Bermain dengan Kesucian

Gadis itu terengah – engah di atas kasurnya dengan tetes – tetes keringat yang saling berlomba turun dari kening ke lehernya. Tanpa sadar kedua tangannya mencengkeram seprai di kedua sisi tubuhnya dengan erat. Empat belas pasang mata. Keempatbelasnya fokus mengarah pada jantung orang yang dicintainya, kakak lelakinya. Entah mengapa peralihan detik demi detik merangkak begitu lambatnya. Kejadian itu terlihat bergerak nyata di hadapannya bak roll film bioskop yang diputar dengan proyektor terbaik. Empat belas orang berbalut seragam kepolisian gagah menegakkan badan, bersiap menjalankan tugas yang malam ini harus diselesaikan. Masing – masing menebak dalam hati, senapan laras panjang di tangannya kah yang akan menjadi tangan kanan malaikat pencabut nyawa terpidana di hadapannya ini? Hening masih menguasai suasana. Kemudian….

Dorr!!

Suara letusan peluru yang melesat keluar itulah yang terakhir gadis itu ingat sebelum terbangun dari tidur dalam keadaan terengah – engah dan berkeringat.

Abang??? Gadis itu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang gemetar. Bukan hanya keringat di wajahnya yang melekat di kedua telapak tangannya. Ada air mata di situ. Air mata yang tak ia sadari telah mengalir dari kedua sudut matanya. Apakah itu b-e-n-a-r kau, Abang??

***

Mimpi semalam tadi terasa masih meliuk – liuk di kepalanya. Ya Allah, seperti itukah dulu Kau ambil nyawa kakakku? Dengan cara seperti itukah ia pergi?

Gadis itu semakin terbenam dalam pertanyaan – pertanyaannya sendiri tentang kejadian empat tahun silam. Waktu itu Tahun 2002 dan ia saat itu berusia 12 Tahun. Satu hal yang paling ia ingat adalah pada akhir tahun itu orang – orang di TV dan di sekitarnya berulang – ulang kali berbicara soal meledaknya bom di Bali. Saat itu hatinya sangat sedih, karena kata ibu guru Pulau Bali itu sangat indah dan ia ingin sekali kesana. Hatinya mendung saat acara berita di TV menunjukkan kondisi Bali yang bagai istana pasir disapu habis oleh ombak lautan. Luluh lantah. Biasanya saat sedih, ia akan segera menemui abangnya dan bercerita panjang lebar hingga rasa sedihnya tak bersisa. Tapi sudah seminggu ini sosok abangnya menghilang dan tak pernah terlihat lagi di rumah, bahkan hingga berbulan – bulan kemudian. Saat terakhir ia melihat abangnya adalah saat abangnya berpamitan ke ayah dan bunda mereka dengan takzim dan izin pergi menuntut ilmu di tempat yang ia pun tak tahu dimana.

Gadis itu, Aster namanya, sangat mencintai kakak lelakinya yang selalu ia panggil dengan sebutan Abang. Abangnya rajin sholat dan selalu mengingatkannya untuk berbuat kebaikan. Masyarakat di lingkungan keluarganya tinggal sangat menyukai abangnya karena sering menolong tetangga – tetangga mereka. Entah mengapa sejak satu tahun terakhir sebelum pergi, abangnya kian berubah. Abangnya berkali – kali menceramahi dirinya tentang surga dan betapa inginnya abangnya menjadi mujahid agar nanti di akhirat bisa tinggal di sana. Ya iyalah, siapa juga yang tidak ingin masuk surga? Hati kanak – kanak Aster saat itu berbicara.

“Hanya orang – orang suci yang bisa masuk surga, Dek. Kita harus jadi suci dan harus bisa mensucikan tempat tinggal kita. Negara kita ini sudah kotor, dipenuhi oleh orang – orang yang berdosa.” Aster kerap tak paham maksud nasihat abangnya itu.

Abangnya juga jadi terobsesi untuk memanjangkan jenggotnya sampai – sampai Aster ingin sekali mengepangnya karena sudah terlalu lebat. Abangnya jadi lebih sering sholat, tapi menjadi semakin melawan orangtua mereka. Dulu abangnya selalu menurut bila dinasihati oleh orangtua tetapi belakangan menjadi sering bertengkar dengan keduanya. Aster saat itu tidak mengerti apa yang mereka ributkan, yang ia tahu saat itu kakaknya jadi lebih sering meminta uang kepada orangtua mereka.

