Sembuh.

Dear Cil,

Kamu tahu, mengapa sakit fisik bisa muncul meski penyebab sakitnya tidak sungguh-sungguh ada di dalam sel-sel tubuh?

Asalnya dari dalam pikiranmu, yang lalu turun ke hati kemudian menyebar dan menggerogoti tubuhmu perlahan.

Dulu aku pikir, orang paling kuat di dunia adalah mereka yang tidak pernah menangis. Aku pikir, orang-orang yang tidak pernah hilang senyumnya adalah orang yang paling bahagia.

Aku salah besar, Cil.

Orang-orang yang kuat itu, justru mereka yang berani menunjukkan air matanya kepada dunia lantas menyusun kembali puing-puing harapannya untuk kemudian menjadi kuat kembali. Orang-orang yang pesakitan, adalah orang-orang yang menumpuk beban perasaannya hingga tanpa ia sadari sudah bergeser jauh ke palung hatinya. Terpendam begitu lama hingga sulit untuk mengangkatnya lagi ke permukaan hingga hatinya tercemar.

Cil, aku pernah begitu bodohnya merasa sebagai orang yang kuat meski kenyataannya aku hanya berpura-pura menjadi orang kuat. Mulutku begitu terkunci untuk menumpahkan resah hanya agar aku tidak dianggap lemah. Sampai suatu waktu aku tak mampu menampung keluh kesah siapapun lagi karena lautanku sendiri telah penuh gelisah yang tak jua terungkap.

Cil, tidak semua orang bisa menjadi pendengar yang baik, dan tidak semua orang mampu menyimpan rahasia orang lain dengan baik. Tapi kamu, adalah sahabat baik. Seorang teman yang darinya tidak kukecap rasa pengkhianatan.

Terima kasih untuk pundak yang teramat nyaman untuk tempatku bersandar. Terima kasih untuk kedua telingamu yang mendengarkan segala resahku tanpa penilaian-penilaian. Kamu membantuku sembuh dari pesakitan.

Satu janjiku kepada diriku dan untuk anak-anakku nanti, akan kubiarkan mereka bercerita segala sesuatu tentang hidupnya. Apapun, meski itu nanti membuatku resah sebagai orangtua. Bila ia ingin menangis, menangislah. Aku ingin ia tahu bahwa ia didengarkan, bahwa ia tak sendirian. Bahwa duka dalam hidup adalah untuk dibuang, bukan disimpan dan seumur hidup menjadi beban.

 

357334-Paulo-Coelho-Quote-We-pretend-to-be-strong-because-we-are-weak.jpg

 

Tilamuta, 21 Agustus 2017

 

 

Lemesin Aja, Jangan Dilawan

“Lemesin aja, jangan dilawan.” -entah siapa

Sungguh, kalimat di atas ini sangat berguna di banyak aspek kehidupan. Apalagi buat orang pencemas macam saya. Apa-apa dipikirin. Segala macam dipusingin. Nasib, jadi orang HSP (silahkan dicari artinya bagi yang belum tahu). Terlihat pedas di luar, padahal dalamnya kinyis-kinyis: kayak keripik maicih. Digigit sedikit langsung ambyar jadi serpihan-serpihan. Melankolis total.

Saya sendiri biasanya menggunakan kalimat di atas itu saat periksa pasien stroke, untuk menguji lateralisasi dan gerak pasifnya.

“Lemesin aja Pak/Bu tangannya, jangan dilawan ya tangan saya….” Begitu.

Tapi kalimat ini sekarang saya pakai buat menenangkan diri. Kita memang terkadang mesti terlihat kuat demi menenangkan orang lain, tapi justru cara untuk membuat diri kita tenang adalah sebaliknya, yaitu: menerima bahwa diri kita ini sebenarnya lemah. Sebenarnya sungguh membutuhkan orang lain.

Saya memang sedang lemah, hati saya seakan sesak oleh berbagai macam emosi yang mungkin diciptakan oleh pikiran saya sendiri. Karena saya seakan baru tersadar bahwa saya mulai kehilangan. Entah teman-teman, keluarga, juga momen bahagia. Meskipun suatu kehilangan itu berarti menyambut kebahagiaan baru, tetap rasanya kaki-kaki ini dirantai dengan bola-bola besi.

Seorang bapak (bukan bapak saya-red) pernah menasihati saya,

“Momen menyenangkan di masa lalu itu ada untuk dikenang, tapi Rifa jangan pernah tinggal lama-lama di sana.”

Bapak ini juga yang pernah menasihati saya untuk jujur dengan perasaan sendiri. Katanya, “Kalau sedih menangislah, kalau ingin tertawa ya silahkan saja sampai terbahak-bahak. Jangan terkungkung oleh image tentang kamu yang dibuat oleh dirimu sendiri.”

