Mengapa Sulit?

Puluhan kali aku merawat luka milik sesiapa,

Demikian menjahitnya hingga lalu ia kering meninggalkan bekasnya.

Mengapa lantas aku abai merawatnya: luka milikku sendiri.

Mengapa aku abai akan tepinya yang tak juga mengering,

akan ujung saraf yang masih saja menghantarkan nyeri

menyusup terus dan enggan pergi.

Meski sungguh ku tak sudi air mataku jatuh hingga pipi!

Tapi,

Oh Gusti, mengapa demikian sulit sekali?


Tilamuta, 9 Agustus 2017

Advertisements

ekstraterestrial.

Karena dunia memang tidak pernah baik-baik saja. Semua senyum yang terlihat di setiap harinya itu ternyata sedang menyelimuti luka-luka di dalamnya, ibarat opioid yang menenangkan percikan-percikan listrik di saraf jalur nyeri. Semacam topeng mata yang membungkus lebam di kelopaknya yang menghitam.

Kamu, lelah?

Setelah berpasang-pasang telinga jadi tempat dukamu tumpah, sudah jernih kah?

Aku takjub tentang bagaimana riak tawa menyamarkan sedu sedan. Karena luka yang kamu simpan itu bagiku, sungguh, teramat dalam. Mungkin hidup manusia memang tidak akan pernah baik-baik saja. Seperti kamu yang diam-diam merawat bekas luka. Seperti aku yang dahulu ragu mendefinisikan rasa.

Aku tidak menyangka, kamu seorang gadis dalam derasnya derai tawa, seketika mengenyahkan tabir batas antara paham dan duga. Dalam sekian detik seluruh kalimat dari bibirmu meledakkan jembatan penghubung antar kita, mencipta jarak dalam sekejap mata, lantas melemparkan raga kita hingga terpisah samudra.

Kamu, seketika adalah tubuh ekstraterestrial. Meluruhkan segala imaji yang tersusun dalam kepalaku yang meski rumit tapi sederhana, lalu hancur mengikuti rentetan domino yang rapuh tak terkira.

Siapa kamu?

Barangkali itu satu pertanyaan paling pantas ditancapkan kepada sesiapa yang tampak di hadapan. Karena kita masing-masing adalah ekstraterestrial. Atmosfer kita mungkin tercipta hanya untuk dibenturkan lalu terbelah dan terpental sebagai serpihan-serpihan. Saling merasai, juga saling melukai. Saling mencipta bukti kehadiran meski dengan cara yang paling menyakitkan.

Tapi kamu senang, kamu sekali lagi didengarkan. Sekali lagi kamu membuang sampah-sampah perasaan. Kamu pun menjadi percaya eksistensi seseorang yang disebut teman.

Selamat menjalani, selamat berbahagia. Aku di sini, kamu di sana. Biarkan saja. Jalan kita memang akan selalu berbeda.

 

Bekasi hujan, 5 Januari 2017

Bergeming

Seorang gadis bergeming dan mengulang-ulang erat kalimat dalam hatinya,

Andai aku tidak dilahirkan di rumah itu, maka apakah di tempat yang lebih baik ragaku sekarang?

Jika saja aku memaafkan dan bersegera mengenal yang bukan mereka, sudah berapa banyak yang aku torehkan?

Bila saja aku lebih cepat, lebih pandai, lebih menarik, dan mungkin lebih cantik….

Mungkin kau akan lebih peduli kepadaku.

Bila saja bisa kuhentikan sedari awal, mungkinkah Tuhan lebih mudah mengampuni kemudian?

Apakah masih ada harapan-harapan?

Lalu ia hanya bisa terdiam, tubuhnya terbelenggu pertanyaan-pertanyaan

dengan bola mata yang kian silau diterpa kenyataan.

Terinspirasi kisah seorang teman, 22 Desember 2016

Sajak Waktu

Dear waktu,

Kenapa….

Kenapa….

Kenapaaaa….

Kok kamu terburu-buru? Kamu kan bukan lesatan peluru…

Perasaan baru sabtu, kok udah mau rabu

Hidup kadang mesti tertatih dan meletih, masa tau-tau udah jadi ringkih?

Seram…

Bayangin habis bangun dari lelap, lalu say hi ke cermin,

Dan aku udah jadi nenek-nenek…

Rambut tinggal putih, gigi seri entah dimana lagi, keriput sana-sini.

Duh, buruk. Buruk sekali. Karena jadi lansia itu nggak boleh banyak-banyak neguk kopi.

Pelan-pelan, plis…

Emang mau kemana sih?


Ditemani kopi susu,

6 Desember 2016

Dari Drupadi, Kepada Yudhistira

Sebuah kebenaran telah menjadi buah adu domba dua istana adidaya

Bukan aku menghamba Indraprastha, bukan pula aku membenci Hastinapura

Tapi kebenaran punya arti yang tak sama dengan kebodohan

Betapa durjana ia yang menukar kehormatan atas nama kebaikan, mengizinkan orang-orang yang dicintainya dikuasai murka angkara

Betapa sampai hatinya kau menukarku di atas papan dadu,

lantas merenggut paksa singgasana ratu milikku

Barangkali lukaku tampak serupa angin lalu

Karena kau hanya bungkam….

meski titik-titik air terbit di kedua sudut matamu.

Kantor Pajak, lagi nungguin oknum N bikin NPWP. 

Hoaahhmm….