“Asik, Abang bawa oleh – oleh buat Aster!” Aster senang melihat abangnya pulang membawa bungkusan plastik hitam yang kira – kira seberat satu kilogram.

“Ini barang punya Abang, bukan buat kamu, Dek.” Abangnya langsung masuk ke kamar beserta plastik hitamnya itu, meninggalkan Aster yang kecewa.

“Yaahh…kirain makanan buat Aster…”

Aster ingat, esok paginya saat abangnya pergi lalu tak pernah kembali lagi, abangnya membawa bungkusan plastik hitam itu turut serta.

“Dek, Abang pergi dulu ya. Abang mau belajar agama lebih banyak lagi, biar bisa masuk surga.”  Itu kata – kata terakhir abangnya sebelum berpamitan ke kedua orangtua mereka lalu pergi. Ternyata abangnya tidak pergi sendiri, tapi bersama beberapa orang temannya yang menjemputnya ke rumah. Aster sedih melihat sosok kakaknya perlahan menghilang ditelan jarak.

Lalu seminggu kemudian, mekarlah berita – berita tentang bom Bali itu. Sungguh Tahun 2002 yang kelam. Tetapi tak sekelam hati Aster yang berbulan – bulan menanti sosok abangnya pulang dan di depan pintu mengucap salam. Hingga bertahun – tahun kemudian, yang Aster bayangkan adalah abangnya yang sedang belajar mengaji dengan tekun dan suatu saat pulang ke rumah untuk menemaninya lagi.

Aster sekarang sudah pakai seragam SMP, Bang. Pasti Abang senang lihat Aster sekarang. Tapi ayah dan bunda bilang, abang nggak akan pulang ke rumah lagi. Kenapa, Bang? Abang nggak kangen sama Aster?

***

Gadis itu duduk memeluk lututnya sekarang. Sudah 16 tahun usianya sekarang dan baru kemarin siang, sebelum ia bermimpi buruk itu, ia paham apa yang terjadi pada abangnya tersayang. Abangnya ditetapkan sebagai terpidana bom Bali bersama beberapa rekannya dan telah dieksekusi mati tepat dua tahun setelah peristiwa itu terjadi. Kenyataan yang baru ia ketahui setelah tidak sengaja menelisik surat – surat kabar lama dan menemukan nama abangnya di sana, ditambah beberapa penjelasan dari orangtuanya. Ia meringis pilu mengingat mimpinya semalam, seperti itukah cara abangnya dulu pergi ke sisi Tuhan? Ia menatap bunga Lili dalam genggamannya yang baru saja ia petik dari pekarangan rumahnya. Bunga Lili, lambang dari kesucian.

Kata – kata kesucian mengingatkan Adek pada Kau, Abang. Bukankah yang berhak menilai kesucian seseorang hanya Tuhan semata, Bang? Surga ataukah neraka tempat terakhir kita, Tuhanlah yang menentukan.

Merindu Sang Panchali

Layar laptop di depanku tampak kian menyilaukan, menantang kedua mataku yang semakin lelah. Pedih. Kupejamkan kelopak mata sejenak, memberi kesempatan bagi mata untuk beristirahat. Aku telah 5 jam non-stop menatap laptop, begitu jam virtual di laptopku menunjukkan. Kini hanya indera pendengaranku yang masih waspada, menerima impuls suara desingan dari laptop yang masih menyala. Sesuatu di kepalaku juga berdesing. Cepat. Kuat. Melambat sepersekian detik, lalu kembali melaju cepat. Aku tahu, itu bagian dari otakku yang menyimpan memori dari sesuatu yang absolut bernama waktu. Efek dari sebuah pertemuan siang tadi, dan lima jam yang barusan kuhabiskan di dunia maya untuk menyusuri labirin kenangan.

Masih memejamkan mata, kini tanganku kulingkarkan memeluk lutut dengan daguku kuletakkan tepat di atas lututku. Malam ini, aku ingin membiarkan jiwaku terpilin dalam sebuah lorong waktu. Aku biarkan jiwaku meraba – raba detail dinding ruang masa lalu, hingga dapat kutemukan memoriku yang utuh. Sebuah pertemuan siang tadi, telah menjelma menjadi sebuah pintu. Desingan di kepalaku bergerak cepat.

