya biasa karena setiap orang akan mengalaminya, kecuali yang ‘berjodoh’ duluan dengan Izroil. Pernikahan yang saya tulis di blog ini adalah pernikahan-pernikahan yang saya anggap istimewa.

Terutama yang satu ini, et causa….

1. Ini pernikahannya teman SD saya Dita, yang 15 tahun lebih nggak ketemu bertatap muka (dulu sahabat deket)

2. Konsepnya ‘sesuatu’ banget

 

Sayang undangannya hilang entah kemana, di undangannya itu tertulis adab-adab walimahan (yang kebetulan pernah saya pelajari di pelajaran fikih saat SMA). Ya ampun, Rif, giliran bab nikah aja inget wkwk….

Di undangan itu, tertulis adab walimah:

  1. Menghadiri undangan
  2. Duduk saat makan
  3. Tempat laki-laki dan perempuan dipisah
  4. Turut memberi makan fakir miskin
  5. dll (lupa)

 

Intinya begitu. Pikir saya, ini kayaknya pre-caution buat yang diundang deh biar pada tahu kalau nanti tamu cowok dan cewek bakal dipisah. Apalagi, pernikahan macam ini jaraaaaaang banget ditemuin di ibu kota. Dan jelas, yang dateng cuma sama pasangannya pasti bakal mati kutu dan awkward makan sendirian. Heuheuheu….

Dan…..saya yang dateng nggak sama pasangan tetiba jadi merasa nggak sendirian hahahahaha *evil smile*

Saya datang sama Dina, temen SD juga (kebetulan yang diundang cuma kita berdua). Si Dina dateng sama cowoknya, Bhov (yang untungnya temen SD saya juga). Saya jadi Baygon bakar aja gitu di jok mobil belakang, udah gitu tiba-tiba masuk line dari seorang teman yang nggak tahu diri.

screenshot_2016-11-05-18-57-26_jp-naver-line-android_1480332333192

 

Kalau saja teman jomblo saya satu ini adalah sejenis kutu, maka pasti besoknya dia udah jadi gepeng di atas kuku jari saya (re: saya pites). Eh tapi jangan ding, nanti teman saya buat internship ke luar Pulau Jawa jadi berkurang -_-”

Inilah tempat walimahan teman SD saya itu, dengan hiasan tanaman-tanaman yang dijadikan sebagai hijab pemisah tamu cowok dan cewek….

img_20161105_194004

 

Di sini, tamu cewek hanya menyalami pengantin wanita dan tamu cowok hanya menyalami pengantin pria. Kaciaan, si Bhov jadi sendirian di tempat cowok wkwk….

Dan juga sesuai dengan poin di atas, disediakan banyak kursi untuk para tamu makan. Hal inilah yang nggak pernah ditemui pada resepsi di gedung karena pasti makannya berdiri. Btw, ini venue-nya di aula Buya Hamka Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru. Buat yang berniat ngadain resepsi di sana, hmm kira-kira bisa nampung 400 undangan (estimasi masing-masing bawa pasangan) #fyi. Lumayan, masjidnya bisa dipakai buat akad juga.

Selfie sama Dita plus behind the scene-nya.

 

Saya nggak nyangka ternyata Dita masih ngenalin saya meski udah 15 tahun nggak ketemu. Lebih lama dari pisahnya Rangga sama Cinta coba ckckck (apaan sih). Tambah cantik dan sholihah aja teman saya satu ini ‚̧ ‚̧ ‚̧  Dulu saya keseeel banget waktu dia pindah sekolah pas kelas 3 SD. Pokoknya saya sebel. Saya sedih.

 

1478358230406

Saya-Bhov-Dina

 

Untung mereka selow aja direcokin sama saya hahahahahaa…..

Omong-omong, waktu datang ke nikahannya teman saya ini, saya jadi sadar kalau ternyata motivasi nikah saya masih cetek banget.

I just longed for being a magnificence bride with someone I love beside me walking down together along the aisle. As simply as that. 

Motivasi saya lebih ke wedding day, bukan ke marriage-nya. Receh banget emang. Bukan, bukan saya nggak tahu makna sebenarnya pernikahan. Justru semakin tahu tentang hal ini, semakin saya galau soal menggenapkan setengah agama ini.

Siapakah laki-laki sial nan nggak beruntung itu, yang akan mendapatkan saya sebagai istrinya nanti?

Mampukah saya menjadi istri yang benar-benar menjadikan ridho suaminya menjadi prioritasnya?

Hidup macam apakah pernikahan itu hingga saya rela menukar hidup saya yang sempurna ini dengannya?

 

Ditambah, bapak saya sering dikonsultasiin orang-orang soal masalah pernikahannya jadinya saya tahu beragam konflik-konflik pernikahan. Ada pula yang sampe berantem di rumah saya tapi sayangnya saya nggak nonton langsung. Dulu, saat saya belum kelar dengan diri saya sendiri, saya semakin menjauhi bahasan tentang marriage. Saya muak dengan pernyataan orang-orang, “Aku capek belajar, capek kayak gini terus, aku mau nikah aja.”