Dan saat ini saya ingin me-‘lemas’-kan kebaperan ini. Biar saja, nggak usah dilawan. Percayalah, jadi orang kuat itu melelahkan. Apalagi kalau kamu pura-pura kuat. Air mata itu ada untuk dikeluarkan bersamaan dengan beban-beban di pundakmu. Setelah beban-bebanmu larut dan keluar, baru setelah itu kamu bisa kembali berdiri tegak.

Saya pernah membangun benteng yang begitu tinggi dan tebal demi melindungi hati dan jiwa. Dari apapun. Karena keadaan pun menuntut demikian. I was in dominant position for several times. Kamu nggak bisa jadi lemah kalau kamu yang jadi kepala, kan? Kamu akan berusaha sekuat tenaga tetap tegak bila kamu yang jadi sandaran kan?

Dan saya pernah menjadi orang keras kepala nan egois yang tidak mau mendengarkan kata-kata orang lain terlebih dahulu, sampai kemudian seorang teman mengingatkan tentang hal ini di hari ulang tahun ke-17 saya.

Kalau kamu berkata bahwa….

jomblo bahagia itu nggak ada dan perempuan jomblo itu menderita,

bahwa semua wanita mau menikah karena ingin ada yang menanggung semua biaya,

bahwa wanita nggak cukup kuat dengan dirinya sendiri,

saya bisa berkata bahwa anda salah besar. 

Percayalah, banyak wanita yang bisa berdiri tegak di atas kakinya sendiri. Banyak wanita yang  merasa puas dengan dirinya sendiri. 

Dulu, saya kira seorang wanita bisa menjadi pemimpin. Dimanapun, dalam keadaan apapun. Setelah berbagai ilmu yang saya dapat di boarding school, di buku-buku, dan dirumah saya sendiri, saya tahu kalau perempuan tak bisa menjadi pemimpin di satu tempat: rumah tangga. 

Setinggi apapun jabatan seorang wanita di kantor, seberapapun anak buahnya di organisasi, tetap dia mesti menjadi makmum di rumah. Sebuah pemahaman yang dulu tak bisa saya terima. Dulu saya pikir, kisah suami-suami takut istri itu wajar adanya dan dibenarkan. Memang banyak terjadi, tapi ternyata bukan hal yang benar.

Setara bukan berarti menduduki posisi yang sama. 

Laki-laki dan perempuan punya derajat yang sama di mata-Nya, tapi diciptakan dengan peran berbeda. Hierarki memang sudah menjadi takdir manusia. Karena rumah tangga tentu tidak bisa berjalan dengan dua kepala. Bahwa Allah pun menciptakan dua jenis kelamin dengan perangkat dan kebutuhan psikologis yang berbeda. Laki-laki akan hancur bila sisi kepemimpinan dan egonya dilukai, sedang perempuan dengan mudahnya hancur bila perasaannya disakiti.

Dulu saat jadi panitia acara keagamaan di kampus, saya dan teman-teman muter-muter di pasar mencari barang. Karena melihat teman laki-laki saya bawa barang banyak, spontan saya ambil salah satu barang dari tangannya. Tujuannya yaa cuma satu: membantu. Tapi dia malah diam lalu bicara,

“Lo melukai harga diri gue, Rif…..”

Hayati bingung, apa yang salah dengan niat baik hamba?

Dan akhirnya saya belajar bahwa dalam sebuah hubungan, kemandirian wanita yang berlebih bisa menjadi bumerang dalam relationship-nya. Dominasi perempuan bisa menjadi penghancur rumah tangganya sendiri. Dan saya pernah ragu, apakah saya bisa bertemu dengan laki-laki yang bisa mendominasi saya tapi tanpa mengintimidasi? Seseorang yang bisa membuat saya mau mendengarkan dan taat padanya tanpa rasa terpaksa.

Seseorang yang membuat saya mengingat kalimat, “Lemesin aja, jangan dilawan.” untuk ego dan keras kepalanya saya.

Nyatanya (dulu) saya lebih sering bertemu dengan laki-laki baik yang pada akhirnya lebih cocok untuk saya kendalikan. Salah satu alasan mengapa perempuan mulai mendominasi adalah karena tidak cukup banyak laki-laki yang cakap menjadi pemimpin.

Tapi, saya sudah bertemu dengan laki-laki yang saya maksud di atas. Seseorang yang insyaAllah tepat untuk menjadi partner sehidup semati. Laki-laki yang membuat saya tidak melakukan effort yang sedemikian besar hanya untuk merasa nyaman, yang meyakinkan hati saya untuk merobohkan benteng dan membangun jembatan menujunya.

Orang yang membuat saya dengan sukarela meluaskan ruang penerimaan, meletakkan ego dan menyusun ulang ambisi pribadi demi menjalani ibadah besar bernama pernikahan.

Karena pernikahan adalah ibadah seumur hidup. Mesti dijalani dengan orang yang mau sama-sama terus belajar meski tertatih. Salah memilih pasangan, maka neraka mengiringi seumur hidup.

