Ramadhan Day #14: No Way Back

Besok sudah tepat pertengahan Ramadhan. Kemarin tepat 4 bulan saya bertugas jauh dari rumah. Tadi malam saya sudah tidur di rumah dinas baru, dan saya jadi punya masalah baru. Kalau sedang tidak ada masalah, tentu saya akan malas menulis blog (?).

Masalah kecil sih: homesick.

Ternyata saya terlalu menyepelekan masalah ini, hingga akhirnya ia menyerang saya justru di saat yang sangat menyusahkan. Huft.

Karena konsekuensi akan selalu mengikuti sebuah pilihan, dan inilah konsekuensi yang mesti saya terima. Saya punya banyak pilihan, dulu sekali. Bahkan pilihan terbaik pun tidak berarti bebas dari konsekuensi buruk. Diri kita ini saat mengambil pilihan, sebenarnya bukan berada di sebuah persimpangan dengan banyak cabang. Melainkan, ada di tengah lautan dalam sebuah kapal kayu. Kita bebas mengambil arah manapun dengan cara bagaimanapun. Kita bebas memilih pulau manapun, pantai manapun.

Akan tetapi, begitu saatnya kita sampai di tujuan, kapal yang kita gunakan akan terbakar. Juga tidak ada kapal-kapal lain yang bisa kita gunakan di tempat tujuan.

Dengan kata lain: there’s no way back.

Selamanya keputusan yang kita ambil akan mengiringi selama perjalanan. Ditambah lagi dengan kecemasan-kecemasan: bisakah nanti hidup di tempat tujuan yang baru? apakah justru tidak ada air dan selamanya kita akan hidup dalam kekeringan? Apakah di sana ada makanan yang cukup? dan segala macam pertanyaan tentang esok hari yang tak mungkin jawabannya bisa didapatkan saat ini.

Setiap keputusan yang kita ambil akan terus bergaung hingga akhir hayat dan sekali ada penyesalan, gaung itu akan terus terdengar memekakkan telinga entah sampai kapan. Kita hanya bisa berhati-hati di awal untuk mencegah hal-hal yang kelak menjadi penyesalan. Kita hanya perlu membuang segala jenis kecemasan untuk yakin melangkah ke depan.

 

#notetomyself

Tilamuta, 9 Juni 2017

Advertisements

Ramadhan Day #6: kering

Hampir seminggu sudah Bulan Suci ini berjalan. Waktu memang berjalan cepat, ya, sampai saya pun baru sadar bahwa sebentar lagi tugas saya akan berpindah ke rumah sakit. Pengalaman di Puskesmas ini akan saya tuliskan di bagian tersendiri nanti, InsyaAllah.

Saya memulai Ramadhan tahun ini dengan keadaan hati saya yang kering sekali. #huft

Untuk kesekian kalinya, saya menjalani puasa di kota orang. Literally, saya memang kering di sini karena cuaca yang terik di Gorontalo. Dan parahnya, saat ini saya homesick, sesuatu yang saya kira tak akan saya alami di perantauan saat ini. Mungkin juga saking longgarnya waktu saya di sini, karena kan kesibukan itu bisa menjinakkan rasa rindu.

Ramadhan tahun ini saya gunakan untuk perlahan membasuh hati saya yang kering karena sudah semakin jauh dari-Nya. Dengan lebih banyak membaca Kalam-Nya, mengulang-ulang hafalan, juga sholat sunnah (yang belakangan sudah jarang saya lakukan). Memang, Alquran itu candu. Semakin lama ditinggalkan, hati pun jadi kalap mencari-cari. Seperti ada yang hilang, dan hati jadi menyisakan bagian kosong karena lama ditinggalkan. Kemudian menjadi kering karena sesak diisi dengan hal-hal duniawi saja. šŸ˜¦

Iā€™ve lost myself. Selain hati saya yang menjadi kering, entah mengapa rasanya akhir-akhir ini saya seperti kehilangan diri saya sendiri. Rasanya seperti bergeser dari titik keseimbangan yang selama ini saya jaga. Saya bahkan lupa dengan hal-hal yang pernah saya cintai dulu. Saya menjadi sulit menikmati apa-apa yang dahulu saya suka. Semangat untuk melakukan ini-itu entah mengapa menjadi pudar.