Padahal, menikah itu kan justru disaat kita sudah lunas dengan diri sendiri. Maksud lunas di sini yaitu sudah khatam memahami diri sendiri dan menerima diri kita sendiri plus hidup kita apa adanya dan seutuhnya. Satu hal yang saya percayai dari dulu adalah….

Menikah itu tempatnya berbagi kebahagiaan, BUKAN MENCARI kebahagiaan.

Kalau menikah dengan tujuan mencari kebahagiaan, nanti jadinya kayak Dementor. Jadinya ‘menyerap’ kebahagiaan pasangan alias minta dibahagiakan terus-terusan. Akhirnya? Pasangan kita jadinya capek. Kasian. Yang ada nanti drama mulu, minta diperhatiin melulu, posesif berlebihan, dsb.

Kalau sebelum menikah udah sama-sama bahagia, jadinya kan saling berbagi kebahagiaan ‚̧ ‚̧ ‚̧

Ibarat mengatakan, “Ini loh duniaku, mana sini ajak aku ke dunia kamu juga…..”

Kalau dunia diri sendiri udah menarik dan menyenangkan, pasti orang lain juga tertarik buat memasukinya. Bukan dunia yang gloomy dan spooky. 

Semakin kita membenci diri sendiri dan hidup yang dijalani, maka jauh-jauhlah dari yang namanya ide tentang pernikahan. Apalagi kalau motivasinya buat pelarian dari seseorang atau sesuatu. Yang ada nantinya malah jadi tambah sengsara. Keliatan sok tahu ya, berhubung saya belum pernah menjalin relationship sama sekali. Tapi itu hasil saya belajar dari pengalaman orang-orang dan keluarga saya sendiri.

Hoho yasudlah, doakan saya semoga bisa bertemu dan bersama dengan significant other saya di saat yang tepat ya hehehe. Saya doakan kamu-kamu juga kok :p

 

Hippocratic Oath

dscf1195

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.

Saya akan menjalankan tugas dengan cara yang terhormat dan bersusila sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter.

Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur profesi kedokteran.

Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena keprofesian saya.

Saya tidak akan menggunakan pengetahuan saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam.

Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai saat pembuahan.

Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien, dengan memperhatikan kepentingan masyarakat.

Saya akan berikhtiar dengan sungguh-­sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, gender, politik, kedudukan sosial dan jenis penyakit dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien.

Saya akan memberi kepada guru­-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya.

Saya akan perlakukan teman sejawat saya seperti saudara kandung.

Saya akan mentaati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia.

Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh­-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.

Tanggal 9 November 2016, saya (di)sumpah(in). Saya takut sebenarnya baca lafal sumpah dokter a.k.a Hippocratic Oath ini karena amanahnya yang luar biasa besar. Sengaja dimasukin sini demi jadi pengingat kalau saya nanti mulai ngaco.

Actually,¬†saya bukanlah orang yang¬†fetish¬†dengan prosesi wisuda dan semacamnya. Tapiii ternyata buat yang satu ini bisa dibilang ‘sesuatu’ karena perjuangan yang berdarah-darah untuk mencapainya.¬†Well,¬†I mean berdarah-darah dalam arti sesungguhnya¬†.¬†

Dulu saya pernah mengutuk hidup saya sendiri kenapa kok bisa-bisanya terjebak di dunia kayak begini. Banyak paradoksnya, banyak tekanannya, banyak risikonya. Tapi ternyata memang semua akan indah pada waktunya, seperti rasa indah yang terasa sekarang. Meski di depan masih baaaaanyak tantangan dan justru perjuangan baru dimulai saat ini.

*lap air mata*

Dear¬†dedek-dedek SMA gemes nan unyu, plis jangan masuk pendidikan dokter kalau tujuanmu…

  1. Jadi kaya
  2. Image
  3. Gampang jodoh

Jadi dokter nggak akan membuatmu kaya, tapi¬†insyaAllah¬†cukup.¬†Jangan pula ngarep¬†image¬†karena dokter itu udah¬†overrated¬†banget. Apalagi jodoh, lah justru anak FK itu cenderung pada telat kawin dan sehari-harinya ya ketemunya sama orang-orang medis aja hehehehe….

Oke, ini serius.

Ah, rasanya plong banget, masa-masa krusial saya akhirnya terlewati :”

Mengingat dulu pernah nangis-nangis depresi nggak jelas, rasanya nggak nyangka bisa tuntas sampai sini. Jelas saya bisa sampai sini bukan semata-mata atas usaha saya sendiri. Ada Dia yang senantiasa mempermudah jalan saya, ada orangtua yang entah-saya-nggak-tahu mesti bagaimana lagi menghaturkan rasa terima kasih. Perjuangan yang tak akan pernah bisa saya balas sampai kapanpun….