Dan kami masih harus menunggu, demi jalan hidup yang lebih baik. InsyaAllah 🙂

 

“Benar aku cinta, tapi ku percaya. Kau yang kuinginkan tak harus hari ini.

Mungkin hari nanti kamu ada di sisi, kita kan bersama dalam indahnya cinta.”

-Tak Harus Hari Ini by Iqbal Ceka

 

Bekasi, 20 Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengumuman Pemenang GIVEAWAY “Mengeja Bahagia” :)

Hallooo khalayak blog, akhirnya saya mengisi laman blog saya lagi setelah post terakhir saat hari raya Idul Fitri. Sudah lama sekali blog saya berdebu dan penuh sarang laba-laba di sana-sini. Dan…..saya muncul lagi di home page anda malam hari ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk……

 

giveaway

 

*tebar-tebar Confetti*

Sebelumnya kami memohon maaf karena pengumuman ini semestinya dibuat kemarin, tetapi karena ada hal yang membuat kami sok sibuk, jadi……baru hari ini bisa diumumkan. Kami akui, keseluruhan karya yang masuk ke link kami bagus-bagus. Kami menyadari, bahwa memang arti kata bahagia bagi setiap orang sangat beragam. Sangat bergantung pada standar-standar yang masing-masing kita perjuangkan.

Terima kasih banyak kepada semua yang telah berpartisipasi dan setelah melalui proses kontemplasi yang panjang *lebay*, akhirnya kami memutuskan karya-karya inilah yang menjadi pemenang.

(bdw, berhubung saya belum kenal nama aslinya, jadi saya pakai nama user saja yah….)

 

HERE THEY ARE…..

giveaway2

 

Pemenang I : Kak newzizzahaz dengan karyanya Mengeja Bahagia

Pemenang II : Kak momo taro dengan tulisannya Bahagiamu, Bahagiaku 

Pemenang III : Kak rayamakyus dengan artikelnya Karena BAHAGIA Datangnya Dari Hati

dan satu pemenang favorit yaitu…..

Kak Nur Irawan dengan tulisannya Kamulah Bahagiaku yang Sebenarnya

 

CONGRATULATION buat para pemenang!!!

Kepada seluruh pemenang, diharapkan mengirimkan alamat rumah dan nomor telepon aktif ke rifa.roa@hotmail.com dan parmantos@gmail.com

Plus, kepada pemenang I, II, dan III, tolong beritahu kami ukuran kaos yang biasa dipakai ya, dan cantumkan ingin lengan panjang atau pendek. 

Sekali lagi, terima kasih kepada semua yang telah berpartisipasi dan sampai ketemu di (InsyaAllah) giveaway-giveaway selanjutnya :”)

No Title Needed.

Time runs like a bullet. Segala kesenangan di stase Puskesmas akhirnya mesti ditinggal di belakang untuk segera menyambut hiruk pikuk IGD dan bangsal rumah sakit –yang katanya banyak drama itu. Ah, bahkan di masa-masa akhir Puskesmas pun kami sempat berhadapan dengan –something you can call it drama-. Saya bersyukur ditempatkan di sini bersama teman-teman iship saat ini, yang kompak dalam hal baik maupun hal sableng *evil smirk.

Dulu sekali sempat ada kekhawatiran apakah bakal bisa nyaman sama anak-anak ini, apalagi ada yang luar daerah. Kan nggak enak banget kalo kelompok satu tahun tapi nggak bisa kompak. Tapi ternyata beyond expectation, saudara-saudaraa~

Mereka ini baik-baik dan nggak gigit hohoho

 

1487550024048.JPEG

Ini foto waktu pertama kali sampe di Puskesmas. Kita ini terdiri dari dua orang Manado, satu orang asli Gorontalo, satu orang Makassar, satu orang Tangerang, satu orang Medan, dan satu orang Jawa (alias saya :p). FYI, saya ini sering disebut orang Jawa KW, karena: 1) cuma sedikit ngerti bahasa Jawa, 2) lebih suka makanan asin-gurih ketimbang manis, 3) teman saya kebanyakan orang Batak, Betawi, Padang, Manado, jadi harap maklum kalau intonasi suara saya sering keras *peace

Berteman sama mereka ini membuktikan beberapa hal yang selama ini hanya menjadi dugaan. Dari oknum M, saya jadi tahu kalau Chinese People memang top banget urusan matematika dan hitung-menghitung uang. Memang bendahara jempolan. Dari oknum I, saya jadi tahu kenapa pengacara kebanyakan orang Batak. Maju terus pantang mundur, Bah! Dan meskipun terlihat garang di luar, orang-orang Manado itu lembut dan baik sekali hatinya ❤ Terbukti dari Oknum T dan Oknum S.