Jangan lupa ya, reuni jam 1 siang hari ini. Di rumah Dewi.

Sebuah sms dari seorang teman SMP masuk ke telepon genggamku tepat saat aku baru duduk di motor, bersiap memutar gas untuk mulai melaju. Masih satu jam lagi dari waktu yang disepakati, tapi aku telah rapi dan siap untuk berangkat ke tempat tujuan. Sejenak aku terdiam sesampai di tempat tujuan, di depan gerbang sebuah rumah besar yang sangat ku kenal. Rumah yang masih persis sama seperti enam tahun lalu.

Kedatanganku disambut dengan hangat oleh teman – teman yang lebih dulu datang. Kalimat – kalimat klasik mulai dilontarkan; apa kabar? sekarang kuliah dimana? kamu kayaknya ada yang berubah ya sekarang. Kusalami teman – temanku satu persatu, hingga yang terakhir yaitu sang pemilik rumah, Dewi. Ia tersenyum dan memelukku hangat. Batinku merasakan sesuatu.

”Drupadi, mau numpang toilet dong.” Isi kandung kemihku minta dikeluarkan, setelah dua jam mengobrol panjang lebar dengan semua yang datang.

“Tania nggak pernah berubah ya. Dari dulu manggil Dewi selalu pakai nama Drupadi.” Erin menyela.

”Namaku kan emang Drupadi.” Dewi berkacak pinggang berpura – pura marah, lalu menatapku. “Yuk, Tan. Di toilet kamar aku aja.”

Pandanganku berkeliling mengamati kamar Dewi. “Ciee, kamarnya masih serba biru muda.”

“Iya dong, harus itu. Hahahaha.” Dewi membalasku dengan tertawa kecil setelah sebelumnya tersentak sesaat. Mungkin ia tak menyangka aku masih mengingat warna kesukaannya.

Aku dan Dewi malah lanjut mengobrol berdua. Tentang segala hal, seperti yang biasa kami lakukan dulu. Tapi bedanya, kini pembicaraan kami seolah dibatasi oleh sebuah tirai tak kasat mata. Rasanya seperti kalimat – kalimat kami memiliki tepi, terhenti begitu saja di satu titik, lalu senyap. Gadis ini, masih tetap sama. Ikal rambutnya yang bergoyang ringan saat ia tergelak tawa, cara ia berbicara, dan kerjapan matanya saat memandang lawan bicaranya. Ia masih Drupadi-ku yang dulu.

Malam sepulang acara reuni, aku segera menelusuri apa saja yang bisa kutelusuri untuk ‘mengenal’ Drupadi kembali.

Itulah yang baru saja kulakukan, berjam – jam berhadapan dengan layar laptop untuk mencari dan menyusuri akun media sosialnya. Dengan masih memeluk lutut, kupejamkan mataku kembali, mencoba untuk melengkapi serpihan – serpihan kenangan milikku. Desingan di kepalaku kini melambat, perlahan bergerak ke waktu sembilan tahun yang lalu.       

”Halo, boleh kenalan? Nama aku Tania.” Aku mencoba untuk bersikap ramah pada gadis di sebelahku. Aku bosan memperhatikan guru pembimbing ekskul tari yang sedang berpanjang lebar menjelaskan tata tertib ekskul dan gadis berwajah jutek di sebelahku ini lumayan menarik untuk diajak berbicara. Aku tahu, ia satu angkatan denganku. Aku pernah melihatnya saat masa orientasi siswa baru seminggu lalu.

“Namaku Dewi Drupadi.” Gadis itu menjawab dengan dua sudut bibirnya terangkat. Kalau tersenyum ia manis juga, jejak juteknya hilang.

“Apa? Dewi padi??”

“DEWI DRUPADI!” Senyum gadis itu lalu hilang dalam sekejap.

“Eh…maaf…baru denger nama kayak gitu. Terus, aku mesti panggil kamu apa? Dewi?”

“Panggil aja Drupadi.”