 

1478693031128

Mereka berdua ini, Bang Saddam dan Nurul adalah temen koas saya sehidup semati alias temen kelompok koas dari awal sampai akhir. Kurang satu orang sebenarnya, Kak Is, yang sayangnya nggak bisa ikut wisuda gelombang ini karena suatu hal. Bisa dibilang, mereka ini yang paling khatam sama cerobohnya saya, kebodohan-kebodohan saya, cacat-cacatnya saya, ke-random-an saya, dan juga rasa kopi susu buatan saya :p :p :p dari yang awalnya berantem melulu sampe yang……ya udahlah yaaaa sabodo teuing¬†karena udah paham sifat masing-masing. Kangen jalan-jalan berempat sama kalian ūüė¶

 

DSCF1090.JPG

Kelompok belajar bareng pas UKMPPD. Aku tanpa kalian butiran debu…

Sendy berasa raja yang dikelilingi para selirnya yah hahaha…jangan sombong-sombong ya nanti, katanya pada mau nobar Hacksaw Ridge :”

 

Makasih buat kartu ucapan sama bunga mawar pinknya yaa Arum dan Retnoo, sukses skripsinya, sukses koas, sukses segala-galanya :* ūüôā

 

 

Yang satu ini spesial banget deh. Dateng jauh-jauh nyebrang pulau dari Lampung ke Jakarta buat dateng ke wisudaanku. Kartu ucapanmu sesuatu banget loh bebs. Aamiin, semoga kita tetap jadi¬†bestfriend¬†sampai di surga sana seperti doamu. Makasih buat kopi luwaknya, buat gambarnya, buat selalu jadi pendengar yang baik, buat semua-muanya. Semoga impianmu ke depan lancar dan si ‘dia’ benar-benar jadi akhir pencarianmu ya :’) aamiin….

Ada 6 orang lagi yang saya harapkan hadir di acara sumpah ini, tapi sayangnya kita bertujuh lagi pada LDR dan hanya bisa ketemuan nanti pas semuanya udah di Jakarta. Heiii Cila, Bonbon, Kemi, Pucuk, Mbah Ranti, Tante Dini, plis jaga diri kalian baik-baik ya di sana, terutama Dini tanteku sayang yang sekarang lagi mengandung keponakan kita

 

IMG-20161109-WA0005.jpg

Temen magang tertjintah

Oknum N ini bakal jadi¬†partner in crime¬†hingga dua bulan ke depan. Dia ngajakin internship di Aceh dan saya mauuu bangeeet ūüėÄ biar bisa puas makan nasi goreng Aceh sama Kopi Sanger yang bikin saya jatuh cinta setengah mati itu.

Duh, Gusti, maafkan motivasi hamba-Mu yang cetek ini…….

IMG-20161109-WA0011.jpg

Ini fotonya¬†fail¬†banget sebenarnya, tapi berhubung foto bagusnya masih ada di fotografer wisuda, jadinya pakai yang ini aja. Alhamdulillah bawa oleh-oleh satu piagam penghargaan buat nilai CBT UKMPPD tertinggi yang entah bagaimana bisa saya dapatkan itu.¬†Selamat juga buat Oksa sebagai peraih IPK kumulatif tertinggi dan Sisy buat penghargaan nilai OSCE tertingginya ūüôā ūüôā ūüôā

IMG-20161109-WA0001.jpg

Me, diantara wajah-wajah para dokter baru angkatan 48

Dan terakhir, alasan terbesar saya untuk tetap berjuang adalah dua pahlawan saya ini.¬†I present this all for you….

IMG_20161109_092947.jpg

Sambil minum kopi hitam

Bekasi, 10 November 2016

Semantik

Dengarkanlah, kalau tidak, lidahmu akan membuatmu tuli. -Pepatah

Hari Selasa kemarin, saya berangkat pagi-pagi banget dan dapat bus Transjak yang penuh. Saya pun nyempil-nyempil ke tengah dan pas banget berdiri dekat bapak-bapak yang menatap saya dengan tatapan jutek. Bapak ini kenapa ngeliatinnya gitu banget sih? -batin saya.

Beberapa detik¬†kemudian, bapak tadi bergeser ke kiri dan bilang, “Sini, Mbak…” sambil tangannya memberi kode kepada saya untuk memegang¬†handle grip¬†di sebelahnya.