Ada juga oknum U, sang ratu lebah dari Palopo. Juga oknum Y, alias The Lord, Protector of Boalemo yang sering menolong dan mem-back up kami-kami ini meskipun kadang bikin gemes. Doi ini baik banget, sampe mau nemenin saya nyari penjahit buat bikin baju lamaran. Saya seneng, cowok-cowok di kelompok saya ini perhatian banget dan mau repot. Mereka nggak segan buat cuci piring, ke laundry, beli dan pasang gas, sampai buang trash bag. 

Biar, dipuji biar pada ge-er :p

Mereka juga yang meracuni cewek-cewek ini buat nonton serial Game of Thrones. Heu.

Seminggu sebelum perpindahan ke RS, kami melakukan sweet escape ke Manado. Pengalaman puasa di Manado ini bikin saya jadi sadar, bahwa menjadi minoritas itu memang butuh perjuangan. Masjid cuma ada sedikit, yang puasa juga sedikit. Saya akhirnya cuma bisa nunggu di mobil di saat yang lain pada menikmati tinutuan*hiks

 

2017_0602_21271200.jpg

Ini di depan mekdinya pas udah lautan ❤ something I can’t get in Jabodetabek 😦

Godaan kuat banget emang, dari dalam mekdi menguar aroma kopi segar di siang bolong. Huft.

 

IMG_20170602_215735_HDR_1496411931048.jpg

Jembatan Soekarno di malam hari. Masih lebih megah Jembatan Ampera di Palembang, tapi lebih bersih ini. Di malam hari, dihiasi dengan pantulan warna merah, hijau, kuning, biru, ungu, dan kuning.

 

IMG_20170606_161253_HDR.jpg

Ini penampakan siang harinya

 

IMG_20170606_084552_HDR.jpg

Monumen Yesus Memberkati di Kawasan Citraland ini mirip-mirip sama Patung Yesus di Cristo Redentor di Brasil. Patung ini mengisyaratkan Yesus yang memberkati warga Manado.

 

IMG_20170602_175011_HDR.jpg

Festival Ramadhan di Kawasan Megamas, digelar untuk buka puasa. Pas ini berasa banget suasana Ramadhannya.

 

2017_0605_01125500.jpg

Pagoda di Tomohon

 

2017_0605_01461800.jpg

View Gunung Lokon dari Bukit Doa. Hawanya dingin dan udaranya seger banget ❤

 

2017_0605_01521400.jpg

Kapel Bunda Maria di Bukit Doa, Tomohon

 

 

IMG_20170604_161517_HDR_1496564306711.jpg

Kafe D’Linow di Danau Linow. Lebih gede foto sayanya dibanding pemandangannya wkwkwk

 

IMG_20170604_174829_HDR.jpg

Menu buka puasa saya di D’Linow: Kopi susu, pisang sepatu tepung, dan……TINUTUAN!!

 

IMG_20170605_082903_HDR.jpg

Cakalang Fufu dan Tuna asap di Pasar Tomohon, my new favorite food ❤  Ohya, di pasar ini juga ada Pasar Ekstrim, tempat dimana bisa ditemukan daging babi, anjing, ular, kucing, monyet, dan paniki (kelelawar). Tadinya mau masukin fotonya kesini, tapi nggak jadi deh :p

 

IMG_20170605_100557_HDR.jpg

Bukit Kasih di Kaki Gunung Soputan, Minahasa. Itu yang di atas itu ada bangunan tempat-tempat ibadah dari semua agama yang ada di Indonesia (Islam, Katolik, Kristen Protestan, Budha, Hindu, Kong Hu Cu).

Sesuatu banget emang mendaki bukit ini pas puasa, saya setrong ternyata!

Bukit ini jadi simbol kerukunan beragama. Ada juga pahatan wajah Toar dan Lumimu’ut yang merupakan nenek moyang Suku Minahasa. Ada juga salib super besar di bukit ini, tapi untuk kesana butuh tenaga yang lebih besar karena tempatnya lebih tinggi lagi. Sepanjang perjalanan di bukit ini, bau belerang mampir berkali-kali melewati hidung.

 

IMG_20170605_101237_HDR.jpg

Ini Tugu Bukit Kasih, ada empat sisi yang melambangkan masing-masing agama.

 

2017_0603_22553300.jpg

Pasir Timbul Nain. Pas berangkat masih pasang selutut, beberapa jam kemudian udah sampe leher aja….

 

IMG-20170603-WA0438.jpg

Finally, snorkeling again. Ini pake usaha semaksimal mungkin biar airnya nggak ketelen.

Euforia banget mau ke Bunaken, tapi ekspektasi saya terlalu tinggi ternyata. Spot snorkeling kami nggak menarik karena karangnya sudah banyak yang mati. Masih lebih bagus Taman Olele di Gorontalo. Dari kecil pingin banget ke Bunaken tapi sayang sekali belum bisa melihat pemandangan yang bagus. Kalau mau ke spot yang bagus lebih baik pesan jasa private khusus meskipun lebih mahal.