Terima Kasih…

love-silhouette_00374897

 

Ada begitu banyak kebaikan yang tak bisa dibalas dengan bentuk yang persis sama.
Entah terhalang waktu, jarak, atau bahkan diri kita sendiri yang menghalanginya.

Lantas, bagaimana caraku membalas derma yang entah bagaimana bisa kau lakukan itu?
Aku tidak tahu.

Pun tidak mengerti,

sejak kapan karang di matamu itu terkikis menjadi pasir yang membungkus jemari kaki di senja yang hangat?

Sekian dekat jarak kita dalam hitungan tahun bukan berarti aku bisa paham isi otak dan hati milikmu. Bukan berarti bisa kubaca jelas makna tatap itu-yang seringkali sendu.

Meski ku yakin kau tak akan pernah menagih balas atas budimu

Apa yang kau sembunyikan di balik sana? Sebuah ruang gelap yang tiada seorangpun kau izinkan barang menengok menembus jendelanya?

Tidak, aku tak akan lagi bertanya.

Karena aku sudah tahu, bahwasannya kita hanyalah bayangan yang ditakdirkan untuk berpapasan selintas saja.

Terima kasih, untuk kebaikan-kebaikan yang pernah dan kerap kau lakukan
Terima kasih, telah melindungiku sedemikian rupa….

meski tiada pernah aku memintanya.

 

Bekasi, 20 Oktober 2016

Abai

Dear I,

Lebih banyak hal yang tak mampu kita dengar dan lihat

Begitu banyak suara dan ragam bentuk yang tak sanggup ditangkap indera

Dan kontrasnya, justru ilusi atas asumsi yang sangat terang mewujud di depan mata

Maaf….

Aku telah abai atas hadirnya kabut yang mengambang di kedua bola matamu

Telingaku abai mengartikan gelombang pedih dalam suaramu yang lugu

Aku abai menyadari bahwa,

Bahagiaku lah yang telah menjelma racun di hatimu.

 


RSCM, 20 Oktober 2016

Sumber gambar: pinterest

Melarutkan Lelah

​Di antara kerikil-kerikil itu, dapat kau temukan besi rel dan roda kereta yang saling bersitegang. Meski demikian, keduanya tak pernah bertengkar ihwal alasan bertahan.

Juga tentang kelapangan hati bumi di bawah mereka yang telah hafal beban.
Langkah-langkah kaki melesak sambil tangannya menjinjing sebuah (atau mungkin lebih?) pengharapan    -yang tetap bersinar layaknya mercusuar yang dipelihara para syahbandar.

Ah, ihwal kepulangan selalu jadi hal menarik bukan? 

amsal mainan bocah-bocah kegirangan. Juga kulacino-kulacino yang membuktikan rasa cinta meja kayu kepada cangkir kopi dingin. 

Karena kepadanya aku dan kamu, juga mereka mencacah rasa lelah   -meski bukan bertemankan angin pantai atau hembusan gunung, kau akan tetap keras kepala mewujudkan perjalanan. 

Itu demi siapa-siapa yang rasa percayanya tak surut walau demikian banyak yang membuatmu habis daya.


Rumah, 25 Juni 2016

Aku (bukan) Rahwana

Duhai titisan terakhir Widowati,

Adakah yang lebih berani dari keberanian itu sendiri? Karena mataku buram untuk mendefinisikannya   -pun tak tahu cara mewujudkannya.

Menembus Hutan Dandaka seribu kali aku lebih dari mampu, 

tapi tidak saat menatap matamu.

Cukupkah kemegahan istanaku menjadi pusat pandangmu, ataukah sungguh tiada lain kecuali Rama-mu itu?

Shinta,

aku lelaki bengis yang mudah teriris,
ragaku adalah kuburan bagi dosa-dosa manusia yang sesungguhnya tak pernah binasa. Hanya tertidur untuk kemudian bangkit kembali.

Aku ini Rahwana yang egois dan sarat murka,

tapi tak akan kuku jari ini mengenal kulitmu. Cintaku ini platonis, kau tahu?

Sayangnya aku bukan Rahwana dalam keagungan Ramayana,

tersebab alpa keberanian untuk menghadirkanmu di singgasana yang ku punya

di Alengka.

Bogor, 1 Juli 2016

Kotaku Menggenang

IMG_20160815_070045.JPG

Kemarin sore di kotaku hujan, Tuan

Agaknya hanya tanah yang senang tersebab dahaganya terpuaskan. Tapi coba kita tanya orang-orang di tepian, mengapa kiranya mereka tidak merentangkan kedua tangan menyambut anak-anak air yang menghunjam?

Kamu tahu, mengapa hujan selalu dipasangkan dengan beragam rindu, cemas, juga pilu? Mungkin atas nama simpati kepada pejalan kaki dan tukang becak yang tampias satu badan. Hujan juga sebab akan kata pulang yang menjadi samar. Berapa banyak pekerja yang tertahan di toko-toko terminal?

Hujan tidak lantas tentang kenangan layaknya yang tak pernah absen disebut orang. Air-air langit membawa serta koin-koin bagi para anak penjaja payung di jalan-jalan. Yang senyumnya kian lapang seiring saluran-saluran air yang meluber dan menggenang.

Kau bertanya,

apakah aku mencintai hujan?

 

Aku mencintai cara hujan menasihatiku, Tuan

tentang bulir-bulir air yang pasti ada di antara teriknya matahari yang selalu menyenangkan.

 

Hujan di Bekasi, 15 Agustus 2016

Previous Older Entries