Ya ampuun Pak, maaf saya sudah berprasangka buruk ūüė¶

Bukan sekali itu aja, beberapa kali saya salah mengartikan maksud seseorang yang sebenarnya baik. Kendala semantik adalah sesuatu yang umum terjadi dalam komunikasi personal maupun massa, yang bisa bikin orang jadi salah paham dan ribut berkepanjangan. Kendala semantik jelas besar bila bahasa yang digunakan oleh pemberi dan penerima informasi berbeda. Contoh, orang sunda ngobrol sama orang makassar dengan bahasanya masing-masing. Tapi, kendala semantik juga bisa terjadi meski satu sama lain telah menggunakan bahasa yang sama. Apalagi kalau pakai kode-kodean -_-

Akar masalahnya sebenarnya hanya satu, yaitu mendengar.

Dulu saya pikir, mendengarkan adalah hal sepele. Sekarang saya sadar kalau mendengar adalah sebuah skill yang hanya bisa dilakukan dengan baik jika sering latihan. Telinga memang ada dua, tapi seringnya mulut yang lebih sering dipakai meski kita cuma punya satu.

Beberapa hari lalu saat saya sedang wawancara seorang ahli terapi wicara di Poli Rehab Medik Bagian Anak, datang seorang bapak-bapak paruh baya. Beliau langsung masuk ke poli tanpa mengetuk pintu lantas memanggil perawat yang ada di situ dengan nada tinggi, protes karena merasa sudah janjian dengan terapisnya tapi kenapa nggak dilayani. Intinya, merasa di PHP-in karena sudah bolak-balik RS dan nggak ada kejelasan.

Perawatnya juga bingung, karena di catatannya, nama anak bapak ini nggak ada (yang berobat anaknya, btw). Daaaaann segera sajaa itu ruang poli dipenuhi kata-kata kasar plus keluar nama penghuni kebun binatang dari mulut si bapak itu. Padahal di situ banyak pasien lain (yang tentu saja anak-anak). Rusuhlah itu satu lantai karena si bapak, sampai dua satpam dipanggil ke dalam. Saya sama nima cuma bisa tatap-tatapan ngeliat si bapak adu mulut sama perawat.

Dan parahnya, anak kecil yang lagi terapi di situ jadi ikut-ikutan niruin kata-katanya bapak itu. Aduh, Dek….. *tepuk jidat*

Bapak itu nggak salah sebenarnya, beliau pasti capek bolak-balik RS dan anaknya juga butuh terapi. Wajar kalau marah. Perawat poli juga nggak ngerti karena memang nama anaknya bapak itu nggak ada di catatan poli. Terakhir yang saya tahu, itu inti masalahnya karena ada miskom.

Begitulah rumah sakit, tempatnya orang stres. Pasiennya stres karena sakit, dokter sama perawatnya pun stres karena lelah ngurusin orang sakit dari pagi. Modaaarr sudaaah heu heu….

Kalau dibicarakan dengan baik-baik dan kedua pihak mau saling mendengarkan, mungkin skenarionya bakal jadi beda.

Well,¬†sebenarnya hal pertama yang mesti dipegang sebelum berinteraksi sama orang lain adalah…

14-36-34-cwpsvjwweaejn-n

 

Yang diperlukan pertama kali adalah empati, bahwa tiap orang punya hal-hal yang dicintai, punya ketakutan-ketakutan, punya mimpinya sendiri, dan pasti pernah kehilangan (entah apapun).¬†Apapun yang dilakuin orang pasti berlandaskan hal-hal tersebut. Selain itu, perlu sekali untuk mengosongkan pikiran dan perasaan yang bisa membuat penilaian kita terhadap orang tersebut jadi tidak objektif. ¬†Lalu, dengarlah¬†orang tersebut¬†secara utuh, secara keseluruhan seperti grafik yang dibuat oleh Sean Covey di Buku The 7 Habits of Highly Effective Teens ini…

mendengarkan

(sumber: slideshare.net)

Bahasa tubuh justru yang paling butuh untuk ‘didengarkan’, karena ini memang nggak pernah bohong dan sulit untuk dimanipulasi. Setelah mendengarkan, barulah bicara kemudian. Hal kayak gini memang nggak mudah dan mesti dilatih. Jelas butuh tingkat kedewasaan yang tinggi untuk¬†bisa memahami sisi orang lain terlebih dahulu tanpa men-judge¬†nya dengan standar hidup kita sendiri. Tapi percayalah, didengarkan adalah kebutuhan semua orang. Tanpa melihat umur, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial, dan lain-lain. ūüôā ūüôā ūüôā

Juga, jangan  cepat menuduh orang cuma dari ekspresi aja, kayak yang saya lakukan tadi :p

Dulu saya juga pernah kesel sama perawat yang cara ngomongnya nyebelin banget dan ekspresinya nggak bersahabat. Tapi di akhir jam jaga klinik, saya menemukan ini di amplop¬†fee¬†yang dia kasih ke saya…

img_20160922_222641

Oke, saya sadar, berarti emang udah template wajah sama cara ngomongnya dia kayak gitu. Pasti ada kan, temen kalian yang tingkahnya nyebelin tapi ya emang dia dari sononya kayak begitu. Ada yang ngomongnya kayak nggak punya filter tapi menurut dia itu biasa aja. Dan hal seperti ini biasanya karena memang di keluarganya sudah biasa begitu. Faktor budaya juga berperan penting (banget).