Aku tak sadar menaikkan satu alisku, heran. Pertama, nama gadis ini aneh sekali dan aku belum pernah mendengar nama seperti itu. Kedua, dari dua kata namanya itu, mengapa ia tak memilih ‘Dewi’ saja sebagai nama panggilannya? Lebih mudah diucapkan dan hanya terdiri dari dua suku kata. Tapi akhirnya, sekeras apapun ia berusaha memperkenalkan dirinya sebagai Drupadi, teman – teman dan guru – guru di sekolah memanggilnya dengan nama Dewi. Lebih gampang, kata mereka. Pada saat itu, aku belum tahu, gadis yang bernama aneh ini akan menjadi bagian dari hidupku, setidaknya selama masa SMP.

Satu tahun kemudian, aku baru tahu arti dari namanya itu. Ia akhirnya menjawab rasa penasaranku setelah kami mengunjungi pameran lukisan di Taman Ismail Marzuki.

“Emangnya kamu nggak pernah nonton wayang Tan? Atau nggak baca – baca sejarah gitu?”

“Aku nggak suka sejarah. Dan kamu tahu, aku kurang suka dengan legenda – legenda.”

“Kamu ini pecinta budaya tapi kok nggak suka sejarah. Aneh.” Drupadi mengernyitkan dahinya.

“Emangnya nggak boleh? Aku cuma mau menikmati aja apa yang aku lihat sekarang tanpa perlu tahu bagaimana budaya itu terbentuk.”

“Kalau begitu, kamu nggak akan menjiwai budaya itu sendiri.”

“Kan aku udah bilang, aku cuma mau menikmati.”

“Oke, terserahlah. Kamu pernah dengar kisah Pandawa Lima dalam Mahabharata kan? Kisah ini sudah umum sekali.”

“Tahu. Si Yudhistira dan adik – adiknya itu ya?”

“Iya, Yudhistira, Bima, Arjuna, dan si kembar Nakula – Sadewa. Drupadi itu nama putri Kerajaan Panchala dan dijuluki Panchali. Dia istri dari mereka berlima.”

“Kenapa orang tuamu namain kamu pake nama itu?”

”Ayahku pecinta karya – karya sastra klasik Jawa, terutama kisah Mahabharata tadi. Beliau suka sama tokoh Drupadi ini. Katanya, Drupadi adalah perempuan tangguh dan istimewa. Dia yang jadi sumber kekuatan para pandawa lima. Dia tetap setia, bahkan setelah dia dipertaruhkan oleh Yudhistira dalam perjudian dengan para Kurawa sampai akhirnya mereka menjalani hukuman pembuangan dan penyamaran di hutan.”

Aku cuma bisa mengangguk – angguk berpura – pura mengerti. Setidaknya aku tahu satu hal, kecintaan Drupadi pada seni dan budaya jelas menurun dari ayahnya. Ini adalah salah satu hal yang membuatku ‘nyambung’ dengan Drupadi. Aku yang penikmat seni dan budaya ini bisa belajar banyak darinya. Kami sama – sama belajar banyak hal dari satu sama lain. Simbiosis mutualisme kami berjalan sempurna.

Pernahkah kalian bertemu seseorang yang bahkan dapat mengerti ucapan – ucapanmu bahkan sebelum kau berbicara? Seseorang yang mengerti suasana perasaanmu dengan hanya melihat pancaran mata dan arah sudut bibirmu. Drupadi bahkan dapat melakukannya lebih baik dari itu terhadapku. Drupadi yang dengan sabar mendengar tanpa pernah menghakimi. Kata orang, kami adalah dua orang sahabat yang bersinergi dalam kontradiksi. Drupadi yang dikenal pendiam dan terkesan menutup diri berteman dengan aku yang diberi label berisik dan sok tahu oleh orang – orang. Kami yang saling bergantian menduduki peringkat tiga besar bidang akademis di kelas justru lebih sering terlihat belajar bersama dan bukannya saling mengungguli. Bagiku, Drupadi sangat berarti. Aku bahkan telah sampai di batas perasaan dimana aku merasakan takut yang luar biasa bahwa aku tak akan pernah menemukan sahabat seperti dia. Hanya Drupadi yang mampu membuatku yakin untuk melepas seluruh ‘topeng’ku di hadapannya.

Tapi pada akhirnya, sang waktu tampak tidak mau memahami. Tidak, bukan Drupadi yang meninggalkanku, justru akulah yang beranjak pergi darinya.

“Kamu kan udah janji kalau kita mau masuk SMA yang sama.” Ekspresi Drupadi saat itu sungguh tak bisa aku baca.