Setelahnya, kami jalan-jalan ke Bitung. Cuma ke pelabuhan sama foto bareng patung cakalang doang tapi huahaha. Eh, sama beli tuna kaleng ding. Tuna kalengnya murah dan enak. Btw, Bitung ini daerah industri banget. Pabrik-pabrik everywhere. 

 

1497010855479.jpg

UPN Squad, bakda tarawih kedua saya di Tilamuta. Meski sedih nggak bisa tarawih bareng keluarga, setidaknya ada mereka yang nemenin 🙂

 

Bismillah. Semoga ibadah puasa saya tahun ini bisa berkah dan rencana-rencana ke depan bisa berjalan lancar. Aaamiinn….

 

Tilamuta, 9 Juni 2017

 

 

 

 

 

Ramadhan Day #14: No Way Back

Besok sudah tepat pertengahan Ramadhan. Kemarin tepat 4 bulan saya bertugas jauh dari rumah. Tadi malam saya sudah tidur di rumah dinas baru, dan saya jadi punya masalah baru. Kalau sedang tidak ada masalah, tentu saya akan malas menulis blog (?).

Masalah kecil sih: homesick.

Ternyata saya terlalu menyepelekan masalah ini, hingga akhirnya ia menyerang saya justru di saat yang sangat menyusahkan. Huft.

Karena konsekuensi akan selalu mengikuti sebuah pilihan, dan inilah konsekuensi yang mesti saya terima. Saya punya banyak pilihan, dulu sekali. Bahkan pilihan terbaik pun tidak berarti bebas dari konsekuensi buruk. Diri kita ini saat mengambil pilihan, sebenarnya bukan berada di sebuah persimpangan dengan banyak cabang. Melainkan, ada di tengah lautan dalam sebuah kapal kayu. Kita bebas mengambil arah manapun dengan cara bagaimanapun. Kita bebas memilih pulau manapun, pantai manapun.

Akan tetapi, begitu saatnya kita sampai di tujuan, kapal yang kita gunakan akan terbakar. Juga tidak ada kapal-kapal lain yang bisa kita gunakan di tempat tujuan.

Dengan kata lain: there’s no way back.

Selamanya keputusan yang kita ambil akan mengiringi selama perjalanan. Ditambah lagi dengan kecemasan-kecemasan: bisakah nanti hidup di tempat tujuan yang baru? apakah justru tidak ada air dan selamanya kita akan hidup dalam kekeringan? Apakah di sana ada makanan yang cukup? dan segala macam pertanyaan tentang esok hari yang tak mungkin jawabannya bisa didapatkan saat ini.

Setiap keputusan yang kita ambil akan terus bergaung hingga akhir hayat dan sekali ada penyesalan, gaung itu akan terus terdengar memekakkan telinga entah sampai kapan. Kita hanya bisa berhati-hati di awal untuk mencegah hal-hal yang kelak menjadi penyesalan. Kita hanya perlu membuang segala jenis kecemasan untuk yakin melangkah ke depan.

 

#notetomyself

Tilamuta, 9 Juni 2017

Ramadhan Day #6: kering

Hampir seminggu sudah Bulan Suci ini berjalan. Waktu memang berjalan cepat, ya, sampai saya pun baru sadar bahwa sebentar lagi tugas saya akan berpindah ke rumah sakit. Pengalaman di Puskesmas ini akan saya tuliskan di bagian tersendiri nanti, InsyaAllah.

Saya memulai Ramadhan tahun ini dengan keadaan hati saya yang kering sekali. #huft

Untuk kesekian kalinya, saya menjalani puasa di kota orang. Literally, saya memang kering di sini karena cuaca yang terik di Gorontalo. Dan parahnya, saat ini saya homesick, sesuatu yang saya kira tak akan saya alami di perantauan saat ini. Mungkin juga saking longgarnya waktu saya di sini, karena kan kesibukan itu bisa menjinakkan rasa rindu.

Ramadhan tahun ini saya gunakan untuk perlahan membasuh hati saya yang kering karena sudah semakin jauh dari-Nya. Dengan lebih banyak membaca Kalam-Nya, mengulang-ulang hafalan, juga sholat sunnah (yang belakangan sudah jarang saya lakukan). Memang, Alquran itu candu. Semakin lama ditinggalkan, hati pun jadi kalap mencari-cari. Seperti ada yang hilang, dan hati jadi menyisakan bagian kosong karena lama ditinggalkan. Kemudian menjadi kering karena sesak diisi dengan hal-hal duniawi saja. 😦

I’ve lost myself. Selain hati saya yang menjadi kering, entah mengapa rasanya akhir-akhir ini saya seperti kehilangan diri saya sendiri. Rasanya seperti bergeser dari titik keseimbangan yang selama ini saya jaga. Saya bahkan lupa dengan hal-hal yang pernah saya cintai dulu. Saya menjadi sulit menikmati apa-apa yang dahulu saya suka. Semangat untuk melakukan ini-itu entah mengapa menjadi pudar.

Atau ini karena hati saya yang memang sedang kering saja sehingga rasanya tak ada yang baik-baik saja?