Ohya masalah muka juga, saya sendiri pun sebenarnya sering disalahpahami sama orang-orang -__- *nyempil curhat*

Misalnya,

C : Fa, aku dulu pertama kenal kamu sebel banget tau. Mukamu judes banget…

Me : Haa?

 

Atau ini, (ps: ini terjadi pas saya lagi diem, nggak lagi ngapa-ngapain)

A : Rif, kamu nggak kenapa-napa kan? Kok sedih gitu mukanya?

Me : ……..

 

Juga,

N : Ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu? Nggak ngenakin tauk….

Me : Bodoo amaaattt….

 

Ini orang-orang pada kenapa sih? Salah muka apa ya, orang nggak ada maksud apa-apa bzzz….

11-06-34-bb44fd85cd5eee9ee44e74cef0fde46e

Maybe this just my chronic bitchface heuumm….

 

Home Sweet Home, 2 November 2016

Cado-Cado: Antara Novel, Film, dan Kenyataan

Overall, saya kecewa sama film-nya. Tapi emang sih, yang namanya film pasti dibikin nggak sama persis sama novelnya. Tapi selain beda sama novelnya, film-nya juga banyak yang nggak sesuai dengan kenyataannya.

 

poster-catatan-dokter-dodol

 

Sebelumnya saya juga abis nonton Inferno (yang juga banyak beda sama novelnya). Kalau Inferno, ending-nya beda 180 derajat sama filmnya. Wajar sih, karena kalau ngikutin novelnya nanti ending-nya jadi kurang klimaks.

Balik lagi ke Cado Cado. Bukunya sendiri saya baca waktu kuliah semester 3 kalau nggak salah dan ituuu bukunya bikin ngakak parah hahahaa. Ini bukunya tentang pengalaman koasnya dr. Ferdiriva Hamzah (dr. Riva), beliau sekarang udah spesialis mata. Kalau novelnya lebih banyak lucunya, ini filmnya lebih banyakan……….dramanya -_-

 

Ini dia hal-hal yang kerasa aneh di filmnya dibandingkan dengan kenyataannya….

1. Hierarki dan setting

Di film ini, para koas ngintilin seorang profesor yang punya jabatan tinggi di sebuah rumah sakit besar dan ELIT. Sebagaimana tatanan masyarakat, dunia kedokteran pun punya hierarki. Di rumah sakit dengan tingkat seperti di film itu, hampir TIDAK MUNGKIN seorang koas bisa diajar langsung sama profesor atau spesialis yang sudah level konsulen. Apalagi di film Cado Cado, itu profesornya pegang jabatan tinggi di RS. Dokter-dokter yang macam gitu itu udah pasti sibuuuuk banget dan boro-boro sempet ngajar koas.

Kenyataannya, di rumah sakit tingkat I (paling atas) koas itu ngikutin residen (re: dokter umum yang lagi ambil pendidikan spesialis). Residen itu asistennya dokter spesialis, btw. Makanya, asal nama koas itu ko-assisstant alias asistennya asisten. Kalau ronde pasien bareng konsulen pun pasti ada residennya. Akses ke konsulen pun cuma bisa lewat sekretarisnya atau bagian administrasi departemen, dan cuma bisa ketemu konsulen tersebut sesekali aja.

Kecualiii nih kalau koasnya di rumah sakit tingkat III atau IV, nah di sini kita langsung ngikutin dokter spesialisnya. Enaknya koas di RS tingkat RSUD, kasus dokter umum lebih banyak dan bisa bebas komunikasi sama dokter spesialis pengajar koas. Mau konsul pasien atau¬†whatsapp-an sama beliau-beliau bebaaass….

 

2. Mereka ini lagi stase apa sih??

Di suatu¬†scene,¬†tampak konsulen dan para koas lagi bahas kasus¬†multiple sclerosis.¬†Wajar kalau saya mikir “Oh lagi stase saraf ya ceritanya…”

Trus di¬†scene¬†berikutnya…

Loh kok bahas CAD (Coronary Artery Disease)? Stase Ilmu Penyakit Dalam kali yah…

Eh tapi kok ada masuk ruang OK-nya??¬†(re: ruang operasi)¬†Stase bedah dong…..

Mungkin ceritanya ini udah beda stase kali yahh…eh tapi kok profesor pengajarnya sama aja dari awal sampai akhir??

Ah, tau ahh hahahahaa….