Atau ini karena hati saya yang memang sedang kering saja sehingga rasanya tak ada yang baik-baik saja?

Bulan suci Ramadhan ini jadi sebuah titik balik bagi saya untuk kembali mempertanyakan diri sendiri tentang apa-apa yang menjadi tujuan ke depan. Tentang bakti kepada Sang Pencipta, dan mengukur jarak sudah sejauh apa diri ini telah berpaling dari-Nya. Sehingga akhirnya bisa kembali dekat dengan-Nya dan menemukan diri seutuhnya (lagi).

 

Paguyaman, 01 Juni 2017

Seperti yang Dulu

Kau tahu, betapa sulitnya merajut kembali kepercayaan begitu benangnya telah terurai?

Bagai menyatukan pecahan kaca yang remuk redam. Sungguh, tiada garis rekah yang bisa hilang meski disatukan dengan perekat paling handal.

Meski berulang kali kau mencobanya.

Bagai menyumpal bekas paku yang telah tertanam di dasar kayu. Biar bisa disumpal, sisa karatnya tak akan pernah hilang.

Lalu kau tersadar, kau sangat mungkin sewaktu-waktu ditinggalkan. Tiada jaminan kau menjadi kekal. Dia, kau, kita, manusia biasa.

Hidupmu bukan magis yang lantas berisi hal-hal manis. Dan saat kemudian hadir setitik tinta pahit yang kemudian melebur, semuanya tak lagi sama. Kau merasa kehilangan, tapi saat kau meraba-raba, kau tak tahu bagian mana yang hilang.

Kau hanya merasa……

hilang.

 

Dan keadaan tidak seperti yang dulu lagi.

Sungguh, tiada yang menjadi kekal. Tidak ada.

 

Boalemo, 17 Mei 2017

Jika Kamu…

Jika kamu ingin beranjak pergi, maka pergilah. Aku tak ingin menjadi rantai yang kelak membuatmu sesak.

Jika kamu hendak berlepas diri, ketahuilah, aku tidak menggenggammu erat hingga kau menjelma pasir yang terdesak melepas diri dari sela-sela jari.

Jika kamu masih ingin mencari, kau harus tahu bahwa aku tak akan memaksamu ada di sisi. 

Karena memeluk diri sendiri lebih ku cintai daripada bersama seseorang yang hendak pergi. 


Bekasi, 9 April 2017

2758 km: #myishipmyadventure (1)

Pantas saja saya merasa ada yang kurang di hari-hari saya, dan ternyata itu karena sudah lamaaa sekali tidak merangkai kata-kata. Blog ini saya tinggalkan sementara saat mengurus detail-detail internship maka postingan baru ini pun saya buka dengan cerita internship yang sudah saya jalani satu bulan lebih ini. Di tengah sinyal internet yang bikin frustasi, mari kita mulai tulisan ini *kretekin tangan*

Duluu sekali, nggak ada di bayangan bahwa saya akan menginjakkan kaki di (hampir) ujung Pulau Sulawesi. Saya memang tidak berniat untuk internship di Jakarta dengan berbagai pertimbangan, tapi yang dulu saya incar adalah NTB (especially Lombok), Riau (termasuk Kepri), dan Aceh. Sempat malah terpikir mau ke Papua sekalian tapi……malarianya itu loh. Karena sejauh-jauhnya saya pergi, saya tetap mesti bikin hati orangtua tenang melepas anaknya ini kan šŸ™‚

Dan di sinilah saya, terdampar di provinsi ke-32 Indonesia yang kerap dijuluki Serambi Madinah. Lebih tepatnya mendamparkan diri, karena secara sadar jari-jari saya meng-klik Rumah Sakit Tani dan Nelayan, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo di daftar wahana internship yang milihnya pake rebutan itu. Saya dan tiga teman tercinta saya (sebut saja Niā€™ma, Gina, dan Ridho) dari UPN yang sudah janjian untuk iship di sana untungnya dapat semua dan nggak ada yang salah klik lantas nyasar sendiri ke Maluku atau bahkan Papua. Karna paaaas banget di bawahnya Gorontalo itu nama-nama RS di Maluku.  