Bulan suci Ramadhan ini jadi sebuah titik balik bagi saya untuk kembali mempertanyakan diri sendiri tentang apa-apa yang menjadi tujuan ke depan. Tentang bakti kepada Sang Pencipta, dan mengukur jarak sudah sejauh apa diri ini telah berpaling dari-Nya. Sehingga akhirnya bisa kembali dekat dengan-Nya dan menemukan diri seutuhnya (lagi).

 

Paguyaman, 01 Juni 2017

2758 km: #myishipmyadventure (1)

Pantas saja saya merasa ada yang kurang di hari-hari saya, dan ternyata itu karena sudah lamaaa sekali tidak merangkai kata-kata. Blog ini saya tinggalkan sementara saat mengurus detail-detail internship maka postingan baru ini pun saya buka dengan cerita internship yang sudah saya jalani satu bulan lebih ini. Di tengah sinyal internet yang bikin frustasi, mari kita mulai tulisan ini *kretekin tangan*

Duluu sekali, nggak ada di bayangan bahwa saya akan menginjakkan kaki di (hampir) ujung Pulau Sulawesi. Saya memang tidak berniat untuk internship di Jakarta dengan berbagai pertimbangan, tapi yang dulu saya incar adalah NTB (especially Lombok), Riau (termasuk Kepri), dan Aceh. Sempat malah terpikir mau ke Papua sekalian tapi……malarianya itu loh. Karena sejauh-jauhnya saya pergi, saya tetap mesti bikin hati orangtua tenang melepas anaknya ini kan 🙂

Dan di sinilah saya, terdampar di provinsi ke-32 Indonesia yang kerap dijuluki Serambi Madinah. Lebih tepatnya mendamparkan diri, karena secara sadar jari-jari saya meng-klik Rumah Sakit Tani dan Nelayan, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo di daftar wahana internship yang milihnya pake rebutan itu. Saya dan tiga teman tercinta saya (sebut saja Ni’ma, Gina, dan Ridho) dari UPN yang sudah janjian untuk iship di sana untungnya dapat semua dan nggak ada yang salah klik lantas nyasar sendiri ke Maluku atau bahkan Papua. Karna paaaas banget di bawahnya Gorontalo itu nama-nama RS di Maluku.  

IMG-20170210-WA0010.jpg

RSTN Squad, foto di depan RS saat penyambutan

Mereka-mereka inilah yang menjadi keluarga saya di sini, sejawat-sejawat dari seluruh Indonesia. Sebut saja Gratia, Lani, Nadya, Janet, Suryadi, Steve, Erik, Bang Leon (FK Univ Sam Ratulangi), Ummul (FK Unpad), Chintya, Irvin, Fredy (FK UI), Miki, Kevin, Avian (FK UGM), Bang Zaky (FK Trisakti), dan sisanya anak-anak UPN yang saya sebut di atas. Saya bukannya tanpa rasa galau meninggalkan rumah, dan dengan adanya mereka-mereka ini rasanya perantauan jadi lebih mudah.

Apalagi kami satu visi untuk……jalan-jalan ekplor Gorontalo (/^_^)/

Serius, kalau tanpa mereka ini kehidupan internship bisa jadi berat. Itulah mengapa kita akan selalu membutuhkan adanya orang lain di sisi kita dalam keadaan apapun. Saat memilih wahana internship dulu itu, saya sangat bisa memilih RS di DKI Jakarta karena nama-nama RS tersebut masih tampak lengkap di depan mata saat online. Tapi namanya juga pilihan, pun saat itu insyaAllah sudah siap dengan konsekuensinya: jauh dari keluarga dan rumah (lagi), jauh dari teman-teman, jauh dari Starbucks (di Gorontalo enggak ada), dan jauh dari (uhuk) seseorang.

Padahal saat itu saya sedang ingin sekali merawat ayah dan ibu saya dari dekat. Padahal saat itu saya sedang berencana membangun masa depan dengan seseorang, dan kami mesti terpisah 2758 km di kala baru saja memulai.

Tapi saya merasa kalau pengalaman saya tak akan berkembang bila tidak ‘melihat’ keluar dan kemudian telinga saya letih akan suara klakson yang bersahutan di jalanan ibu kota. Teman-teman saya pun akan dominan dari daerah yang sama. Bukan bermaksud mendiskreditkan teman-teman saya yang memilih DKI Jakarta, saya tahu mereka pun punya alasan masing-masing.