 

3. Drama overload

Ini lebih kerasa kayak film drama percintaan anak kedokteran di banding catatan dodol calon dokter -_-

Di cerita aslinya sih itu si dr. Riva emang beneran cuma sahabatan aja sama temannya, dr. Evi. Di sini dibikin jadi ada hubungan asmara dan ada adegan ciuman dr. Riva dengan teman koas yang lain *spoiler

Jadi aneh. Ya udahlah itu jadi¬†bumbu tambahan dari pembuat film-nya aja. Meskipun emang hal-hal percintaan umum terjadi di dunia koas heu heu heu….

 

4. Rasa bersalah 

Di sini konflik utamanya adalah si dr. Riva yang galau karena melihat pasiennya meninggal di depan matanya dan menyalahkan pacarnya karena pacarnya (koas anak pemegang saham rumah sakit) menyarankan orangtua pasien untuk segera menandatangani surat persetujuan operasi anaknya dan akhirnya anaknya meninggal di meja operasi.

Plis deh, kenapa jadi ceweknya yang disalahin? -_-

Meski saya emang kesel banget sama karakter ceweknya di film (yang pato banget itu). Ohya, di dunia perkoasan itu ada istilah koas patologis alias koas pato. Intinya mereka adalah koas yang ngeselin banget dan suka nyusahin temen-temennya, bisa karena terlalu malas sehingga teman-teman sekelompoknya yang nanggung akibatnya atau terlalu rajin sampai nyari muka di depan konsulen.

Balik lagi, jadi kenapa gitu mesti ceweknya yang disalahin seakan-akan pasien meninggal karena ceweknya itu?

Kenyataannya adalah, keputusan dilakukannya operasi atau tidak adalah wewenang dokter bedah penanggungjawab dan dokter spesialis anestesi. Selama dua dokter ini mengatakan bahwa pasien tidak layak dilakukan operasi, maka operasi tidak akan dilakukan. Pasien di film meninggal karena memang ada kelainan jantung juga sehingga tiba-tiba jadi bradikardi (nadi rendah) saat operasi berjalan dan hal tentang risiko ini sudah diinformasikan kepada keluarga pasien dan keluarga pasien tersebut sudah menyetujuinya. Hal tersebut termasuk ke dalam risiko medis.

Di film, dr. Riva merasa bersalah yang teramat sangat karena merasa telah membunuh pasiennya, padahal bukan dia operator utama saat operasi. Sebagai koas yang masih awal, hal ini bisa dibilang wajar sih, timbul rasa sedih yang teramat sangat saat melihat pasien meninggal di depan mata.

Satu hal penting yang saya dapati dan mengerti saat koas adalah…

“Seorang dokter itu hatinya mesti punya dua sisi, satu sisi empati dan lembut untuk digunakan saat berinteraksi dengan pasien, dan satu sisi lainnya¬†adalah sisi baja ¬†yang digunakan¬†untuk¬†menjalani pendidikan dengan tekanan yang berat dan untuk mengikhlaskan pasiennya tidak tertolong¬†meski telah berupaya dengan maksimal.”

 

Jadi dokter nggak boleh cemen, nggak boleh baperan. 

Di suatu siang, saya pernah wawancara seorang gadis muda dengan hipertiroid yang kelihatan masih segar bugar dan besok paginya tempat tidurnya sudah kosong.

“Pasien Nona X kemana mbak? Pindah bangsal, ya?” Tanya saya ke perawat pagi.

“Semalam meninggal, Dok. Tiba-tiba takikardi terus asistol.”

Saya cuma bengong.

Pernah juga, waktu di recovery room, stase anestesi. Dua bocah masih terlelap efek obat bius setelah penatalaksanaan luka paska kecelakaan. Ternyata, kedua orangtuanya meninggal akibat kecelakaan itu padahal mereka berempat sedang dalam perjalanan ke puncak untuk merayakan ultah si anak yang tertua (si kakak). Airmata saya merembes deras, nggak bisa ngebayangin saat mereka bangun dan sadar orangtuanya udah nggak ada. Untuk yang satu ini, saya nggak bisa nahan.

Kalau semua keadaan pasien ikut dibawa ke hati, jadi dokter bakal stres. Kalau kalian melihat dokter yang kelihatan biasa aja saat pasiennya meninggal, itu bukan karena kejam, tapi karena udah banyak peristiwa kematian yang hadir di depan matanya, jadi hatinya udah kebiasa.

Film ini juga mengingatkan saya untuk tetap lurus di jalan saya di profesi ini. Dan memang, kebahagiaan terbesar yang dirasakan oleh dokter adalah saat pasiennya senang dan sembuh. Diucapkan terima kasih dengan tulus dari pasien. Itu sungguh nggak ternilai harganya. Nggak ada duanya. Adeeeem banget di hati :’)

Hmm 6¬†out of 10¬†deh buat film ini hehehehe….

 

Lagi baper, kangen masa-masa koas yang indah dikenang tapi tidak untuk diulang.