IMG-20170210-WA0010.jpg

RSTN Squad, foto di depan RS saat penyambutan

Mereka-mereka inilah yang menjadi keluarga saya di sini, sejawat-sejawat dari seluruh Indonesia. Sebut saja Gratia, Lani, Nadya, Janet, Suryadi, Steve, Erik, Bang Leon (FK Univ Sam Ratulangi), Ummul (FK Unpad), Chintya, Irvin, Fredy (FK UI), Miki, Kevin, Avian (FK UGM), Bang Zaky (FK Trisakti), dan sisanya anak-anak UPN yang saya sebut di atas. Saya bukannya tanpa rasa galau meninggalkan rumah, dan dengan adanya mereka-mereka ini rasanya perantauan jadi lebih mudah.

Apalagi kami satu visi untuk……jalan-jalan ekplor Gorontalo (/^_^)/

Serius, kalau tanpa mereka ini kehidupan internship bisa jadi berat. Itulah mengapa kita akan selalu membutuhkan adanya orang lain di sisi kita dalam keadaan apapun. Saat memilih wahana internship dulu itu, saya sangat bisa memilih RS di DKI Jakarta karena nama-nama RS tersebut masih tampak lengkap di depan mata saat online. Tapi namanya juga pilihan, pun saat itu insyaAllah sudah siap dengan konsekuensinya: jauh dari keluarga dan rumah (lagi), jauh dari teman-teman, jauh dari Starbucks (di Gorontalo enggak ada), dan jauh dari (uhuk) seseorang.

Padahal saat itu saya sedang ingin sekali merawat ayah dan ibu saya dari dekat. Padahal saat itu saya sedang berencana membangun masa depan dengan seseorang, dan kami mesti terpisah 2758 km di kala baru saja memulai.

Tapi saya merasa kalau pengalaman saya tak akan berkembang bila tidak ‘melihat’ keluar dan kemudian telinga saya letih akan suara klakson yang bersahutan di jalanan ibu kota. Teman-teman saya pun akan dominan dari daerah yang sama. Bukan bermaksud mendiskreditkan teman-teman saya yang memilih DKI Jakarta, saya tahu mereka pun punya alasan masing-masing.

Beda dengan Manado, Gorontalo ini kering dan panas buanget. Saking panasnya sampai sayur-sayuran nggak semuanya bisa tumbuh di sini dan berimbas ke harga yang mahal. Ditambah dengan kepercayaan orang sini bahwa “banyak makan sayur bisa bikin asam urat”, maka makin jaranglah penduduk sini makan sayur. Sampai hal ini pernah dibahas di Musyawarah Masyarakat Desa yang dipandu Puskesmas. Ohya, saya masuk di stase Puskesmas dulu di empat bulan pertama, lalu ke IGD, lalu ke bangsal. Dan stase Puskesmas ini adalah waktunya jalan-jalaaaan XD

Selain panas, di sini juga mati lampunya S3dd1 alias tiga kali sehari. *kipas-kipas

Hal yang bikin saya meringis adalah obat-obatan yang memang kurang lengkap di Puskesmas, sinyal yang angot-angotan, dan…..bahasa. Saya masih suka roaming dengar pasien pakai Bahasa Gorontalo. Kalau ada campuran Bahasa Manado-nya saya masih bisa nangkep, tapiiii kalau udah bahasa yang aslinya banget itu….bikin pengin jambak rambut. Rambut saya kok, bukan rambut pasiennya :p

Ini bocoran vocabnya:

Mongoto –> sakit

Lunggongo –> kepala

Bulo’o –> leher

Ulu’u –> tangan

Duhelo –> dada

Ombongo –> perut

Hilawo –: hati

Maka, bahasa gorontalo-nya sakit hati adalah mongoto hilawo. *catet

Berhubung Puskesmas Paguyaman ini pas banget ada di sisi Jalan Trans Sulawesi, jadi ya banyak kasus kecelakaan. Tabrakan ada, kecelakaan tunggal lebih banyak lagi. Keseringan adalah karena demi menghindari hewan (-_-). Percayalah, di sini anda bisa menemui sapi, kambing, ayam, anjing, dan (tentu saja) kucing berkeliaran dimana-mana.