Beda dengan Manado, Gorontalo ini kering dan panas buanget. Saking panasnya sampai sayur-sayuran nggak semuanya bisa tumbuh di sini dan berimbas ke harga yang mahal. Ditambah dengan kepercayaan orang sini bahwa “banyak makan sayur bisa bikin asam urat”, maka makin jaranglah penduduk sini makan sayur. Sampai hal ini pernah dibahas di Musyawarah Masyarakat Desa yang dipandu Puskesmas. Ohya, saya masuk di stase Puskesmas dulu di empat bulan pertama, lalu ke IGD, lalu ke bangsal. Dan stase Puskesmas ini adalah waktunya jalan-jalaaaan XD

Selain panas, di sini juga mati lampunya S3dd1 alias tiga kali sehari. *kipas-kipas

Hal yang bikin saya meringis adalah obat-obatan yang memang kurang lengkap di Puskesmas, sinyal yang angot-angotan, dan…..bahasa. Saya masih suka roaming dengar pasien pakai Bahasa Gorontalo. Kalau ada campuran Bahasa Manado-nya saya masih bisa nangkep, tapiiii kalau udah bahasa yang aslinya banget itu….bikin pengin jambak rambut. Rambut saya kok, bukan rambut pasiennya :p

Ini bocoran vocabnya:

Mongoto –> sakit

Lunggongo –> kepala

Bulo’o –> leher

Ulu’u –> tangan

Duhelo –> dada

Ombongo –> perut

Hilawo –: hati

Maka, bahasa gorontalo-nya sakit hati adalah mongoto hilawo. *catet

Berhubung Puskesmas Paguyaman ini pas banget ada di sisi Jalan Trans Sulawesi, jadi ya banyak kasus kecelakaan. Tabrakan ada, kecelakaan tunggal lebih banyak lagi. Keseringan adalah karena demi menghindari hewan (-_-). Percayalah, di sini anda bisa menemui sapi, kambing, ayam, anjing, dan (tentu saja) kucing berkeliaran dimana-mana.


Beginilah kalau lagi ada kasus kecelakaan yang banyak dan berat, kita ramean ngerjainnya. Ini pas jam jaga saya, emang teman-teman saya ini lovely banget deh mau pada bantuin. Percayalah, ini selfie dan senyum riang bukan karena menertawakan pasien, tapi ya gitu, maybe sudah kebal dengan bau darah dan kalau stres yang ada nanti malah tegang. Untungnya kelompok saya ini kompak banget, termasuk otak kriminalnya. Tenang, bukan kriminal yang enggak-enggak kok.

Kompak lainnya adalah kalau yang satu masak, yang lain cuci piring sama cuci beras. Yang satu ambil laundry, yang lain beli galon. Yang satu ambil libur, yang lain nge-back up. Menikmati playlist JOOX di mobil rame-rame. Dan setelah hampir lewat dua bulan ini, saya langsung yakin bahwa masa satu tahun internship ini akan jadi masa yang kelak akan saya rindukan. Seperti saya merindukan Ambawara, seperti saya merindukan Palembang, Semarang, dan Magelang.

Ini destinasi pertama kami, Pantai Bolihutuo.

Kami datang kesini saat belum terpisah jadi kelompok-kelompok stase, jadi masih ber-20. Saya akui, Gorontalo ini cantik banget secara keseluruhan. Kanan-kiri jalan pemandangan bukit, sawah, ladang jagung, dengan pohon kelapa yang melambai-lambai. Apalagi buat yang dari kecil tinggal di kota macam saya, pengalaman kayak gini bikin saya bersyukur banget.

Perjalanan menuju air terjun Ayuhulalo, bikin adem mata banget.

Ini air terjunnya, nggak terlalu ‘wah’ memang, tapi di Gorontalo ada air terjun-air terjun lain yang kece banget

Kalau yang ini, view saat menuju air terjun Bontula


and this is the waterfall


Geng Puskesmas Paguyaman in Red

Ini Desa Bongo, dulu namanya Kampung Bubohu dan daerah ini bekas kekuasaaan Kerajaan Gorontalo. Desa ini disebut juga Desa Religi karena merangkap pesantren alam. Rumah-rumah di belakang kami itu adalah tempat dilakukannya halaqoh dan kolam di bawah kami biasanya ada airnya tapi saat ini sedang kering. Merpatinya banyaaak dan kalau mau ngasih makan bisa beli jagung satu gelas seharga Rp. 5000,-. Baru aja nadahin tangan yang menggenggam jagung, burung-burung merpati pasti langsung berdatangan. Tapi ya gitu….tetep sulit ditangkep.

Namanya juga jinak-jinak merpati >.<

Di dekat situ ada Masjid Walima Emas yang punya view bagus tapi sayangnya saat kami kesana gerbangnya sedang ditutup dan penjaga gerbangnya lagi pergi entah kemana. Masjid ini pas banget di atas jadi kalau melihat ke bawah bisa menikmati hamparan bukit hijau dengan pantai dan lautan luas.

Ini di Desa Girisa, kami bela-belain bertujuh datang ke Posyandu di Desa ini demi berfoto lengkap di perahu katinting hehee. Biasanya kalau anak-anak internship kesini pasti sambil ke pantai di Desa Balate lalu bakar-bakar ikan. Tapi sayang, Kak Mano yang biasanya mensponsori bumbu untuk bakar ikan saat itu sedang sakit.