Rumah, 29 Oktober 2016

 

 

Menikmati Debar Quarter Life Crisis

Minggu pagi emang enak banget buat bermalas-malasan kontemplasi. Apalagi sambil minum kopi ‚̧ Ide tentang ini sebenarnya sudah pop up di kepala entah dari kapan, tapi sayanya baru ada ‘kekuatan’ buat ngetik. Maklum, tiap abis pulang dari RSCM langsung tepar….plus badan panas naik turun dan perut cranky nggak jelas. Jangan tipes Ya Allaahhh….jangaaaan -_-

Kok malah curhat >.<

Btw, istilah quarter life crisis ini nggak asing (banget) dan memang akrab sama kita di kehidupan. Hampir semua orang berusia 25-an tahun mengalaminya meski tidak tahu istilah ini. Mengapa 25 tahun? Hehe namanya aja krisis seperempat baya, jadi krisis ini dialami oleh orang-orang yang umurnya seperempat baya atau di sekitar itu. Umur 25 pun dikatakan umur dimana seseorang sudah disebut dewasa sehingga wajar kalau menderita mengalami krisis ini.

Lah, saya belum disebut dewasa dong? ._.”a

screenshot_2016-09-19-19-37-15_com-android-browser_1477137418886

Hahahahaha saya seneng nemu itu di Quora. Bukan, bukan seneng sama penderitaan orang lain. Saya senang karena tahu ternyata nggak hanya saya yang takut sama kemungkinan-kemungkinan hidup. Orang-orang yang sedang berada di zona quarter life crisis hidupnya lagi intens-intensnya dibayangi ketakutan-ketakutan tentang hidup.

Abis lulus mau ngapain?

Duh, orang-orang udah pada nikah nih. Gue kapan ya?

Pingin kerja di situ, tapi idealisme menolak….

Pingin kerja di swasta, tapi kok kayaknya lebih safe jadi PNS aja ya…

Ke depannya gimana ya? Gimana aku bisa ngejalanin hidup yang keliatannya kok keras banget?

#eaaa dan pertanyaan-pertanyaan (galau) lainnya. Saya malah telat nyadar kalau saya bukan anak kecil lagi, sejak datang ke kondangan kawinan dan melihat foto test pack dengan dua garis merah milik teman saya di grup.

Ya ampuuun, aku udah gede yah hahahaa… 

Buat orang yang punya gangguan cemas pasti tekanannya lebih besar lagi. Kalau saya sendiri merasakan masa-masa galau semacam gitu justru dua tahun lalu, pas awal-awal masuk koas, yang membuat saya sampai depresi sedang (niat banget disesuain di buku kriteria diagnosis gangguan jiwa). Untung nggak sampai ada gejala psikotik (halusinasi, waham), kalau sampai ada keadaan saya jadi benar-benar terdefinisi sebagai gangguan jiwa waktu itu :”

Yah gimana, masuk lingkungan baru, pisah sama teman-teman yang selama ini bareng-bareng. Ditambah rasa takut sama situasi pas koas nanti, takut beginilah, takut begitulah dan rasa takut lain-lainnya yang sebenarnya receh banget kalau diingat sekarang. Kok bisa ya dulu aku setakut itu? Hal-hal yang dulu ditakutkan ternyata ya biasa aja saat sudah dijalani.

Buat anak-anak Generasi Y (kelahiran akhir 1970-an sampai pertengahan 1990) justru krisis seperempat abadnya lebih besaaar lagi pun tantangannya juga lebih besar. Alasannya saya temukan di artikelnya Tim Urban tentang mengapa generasi Y tidak bahagia. Alasannya benar-benar menampar, dan akan saya sarikan di sini plus ditambah pemikiran saya sendiri.

Semua orang sudah tahu, kalau rumus bahagia adalah….

screenshot_2016-10-02-11-54-01_com-android-browser_1477137442947

Bila realita yang terjadi lebih besar dibanding ekspektasi, maka hasilnya menjadi (+) dan hasil akhirnya kita jadi bahagia. Bila ekspektasi lebih besar dibanding realita yang terjadi, maka hasil akhir kebahagiaan kita akan menjadi (-) alias minus. Anak-anak generasi Y itu rata-rata…

  1. Berekspektasi tinggi
  2. Merasa dirinya begitu hebat
  3. Hidup dalam pencitraan media sosial

Kita (termasuk saya) hidup di masa dimana masing-masing dimotivasi oleh orangtua-orangtua kita untuk menjadi lebih hebat dari mereka. Orangtua-orangtua kita memang hebat, hidup di masa dimana hampir semua orang kala itu (saat mereka kecil) sedang dalam keadaan sulit. Kalau keadaan Indonesia, saat itu sedang masanya orde baru yang hampir semua rakyat punya keadaan yang sama. Hidupnya susah, tapi ya rata-rata emang hampir semuanya kayak gitu. Jadinya merasa biasa aja dan orangtua-orangtua kita hidup dengan syarat hidup yang tidak banyak. Populasi manusia belum banyak, lapangan pekerjaan masih terbuka luaaaass banget. Mereka nggak berekspektasi banyak dan realita yang mereka dapatkan jauh lebih banyak melampaui ekspektasinya. Hasil akhirnya, mereka bahagia.