Beginilah kalau lagi ada kasus kecelakaan yang banyak dan berat, kita ramean ngerjainnya. Ini pas jam jaga saya, emang teman-teman saya ini lovely banget deh mau pada bantuin. Percayalah, ini selfie dan senyum riang bukan karena menertawakan pasien, tapi ya gitu, maybe sudah kebal dengan bau darah dan kalau stres yang ada nanti malah tegang. Untungnya kelompok saya ini kompak banget, termasuk otak kriminalnya. Tenang, bukan kriminal yang enggak-enggak kok.

Kompak lainnya adalah kalau yang satu masak, yang lain cuci piring sama cuci beras. Yang satu ambil laundry, yang lain beli galon. Yang satu ambil libur, yang lain nge-back up. Menikmati playlist JOOX di mobil rame-rame. Dan setelah hampir lewat dua bulan ini, saya langsung yakin bahwa masa satu tahun internship ini akan jadi masa yang kelak akan saya rindukan. Seperti saya merindukan Ambawara, seperti saya merindukan Palembang, Semarang, dan Magelang.

Ini destinasi pertama kami, Pantai Bolihutuo.

Kami datang kesini saat belum terpisah jadi kelompok-kelompok stase, jadi masih ber-20. Saya akui, Gorontalo ini cantik banget secara keseluruhan. Kanan-kiri jalan pemandangan bukit, sawah, ladang jagung, dengan pohon kelapa yang melambai-lambai. Apalagi buat yang dari kecil tinggal di kota macam saya, pengalaman kayak gini bikin saya bersyukur banget.

Perjalanan menuju air terjun Ayuhulalo, bikin adem mata banget.

Ini air terjunnya, nggak terlalu ‘wah’ memang, tapi di Gorontalo ada air terjun-air terjun lain yang kece banget

Kalau yang ini, view saat menuju air terjun Bontula


and this is the waterfall


Geng Puskesmas Paguyaman in Red

Ini Desa Bongo, dulu namanya Kampung Bubohu dan daerah ini bekas kekuasaaan Kerajaan Gorontalo. Desa ini disebut juga Desa Religi karena merangkap pesantren alam. Rumah-rumah di belakang kami itu adalah tempat dilakukannya halaqoh dan kolam di bawah kami biasanya ada airnya tapi saat ini sedang kering. Merpatinya banyaaak dan kalau mau ngasih makan bisa beli jagung satu gelas seharga Rp. 5000,-. Baru aja nadahin tangan yang menggenggam jagung, burung-burung merpati pasti langsung berdatangan. Tapi ya gitu….tetep sulit ditangkep.

Namanya juga jinak-jinak merpati >.<

Di dekat situ ada Masjid Walima Emas yang punya view bagus tapi sayangnya saat kami kesana gerbangnya sedang ditutup dan penjaga gerbangnya lagi pergi entah kemana. Masjid ini pas banget di atas jadi kalau melihat ke bawah bisa menikmati hamparan bukit hijau dengan pantai dan lautan luas.

Ini di Desa Girisa, kami bela-belain bertujuh datang ke Posyandu di Desa ini demi berfoto lengkap di perahu katinting hehee. Biasanya kalau anak-anak internship kesini pasti sambil ke pantai di Desa Balate lalu bakar-bakar ikan. Tapi sayang, Kak Mano yang biasanya mensponsori bumbu untuk bakar ikan saat itu sedang sakit.


Mukanya seneng, padahal aslinya takut kecebur….

Destinasi terakhir sampai saat saya menulis postingan ini, Pantai Libuo di Pohuwato. 

Di sana kami kumpul lagi ber-20 untuk BBQ-an. Tapi sayangnya saya belum sempat foto di dermaganya. Saya selalu suka suasana pantai saat senja, always awesome. Wish you were here with me, Mas. 

Ini baru postingan pertama tentang internship dan bakal ada postingan-postingan selanjutnya insyaAllah. Masih ada kisah IGD dan bangsal. Masih ada Pulau Saronde, masih ada Taman Laut Olele, masih ada wisata hiu paus Batubarani, Tanjung Karang, Paguyaman Pantai, dan yang pasti…..PULAU CINTA!

Dan weekend ini saya akan ikut Travelling and Teaching Gorontalo #5. Untuk kedua kalinya saya mencicip jadi relawan. Kalau dulu sebagai guru (meski nggak berbakat), yang sekarang ditambah pengobatan massal. Plus snorkeling di Taman Laut Olele #tetep.

