Tumbang

Setelah lama sekali tidak sakit (lupa kapan terakhir sakit), hari ini saya kembali harus merasakan sakit. Demam tinggi yang membuat saya setengah hari menggigil. Salah saya yang nggak memperhatikan proteksi diri sendiri di rumah sakit.

Kelar periksa pasien, kadang lupa cuci tangan.

Nggak pakai masker saat periksa pasien batuk-pilek. Kalau ndilalah itu pasien TB-MDR (kebal obat), bisa kelar hidup saya.

Itulah maknanya prinsip “save yourself first before you save others”.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya merasakan nyeri sebadan-badan. Ditambah low back pain yang kambuh, akibat posisi sehari-hari yang kurang ergonomis. Terutama saat mencuci baju dan menyetrika, yang membuat tulang belakang saya mesti membungkuk dalam waktu lama.

Atau memang tubuh saya saja yang lemah? Padahal beban kerja juga nggak berat-berat amat. Hadeh…

Mungkin Allah ingin saya agar lebih bisa simpati terhadap keadaan pasien.

Mungkin sakit yang nggak seberapa ini bisa membantu menggugurkan dosa-dosa saya.

 

Hasil gambar untuk save yourself first

Source: youthspecialties.com 

Tilamuta, 28 September 2017

 

 

Advertisements

Ramadhan Day #6: kering

Hampir seminggu sudah Bulan Suci ini berjalan. Waktu memang berjalan cepat, ya, sampai saya pun baru sadar bahwa sebentar lagi tugas saya akan berpindah ke rumah sakit. Pengalaman di Puskesmas ini akan saya tuliskan di bagian tersendiri nanti, InsyaAllah.

Saya memulai Ramadhan tahun ini dengan keadaan hati saya yang kering sekali. #huft

Untuk kesekian kalinya, saya menjalani puasa di kota orang. Literally, saya memang kering di sini karena cuaca yang terik di Gorontalo. Dan parahnya, saat ini saya homesick, sesuatu yang saya kira tak akan saya alami di perantauan saat ini. Mungkin juga saking longgarnya waktu saya di sini, karena kan kesibukan itu bisa menjinakkan rasa rindu.

Ramadhan tahun ini saya gunakan untuk perlahan membasuh hati saya yang kering karena sudah semakin jauh dari-Nya. Dengan lebih banyak membaca Kalam-Nya, mengulang-ulang hafalan, juga sholat sunnah (yang belakangan sudah jarang saya lakukan). Memang, Alquran itu candu. Semakin lama ditinggalkan, hati pun jadi kalap mencari-cari. Seperti ada yang hilang, dan hati jadi menyisakan bagian kosong karena lama ditinggalkan. Kemudian menjadi kering karena sesak diisi dengan hal-hal duniawi saja. 😦

I’ve lost myself. Selain hati saya yang menjadi kering, entah mengapa rasanya akhir-akhir ini saya seperti kehilangan diri saya sendiri. Rasanya seperti bergeser dari titik keseimbangan yang selama ini saya jaga. Saya bahkan lupa dengan hal-hal yang pernah saya cintai dulu. Saya menjadi sulit menikmati apa-apa yang dahulu saya suka. Semangat untuk melakukan ini-itu entah mengapa menjadi pudar.

Atau ini karena hati saya yang memang sedang kering saja sehingga rasanya tak ada yang baik-baik saja?

Bulan suci Ramadhan ini jadi sebuah titik balik bagi saya untuk kembali mempertanyakan diri sendiri tentang apa-apa yang menjadi tujuan ke depan. Tentang bakti kepada Sang Pencipta, dan mengukur jarak sudah sejauh apa diri ini telah berpaling dari-Nya. Sehingga akhirnya bisa kembali dekat dengan-Nya dan menemukan diri seutuhnya (lagi).

 

Paguyaman, 01 Juni 2017