“Maaf…ayahku nggak bisa nerima alasan apapun buat aku tetap tinggal di sini. Ayah mau kami sekeluarga ikut ayah ke Helsinki.” Aku menggigit bibir bawahku.

“Tania, kamu yang selalu maksa aku buat nggak ninggalin kamu…” Kalimat Drupadi menggantung beberapa saat, “Kenapa…malah…kamu yang pergi?” Aku mendengar ada getaran yang sengaja di tahan dalam suara Drupadi.

“Maafin aku, Drupadi…”

“Kamu nggak usah ikut ke Helsinki!”

“Kalau boleh memilih, aku juga nggak mau kesana!” Seketika tubuhku tersentak dan punggungku dengan kerasnya membentur dinding kamarku. Drupadi mendorongku sekuat tenaga dengan kedua tangannya.

“EGOIS!” Lalu Drupadi pergi begitu saja keluar kamarku, meninggalkan aku yang masih meringis seraya meraba punggungku. Sakit. Sekilas mataku menangkap setitik airmata di sudut mata Drupadi saat ia pergi.

Makin erat kupeluk lututku. Tuhan, apa yang telah ku lakukan? Pada saat itu, aku justru membencinya. Ego kanak – kanakku justru berkata bahwa Drupadi lah yang tak mau mengerti. Aku pergi ke Helsinki begitu saja tanpa merasa perlu mengucapkan kata – kata perpisahan padanya. Telah berlalu enam tahun kini, dan tak sekalipun aku pernah berusaha untuk mengetahui kabarnya. Drupadi benar, aku egois. Aku merasa Drupadi sangat berarti, hingga begitu takut berpisah dengannya. Tapi yang aku tidak tahu, arti diriku baginya juga sama. Hanya perasaanku saja yang ku pedulikan.

       Desingan di kepalaku kini melambat, lalu berhenti. Sudah cukup. Kenanganku yang barusan kembali justru menuntun kedua kakiku berpijak di sebuah perbatasan. Apa yang harus aku lakukan? Berdiam diri seolah tak peduli atau datang kembali padanya dan menyampaikan kata maaf yang telah lama tertunda? Dadaku sesak, takut menerima kenyataan bila ternyata ia tak akan mau memaafkanku.

       Aku tangkupkan kedua tanganku di wajahku. Aku biarkan airmata mengalir menyusup di sela – sela jari kedua tanganku. Biar, biarlah kini rasa bersalah dan sesalku terlarut dulu. Tahukah kau Drupadi apa yang kini menyiksaku? Sebongkah rasa rindu menjalar dalam hatiku dan aku tak tahu bagaimana cara menyampaikannya padamu. Aku sungguh tak tahu.       

 

Bekasi, 15 November 2013

Setitik Asa Dalam Derita Kami

Seorang gadis melangkah gontai menuju sebuah rumah yang terselip di dalam suatu kompleks perumahan. Dalam sekian detik ia membisu tepat di depan rumah yang dituju. Tangannya bergerak tanpa ragu, mendorong habis gerbang rumah yang telah lama dikenalnya itu hingga tercipta jalan baginya untuk masuk. Hawa hangat perlahan menyeruak mendekap kulit sang gadis dari semua penjuru. Inilah yang ia rindu, setelah beberapa lama berburu dalam gempita waktu.

“Capek banget ya Jul?” Seorang wanita muda tersenyum menyambut sang gadis di depan pintu.

“Iya nih, Mbak. Pegel berdiri terus seharian.”

“Emang nggak boleh ya curi-curi waktu duduk sebentar?”

“Yah, ntar Julia dimarahin si bos, Mbak. Hahaha.”

Mbak Lela ikut tertawa menanggapi pernyataan Julia, “Ya udah, kamu istirahat aja dulu. Ohya, Ibu kamu barusan tidur di atas, jangan diganggu ya.”

Gadis itu segera melangkah ke lantai atas, setelah tersenyum mengiyakan perintah Mbak Lela. Julia rindu ibunya. Beberapa jam dalam sehari yang ia habiskan untuk memeras keringat selalu menghadirkan rasa bersalah dalam hati. Andai bisa mendampingi ibu dalam sehari tanpa terbagi, tapi pada realita juga akhirnya ia harus menyerah. Sekian persen dari dua puluh empat jamnya harus teralokasi demi beberapa lembaran rupiah. Asuransi kesehatan membantu pengobatan ibunya, tapi siapa yang akan menanggung hidup mereka di ibu kota? Lelah berdiri seharian memaksakan senyum ke seluruh pengunjung department store kini ia nikmati sebagai bagian dari hidup.