See ya when I see ya. šŸ™‚ ā¤


Desa Molombulahe, 23 Maret 2017

Aku Tidak Berjanji

Aku tidak menjanjikan hidup tanpa badai dan guntur, tidak berjanji untuk langit yang selalu biru. Karena aku pun seringkali tampias oleh hujan yang bahkan masih urung menderas tersebab aku terlambat berteduh. Tersebab payung yang seringkali lupa kusertakan.

Aku tidak pernah berjanji bahwa ragaku kelak senantiasa terasa inderamu, tidak menjanjikan genggaman jemari di setiap waktu meski tak pernah berkurang rasa cinta padamu. 

Aku enggan menjanjikan hidangan dan teh hangat yang tak pernah alpa di meja, dengan rasa yang tepat luar biasa. Juga, aku enggan berjanji bahwa hanya akan ada sunggingan senyuman di muka, bukan tetesan air di sudut mata. Aku hanya perempuan biasa -seperti yang lainnya.

Aku tidak berjanji untuk selalu menjadi kuat hingga akhir hayat, pun tak akan pernah terus setegar karang yang tetap kokoh digilas ombak lautan. 

Sungguh, aku tidak berjanji.

Aku hanya bisa menjanjikan ragaku menjadi tempat berbagi peluk dan telingaku untuk berbagi suara guntur. Aku hanya mampu berjanji untuk menjelma teman bagimu berdansa di tengah-tengah badai.

Aku hanya menjanjikan bahwa hatiku tidak akan pergi kemana-mana sejauh apapun jarak tiada mungkin dipangkas di antara kita. Meski aku hanya bisa tersenyum dari jauh.

Aku hanya sanggup berjanji untuk berusaha menyajikan nasi dan lauknya yang hangat untukmu di tengah-tengah waktu yang ada kalanya sulit sekali dikompromi.

Aku memang tidak akan selalu kuat, karena kelak aku membutuhkanmu. Pundakmu, lenganmu, tempat kelak aku rebah mencari damai dan perlindungan. Karena kamu kelak menjadi definisi rumahku yang baru.

Iya, aku hanya sanggup menjanjikan itu kepadamu.


Boalemo, 23 Maret 2017

Happy 55.

Bila ditanya siapa lelaki yang kucintai melebihi dunia dan seisinya, maka hanya namamu yang ku ucap,

tanpa terbata dan cukup sepatah kata.

Pria yang mencintaiku bahkan sejak sebelum memahami rupa,

apa adanya. Pahlawanku satu-satunya di dunia. 

Lebih dari setengah abad sudah dan ku memohon pada-Nya untuk usia yang lebih dan lebih lagi.

Karena telingamu adalah peredam paling tebal untuk semua tangisku, dan lenganmu adalah rebah paling hangat tempatku meluruh mengais damai. 

Selamat bertambah usia di hari penuh cinta. Dari sulungmu yang sedang jauh kini. 

14 Februari 2017

saya lupa…

Saya lupa rasanya girang menggenggam buku yang baru dibeli, seakan hari itu adalah hari terakhir ia bisa dinikmati.

Saya lupa seperti apa rasa hati dan mata yang terpaku pada deretan-deretan kalimat yang membungkus rentetan cerita.

Saya lupa bagaimana saya bisa tidak tidur demi akhir sebuah kisah yang dijanjikan oleh bab-bab baru.

Saya lupa seperti apa ledakan klimaks yang menjalari saraf-saraf di saat saya sampai di bagian paling seru sebuah buku. 

Saya lupa betapa badai serotonin bisa sedahsyat itu meluluhlantakan kesadaran dunia saya, membuatnya terputus dari segala macam bentuk realita.

Ah, saya lupa candu saya. 


Aarrghh plzzz somebody help meh with this linear regression yang bikin saya pingin muntah *guling-guling* šŸ˜„šŸ˜„šŸ˜£

ekstraterestrial.

Karena dunia memang tidak pernah baik-baik saja. Semua senyum yang terlihat di setiap harinya itu ternyata sedang menyelimuti luka-luka di dalamnya, ibarat opioid yang menenangkan percikan-percikan listrik di saraf jalur nyeri. Semacam topeng mata yang membungkus lebam di kelopaknya yang menghitam.