Generasi Y ini, hidup di masa dimana kesejahteraan mulai menanjak. Melihat orangtua yang sukses, kita termotivasi menjadi lebih sukses. Paradoksnya, lapangan kerja makin sedikit. Orang-orang hebat makin banyak, persaingan makin ketat. Sumber daya alam makin terkikis dan bumi mulai memasuki era anthropocene. Ekspektasinya besar tapi realitas tak seberapa. Apalagi kalau ekspektasi terhadap diri sendiri sangat besaaar, padahal pun masing-masing kita sama aja, seberapa banyak prestasi-prestasi di masa kuliah, pada akhirnya lulus sebagai remah rempeyek di antara remah-remah rempeyek lainnya yang dikumpulkan dalam satu toples. Hehehee…kok terdengar kejam yah…

Di tambah lagi, masanya medsos-medsos everywhere ini bikin orang jadi suka sawang sinawang.

Ih, kok dia bahagia banget sih hidupnya…

Enak ya jadi dia, udah begini udah begitu…

Terus akhirnya lupa merawat rumputnya sendiri biar lebih hijau…..

Padahal kenyataannya semua orang sama insecure-nya, sama ragu-nya, sama galaunya. Hanya mereka pilih mana-mana saja yang mau mereka share di medsos. Kalau kamu merasa hidupmu mulai nggak beres, mungkin kamu kebanyakan aktif di medsos dibanding di dunia nyata :p

Sharing kebahagiaan juga mesti hati-hati. Semua orang di fase ini sedang berjuang (dalam hal karir, relationship, dll), jangan sampai kebahagiaanmu bikin orang jadi timbul penyakit hatinya (sedih, nggak bersyukur, iri, dengki, dsb). Hehe kalau saya cuma numpahin unek-unek di blog ini aja karena di sini nggak ada teman-teman dunia nyata saya (kecuali Kiyong).

Setiap orang dan keadaan pasti berubah. Sudut pandang kita sendiri pun bisa berubah hanya dalam hitungan hari. Postingan blog satu-dua tahun lalu aja bisa nggak relevan lagi dengan keadaan sekarang. Rasa takut juga nggak akan abadi. Rasa takut sama masa depan itu ujung-ujungnya cuma menghasilkan dua hal:

  1. Jadi nggak menikmati masa kini
  2. Masa depan jadi beneran hancur

Kalau fokus dan maksimal sama masa kini, nggak akan ada waktu buat sempat-sempatnya ngerasain takut dan akhirnya masa depan juga jadi ikutan baik. Jangan sampai pas udah di masa depan malah menyesal, dulu gue ngapain aja ya?

Hidup itu emang seni sih, seni ketawa di segala situasi. Seni memfleksibelkan diri di keadaan apapun. Seni menebalkan kuping dari ocehan-ocehan orang yang nggak bermanfaat dan bikin down. Seni memilah-milah mana kebutuhan dan mana keinginan. Kalau dinikmati insyaAllah nggak bakal jadi stres *sedikit pengalaman pribadi

Yah saya mah apa, masih piyik kalau bicara soal pengalaman. Apalah masalah hidup saya, receh banget kalau dibandingin sama masalah hidup orang lain. Pasien-pasien yang kehilangan anggota tubuh dan panca indera aja masih pada semangat, masa saya enggak. Maluu ūüė¶

InsyaAllah, all of these shall pass…

Asal hubungan kita sama Tuhan dan sesama manusia baik, akan selalu ada aja kemudahan-kemudahan. Perbuatan baik itu bisa mengubah takdir, kalau kata orang-orang bijak. Dan juga ingat ini….

picsart_10-22-07-25-21

Nggak ada sukses yang instan. Kalaupun ada, usia kesuksesannya pasti nggak akan lama. Kalau buat dokter, mesti belajar seumur hidup dan siap menghadapi kejutan-kejutan yang nggak terduga. Bos saya sekarang ini pernah diacungi parang dan rumahnya mau dibakar hanya karena meminta pasiennya untuk datang besok saja karena ia sudah sangat lelah *merinding. Kalau melanjutkan pendidikan dokter spesialis, musti siap bertahun-tahun bolak-balik RS, dimaki-maki konsulen, dirobek kertas kasusnya di depan mata, dipermalukan di depan pasien, dsb-dsb. But these worth the fight. 

“Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. -Imam Syafii

Buat siapapun yang sedang berjuang, sini saya beri pelukan ūüôā ūüôā ‚̧

12-56-08-images

*ps: pelukannya nggak berlaku buat pembaca yang cowok wkwk

Home sweet home, 23 Oktober 2016

Previous Older Entries