Lemesin Aja, Jangan Dilawan

“Lemesin aja, jangan dilawan.” -entah siapa

Sungguh, kalimat di atas ini sangat berguna di banyak aspek kehidupan. Apalagi buat orang pencemas macam saya. Apa-apa dipikirin. Segala macam dipusingin. Nasib, jadi orang HSP (silahkan dicari artinya bagi yang belum tahu). Terlihat pedas di luar, padahal dalamnya kinyis-kinyis: kayak keripik maicih. Digigit sedikit langsung ambyar jadi serpihan-serpihan. Melankolis total.

Saya sendiri biasanya menggunakan kalimat di atas itu saat periksa pasien stroke, untuk menguji lateralisasi dan gerak pasifnya.

“Lemesin aja Pak/Bu tangannya, jangan dilawan ya tangan saya….” Begitu.

Tapi kalimat ini sekarang saya pakai buat menenangkan diri. Kita memang terkadang mesti terlihat kuat demi menenangkan orang lain, tapi justru cara untuk membuat diri kita tenang adalah sebaliknya, yaitu: menerima bahwa diri kita ini sebenarnya lemah. Sebenarnya sungguh membutuhkan orang lain.

Saya memang sedang lemah, hati saya seakan sesak oleh berbagai macam emosi yang mungkin diciptakan oleh pikiran saya sendiri. Karena saya seakan baru tersadar bahwa saya mulai kehilangan. Entah teman-teman, keluarga, juga momen bahagia. Meskipun suatu kehilangan itu berarti menyambut kebahagiaan baru, tetap rasanya kaki-kaki ini dirantai dengan bola-bola besi.

Seorang bapak (bukan bapak saya-red) pernah menasihati saya,

“Momen menyenangkan di masa lalu itu ada untuk dikenang, tapi Rifa jangan pernah tinggal lama-lama di sana.”

Bapak ini juga yang pernah menasihati saya untuk jujur dengan perasaan sendiri. Katanya, “Kalau sedih menangislah, kalau ingin tertawa ya silahkan saja sampai terbahak-bahak. Jangan terkungkung oleh image tentang kamu yang dibuat oleh dirimu sendiri.”

Dan saat ini saya ingin me-‘lemas’-kan kebaperan ini. Biar saja, nggak usah dilawan. Percayalah, jadi orang kuat itu melelahkan. Apalagi kalau kamu pura-pura kuat. Air mata itu ada untuk dikeluarkan bersamaan dengan beban-beban di pundakmu. Setelah beban-bebanmu larut dan keluar, baru setelah itu kamu bisa kembali berdiri tegak.

Saya pernah membangun benteng yang begitu tinggi dan tebal demi melindungi hati dan jiwa. Dari apapun. Karena keadaan pun menuntut demikian. I was in dominant position for several times. Kamu nggak bisa jadi lemah kalau kamu yang jadi kepala, kan? Kamu akan berusaha sekuat tenaga tetap tegak bila kamu yang jadi sandaran kan?

Dan saya pernah menjadi orang keras kepala nan egois yang tidak mau mendengarkan kata-kata orang lain terlebih dahulu, sampai kemudian seorang teman mengingatkan tentang hal ini di hari ulang tahun ke-17 saya.

Kalau kamu berkata bahwa….

jomblo bahagia itu nggak ada dan perempuan jomblo itu menderita,

bahwa semua wanita mau menikah karena ingin ada yang menanggung semua biaya,

bahwa wanita nggak cukup kuat dengan dirinya sendiri,

saya bisa berkata bahwa anda salah besar. 

Percayalah, banyak wanita yang bisa berdiri tegak di atas kakinya sendiri. Banyak wanita yang  merasa puas dengan dirinya sendiri. 

Dulu, saya kira seorang wanita bisa menjadi pemimpin. Dimanapun, dalam keadaan apapun. Setelah berbagai ilmu yang saya dapat di boarding school, di buku-buku, dan dirumah saya sendiri, saya tahu kalau perempuan tak bisa menjadi pemimpin di satu tempat: rumah tangga. 

Setinggi apapun jabatan seorang wanita di kantor, seberapapun anak buahnya di organisasi, tetap dia mesti menjadi makmum di rumah. Sebuah pemahaman yang dulu tak bisa saya terima. Dulu saya pikir, kisah suami-suami takut istri itu wajar adanya dan dibenarkan. Memang banyak terjadi, tapi ternyata bukan hal yang benar.

Setara bukan berarti menduduki posisi yang sama. 

Laki-laki dan perempuan punya derajat yang sama di mata-Nya, tapi diciptakan dengan peran berbeda. Hierarki memang sudah menjadi takdir manusia. Karena rumah tangga tentu tidak bisa berjalan dengan dua kepala. Bahwa Allah pun menciptakan dua jenis kelamin dengan perangkat dan kebutuhan psikologis yang berbeda. Laki-laki akan hancur bila sisi kepemimpinan dan egonya dilukai, sedang perempuan dengan mudahnya hancur bila perasaannya disakiti.

Dulu saat jadi panitia acara keagamaan di kampus, saya dan teman-teman muter-muter di pasar mencari barang. Karena melihat teman laki-laki saya bawa barang banyak, spontan saya ambil salah satu barang dari tangannya. Tujuannya yaa cuma satu: membantu. Tapi dia malah diam lalu bicara,

“Lo melukai harga diri gue, Rif…..”

Hayati bingung, apa yang salah dengan niat baik hamba?

Dan akhirnya saya belajar bahwa dalam sebuah hubungan, kemandirian wanita yang berlebih bisa menjadi bumerang dalam relationship-nya. Dominasi perempuan bisa menjadi penghancur rumah tangganya sendiri. Dan saya pernah ragu, apakah saya bisa bertemu dengan laki-laki yang bisa mendominasi saya tapi tanpa mengintimidasi? Seseorang yang bisa membuat saya mau mendengarkan dan taat padanya tanpa rasa terpaksa.

Seseorang yang membuat saya mengingat kalimat, “Lemesin aja, jangan dilawan.” untuk ego dan keras kepalanya saya.

Nyatanya (dulu) saya lebih sering bertemu dengan laki-laki baik yang pada akhirnya lebih cocok untuk saya kendalikan. Salah satu alasan mengapa perempuan mulai mendominasi adalah karena tidak cukup banyak laki-laki yang cakap menjadi pemimpin.

Tapi, saya sudah bertemu dengan laki-laki yang saya maksud di atas. Seseorang yang insyaAllah tepat untuk menjadi partner sehidup semati. Laki-laki yang membuat saya tidak melakukan effort yang sedemikian besar hanya untuk merasa nyaman, yang meyakinkan hati saya untuk merobohkan benteng dan membangun jembatan menujunya.

Orang yang membuat saya dengan sukarela meluaskan ruang penerimaan, meletakkan ego dan menyusun ulang ambisi pribadi demi menjalani ibadah besar bernama pernikahan.

Karena pernikahan adalah ibadah seumur hidup. Mesti dijalani dengan orang yang mau sama-sama terus belajar meski tertatih. Salah memilih pasangan, maka neraka mengiringi seumur hidup.

Dan kami masih harus menunggu, demi jalan hidup yang lebih baik. InsyaAllah 🙂

 

“Benar aku cinta, tapi ku percaya. Kau yang kuinginkan tak harus hari ini.

Mungkin hari nanti kamu ada di sisi, kita kan bersama dalam indahnya cinta.”

-Tak Harus Hari Ini by Iqbal Ceka

 

Bekasi, 20 Juli 2017