Kamu, lelah?

Setelah berpasang-pasang telinga jadi tempat dukamu tumpah, sudah jernih kah?

Aku takjub tentang bagaimana riak tawa menyamarkan sedu sedan. Karena luka yang kamu simpan itu bagiku, sungguh, teramat dalam. Mungkin hidup manusia memang tidak akan pernah baik-baik saja. Seperti kamu yang diam-diam merawat bekas luka. Seperti aku yang dahulu ragu mendefinisikan rasa.

Aku tidak menyangka, kamu seorang gadis dalam derasnya derai tawa, seketika mengenyahkan tabir batas antara paham dan duga. Dalam sekian detik seluruh kalimat dari bibirmu meledakkan jembatan penghubung antar kita, mencipta jarak dalam sekejap mata, lantas melemparkan raga kita hingga terpisah samudra.

Kamu, seketika adalah tubuhĀ ekstraterestrial. Meluruhkan segala imaji yang tersusun dalam kepalaku yang meski rumit tapi sederhana, lalu hancur mengikuti rentetan domino yang rapuh tak terkira.

Siapa kamu?

Barangkali itu satu pertanyaan paling pantas ditancapkan kepada sesiapa yang tampak di hadapan. Karena kita masing-masing adalah ekstraterestrial. Atmosfer kita mungkin tercipta hanya untuk dibenturkan lalu terbelah dan terpental sebagai serpihan-serpihan. Saling merasai, juga saling melukai. Saling mencipta bukti kehadiran meski dengan cara yang paling menyakitkan.

Tapi kamu senang, kamu sekali lagi didengarkan. Sekali lagi kamu membuang sampah-sampah perasaan. Kamu pun menjadi percaya eksistensi seseorang yang disebut teman.

Selamat menjalani, selamat berbahagia. Aku di sini, kamu di sana. Biarkan saja. Jalan kita memang akan selalu berbeda.

 

Bekasi hujan, 5 Januari 2017

Review Anime: Kimi no Na wa (Your Name)

“Once in a while when I wake up, I find myself crying. I can never recall, but there’s sensation that I’ve lost something, lingers for long time after I wake up.”

mv5bmzbhntcxmtetymq1ys00njc1ltk0mtmtnjq2ngmzody0yzq4l2ltywdll2ltywdlxkeyxkfqcgdeqxvynde3otayndu-_v1_

Suatu pagi, Taki terbangun dari tidurnya dan sadar seketika bahwa tubuhnya adalah tubuh perempuan remaja. Tidak ada hal aneh yang terjadi sebelumnya. Taki sadar, jiwanya berada di tubuh orang lain, di tubuh seorang gadis.

Pemilik asli tubuh yang ‘didiami’ oleh Taki itu bernama Mitsuha, seorang gadis pelajar SMA di sebuah desa bernama Itomori. Mitsuha lahir di keluarga penjaga kuil dan sedari kecil tinggal bersama nenek dan adiknya tersebab ibunya telah lama meninggal dan ayahnya tinggal terpisah, memilih menyibukkan diri sebagai walikota Itomori.

Di kota lain, Tokyo, jiwa Mitsuha tinggal di tubuh Taki, seorang anak laki-laki metropolitan yang punya pekerjaan sampingan sebagaiĀ waiterĀ di sebuah restoran Italia dan suka menggambar. Taki dan Mitsuha bertukar tubuh dua hingga tiga kali dalam seminggu dan saling meninggalkan catatan bagi satu sama lain tentang bagaimana memperlakukan tubuhnya. Mitsuha sempat sengaja membuat Taki jadi semakin dekat dengan gebetannya, Nona Okudera dan saat ia kembali di tubuhnya sendiri di pagi hari, entah mengapa ia menangis. Tangis yang ia sendiri tidak tahu sebabnya.

mv5bywm3zddkmmmtnwjknc00ngjjlwizywutmzgxnthizjk5ztbmxkeyxkfqcgdeqxvymzgxodm4njm-_v1_

Suatu ketika, Mitsuha dan Taki tak pernah bertukar tubuh lagi dan nomor Mitsuha tak bisa dihubungi. Berbekal ingatannya saat bertukar tubuh, Taki menggambar Desa Itomori sebagai bekalnya mencari Mitsuha bersama Okudera dan Tsukasa. Taki sampai di tempat tujuan, tapi apa yang ditemukannya?