Mukanya seneng, padahal aslinya takut kecebur….

Destinasi terakhir sampai saat saya menulis postingan ini, Pantai Libuo di Pohuwato. 

Di sana kami kumpul lagi ber-20 untuk BBQ-an. Tapi sayangnya saya belum sempat foto di dermaganya. Saya selalu suka suasana pantai saat senja, always awesome. Wish you were here with me, Mas. 

Ini baru postingan pertama tentang internship dan bakal ada postingan-postingan selanjutnya insyaAllah. Masih ada kisah IGD dan bangsal. Masih ada Pulau Saronde, masih ada Taman Laut Olele, masih ada wisata hiu paus Batubarani, Tanjung Karang, Paguyaman Pantai, dan yang pasti…..PULAU CINTA!

Dan weekend ini saya akan ikut Travelling and Teaching Gorontalo #5. Untuk kedua kalinya saya mencicip jadi relawan. Kalau dulu sebagai guru (meski nggak berbakat), yang sekarang ditambah pengobatan massal. Plus snorkeling di Taman Laut Olele #tetep.

See ya when I see ya. 🙂 ❤


Desa Molombulahe, 23 Maret 2017

Aku Tidak Berjanji

Aku tidak menjanjikan hidup tanpa badai dan guntur, tidak berjanji untuk langit yang selalu biru. Karena aku pun seringkali tampias oleh hujan yang bahkan masih urung menderas tersebab aku terlambat berteduh. Tersebab payung yang seringkali lupa kusertakan.

Aku tidak pernah berjanji bahwa ragaku kelak senantiasa terasa inderamu, tidak menjanjikan genggaman jemari di setiap waktu meski tak pernah berkurang rasa cinta padamu. 

Aku enggan menjanjikan hidangan dan teh hangat yang tak pernah alpa di meja, dengan rasa yang tepat luar biasa. Juga, aku enggan berjanji bahwa hanya akan ada sunggingan senyuman di muka, bukan tetesan air di sudut mata. Aku hanya perempuan biasa -seperti yang lainnya.

Aku tidak berjanji untuk selalu menjadi kuat hingga akhir hayat, pun tak akan pernah terus setegar karang yang tetap kokoh digilas ombak lautan. 

Sungguh, aku tidak berjanji.

Aku hanya bisa menjanjikan ragaku menjadi tempat berbagi peluk dan telingaku untuk berbagi suara guntur. Aku hanya mampu berjanji untuk menjelma teman bagimu berdansa di tengah-tengah badai.

Aku hanya menjanjikan bahwa hatiku tidak akan pergi kemana-mana sejauh apapun jarak tiada mungkin dipangkas di antara kita. Meski aku hanya bisa tersenyum dari jauh.

Aku hanya sanggup berjanji untuk berusaha menyajikan nasi dan lauknya yang hangat untukmu di tengah-tengah waktu yang ada kalanya sulit sekali dikompromi.

Aku memang tidak akan selalu kuat, karena kelak aku membutuhkanmu. Pundakmu, lenganmu, tempat kelak aku rebah mencari damai dan perlindungan. Karena kamu kelak menjadi definisi rumahku yang baru.

Iya, aku hanya sanggup menjanjikan itu kepadamu.


Boalemo, 23 Maret 2017

Happy 55.

Bila ditanya siapa lelaki yang kucintai melebihi dunia dan seisinya, maka hanya namamu yang ku ucap,

tanpa terbata dan cukup sepatah kata.

Pria yang mencintaiku bahkan sejak sebelum memahami rupa,

apa adanya. Pahlawanku satu-satunya di dunia. 

Lebih dari setengah abad sudah dan ku memohon pada-Nya untuk usia yang lebih dan lebih lagi.

Karena telingamu adalah peredam paling tebal untuk semua tangisku, dan lenganmu adalah rebah paling hangat tempatku meluruh mengais damai. 

Selamat bertambah usia di hari penuh cinta. Dari sulungmu yang sedang jauh kini. 

14 Februari 2017

saya lupa…

Saya lupa rasanya girang menggenggam buku yang baru dibeli, seakan hari itu adalah hari terakhir ia bisa dinikmati.

Saya lupa seperti apa rasa hati dan mata yang terpaku pada deretan-deretan kalimat yang membungkus rentetan cerita.

Saya lupa bagaimana saya bisa tidak tidur demi akhir sebuah kisah yang dijanjikan oleh bab-bab baru.

Saya lupa seperti apa ledakan klimaks yang menjalari saraf-saraf di saat saya sampai di bagian paling seru sebuah buku. 

Saya lupa betapa badai serotonin bisa sedahsyat itu meluluhlantakan kesadaran dunia saya, membuatnya terputus dari segala macam bentuk realita.

Ah, saya lupa candu saya. 


Aarrghh plzzz somebody help meh with this linear regression yang bikin saya pingin muntah *guling-guling* 😥😥😣

Previous Older Entries