Gadis itu menyusuri wajah ibunya yang lelap. Ada letih hadir di sana, terasa kontras dengan juga adanya pahat raut ketegaran yang nyata. Dalam menjalani hidupnya yang berdarah-darah, ibu bahkan tak pernah menyerah. Lalu mengapa justru ia yang kini mengeluh lelah? Julia membanting tasnya, melepaskan benci yang melesak tumpah. Julia benci kanker payudara stadium 3B yang mengakar di tubuh ibu. Siapa ia hingga berani menyapu kebahagiaan keluarganya satu demi satu. Ibu, ragaku lebih dari rela untuk menampung sekian nyerimu. Biar aku ikut rasakan perihmu. Bahu Julia pelan mengguncang. Terisak.

”Juliaa, ayo makan bareng di bawah!” Mas Dimas menyeru lantang dari lantai bawah, memisahkan Julia seketika dari kesedihan.

“Iyaa sebentar, Mas!” Julia menghapus air mata dengan ujung seragam kerjanya.

”Sini cepet nduk, kita dapet berkah dari langit hari ini.” Pak Tikno sumringah menyambut Julia.

Julia mengendus adanya kebahagiaan malam ini di rumah singgah. “Emangnya ada apaan, Pak?”

“Tadi sore pas kamu kerja ada banyak mahasiswa dateng buat penelitian sekalian ngehibur kita di sini. Mereka juga bawain oleh-oleh buat kita, Jul. Nih ada banyak sembako sama makanan enak.” Mbak Lela mengambil alih penjelasan seraya memamerkan meja makan yang telah penuh oleh bermacam – macam makanan enak. Beberapa penghuni rumah singgah malah telah lahap dengan makanannya. Julia tersenyum lebar.

Ah, Tuhan sungguh Maha Pemurah. Lihatlah, rumah singgah yang biasanya sarat duka malam ini tampak sangat bercahaya. Sebuah uluran tangan dari siapa saja yang peduli mampu membuat semua penderita kanker dan keluarganya berseri-seri bahagia. Julia turut senang. Adanya rumah singgah bagi penderita kanker ini saja telah membantunya mengikis bebannya dalam menghadapi keadaan ibu. Ia merasa memiliki keluarga, yang bersama-sama saling menguatkan.

Ujung matanya menyusuri tiap sudut rumah singgah. Di sofa dekat televisi, Mas Dimas sedang duduk menyuapi ayahnya perlahan-lahan. Mas Dimas dan ayahnya telah setahun menghuni rumah singgah, sejak ayah Mas Dimas didiagnosa menderita kanker nasofaring stadium 2. Mas Dimas telah meninggalkan pekerjaan dan keluarganya di kampung halaman demi merawat ayahnya di Jakarta. Di samping Mas Dimas, ada Bu Sri yang sedang berbincang ringan dengan suaminya, Pak Ahmad yang saat ini sedang berjuang melawan kanker kolonnya. Disampingnya sendiri ada Pak Tikno yang sedang asyik mengunyah kue sus. Dari ceritanya, Julia tahu kalau Pak Tikno adalah seorang survivor yang telah berhasil menghadapi kanker lidah dan memilih menetap di rumah singgah ini. Penghuni yang lain pun tengah asyik dengan obrolan dan makanan masing-masing.

“Mbak Lela…”

“Iya, Jul?”

“Makasih banyak ya, Mbak. Kalau nggak ada rumah singgah ini, Julia nggak tau harus kemana. Kos-kosan semuanya mahal di Jakarta, padahal pengobatan ibu butuh waktu lama. Di sini Julia juga nggak ngerasa sendiri. Semoga Tuhan selalu memberkahi Mbak dan semua pengelola rumah singgah ini, juga orang-orang yang peduli datang ke sini demi kami.”

Mbak Lela memeluk Julia, air matanya menitik, bersamaan dengan sudut bibirnya yang terangkat. Batinnya damai.

PS : Cerpen ini terinspirasi dari perjuangan pasien – pasien kanker & keluarganya di Rumah Singgah Cancer Information & Support Center (CISC) Club 🙂