Hanya sebuah danau besar disertai reruntuhan sebuah kota.Ā Village that vanished.Ā Itomori telah hancur tiga tahun yang lalu dan tak menyisakan seorangpun penduduknya. Komet Tiamat yang indah dan melewati Jepang tiga tahun yang lalu tanpa disangka telah terpecah menjadi meteorĀ dan jatuh menghantam tepat Desa Itomori yang sedang merayakan festival. Nama Mitsuha ada di daftar warga yang meninggal.

Taki semakin yakin bahwa apa yang ia alami sebelumnya hanya mimpi, tapi mengapa bisa begitu nyata?

Dan Taki semakin melupakan nama Mitsuha…..

“I feel like I’m always searching for something, for someone.Ā Someone dear to me. I shouldn’t forget, I didn’t want to forget!”

Tapi suara Mitsuha terdengar berulang-ulang di kepalanya. Taki nekat mendatangi bekas reruntuhan Itomori dan berjalan menuju sebuah pohon besar dimana kuchikami-zake buatan Mitsuha disimpan di sana. Taki meminum sake yang merupakan separuh jiwa Mitsuha itu dan seketika kembali ke masa dimana Mitsuha masih hidup, tiga tahun lalu. Keduanya bertukar tubuh lagi.

Taki bertekad untuk menyelamatkan Mitsuha dan orang-orang Desa Itomori dari komet Tiamat. Taki bertekad untuk mengubah masa lalu dan mengembalikan Mitsuha.

Mitsuha dan Taki akhirnya bertemu di pinggir Danau Itomori, di senja hari, saat kataware-doki, waktu dimana dua dunia yang berbeda bisa terhubung.

thumb-1920-737407

 

Keduanya menuliskan nama masing-masing di telapak tangan agar tak saling melupakan. Tapi sayangnyaĀ kataware-dokiĀ sudah berlalu saat Mitsuha belum selesai menuliskan namanya di telapak tangan Taki. Senja berlalu dan Mitsuha yang sudah kembali ke tubuh aslinya melanjutkan tekad Taki untuk menyelamatkan desanya.

Tetapi, keduanya kembali saling melupakan nama masing-masing. Begitupun Mitsuha yang pada akhirnya lupa nama Taki, karena yang ditulis Taki di telapak tangannya bukan namanya sendiri, melainkan….

i-love-you

uuuuu sweet bangeeet #yhabaper

Lalu….

Apakah Mitsuha berhasil menyelamatkan Itomori dan mengubah takdirnya? Hingga akhirnya ia bisa bertemu Taki di masa depan?

Apakah Taki dan Mitsuha akhirnya bisa bersama?

Nonton film-nya aja yah hehhee, udah banyak di situs donlot-an. Ini aja kayaknya udah spoiler banget :p

Makasih banyak banget buat teh ninih alias Nima yang udah ngebagi film yang lagi ngehits ini. IMDBnya 8.8! Seneng banget, apalagi buat penikmat anime, kartun, dan animasi macam saya ini hehehee.

IniĀ anime-nya diproduksi oleh Makoto Shinkai dan ceritanya diambil dari novel beliau sendiri. Anime ini jadi anime dengan pendapatan kotorĀ tertinggi kedua sepanjang sejarah (288.8 dollar AS). Ost-nya juga enak-enak menurut saya,Ā dibuat sama band rock asal Jepang Radwimps. Judul-judulnya:

  1. Sparkle
  2. Kataware-doki
  3. Zenzenzense
  4. Yume Toro
  5. Nandemonaiya

Ini Sparkle, videonya bisa jadi sekalianĀ teaser-nya…

 

Kalau yang ini versi instrumentalnya Kataware-doki, enak banget jadiĀ lullaby…

 

Karena masih demam Kimi no Na wa ini, sampai adaĀ meme-nya coba di 9gag,

1483104717818_1483167417367.jpg

Hahahahahahaa ngacoo

Selamat menyambut tahun baru! ā¤

Depok, 31 Desember 2016

Previous Older Entries Next Newer Entries