Lemesin Aja, Jangan Dilawan

“Lemesin aja, jangan dilawan.” -entah siapa

Sungguh, kalimat di atas ini sangat berguna di banyak aspek kehidupan. Apalagi buat orang pencemas macam saya. Apa-apa dipikirin. Segala macam dipusingin. Nasib, jadi orang HSP (silahkan dicari artinya bagi yang belum tahu). Terlihat pedas di luar, padahal dalamnya kinyis-kinyis: kayak keripik maicih. Digigit sedikit langsung ambyar jadi serpihan-serpihan. Melankolis total.

Saya sendiri biasanya menggunakan kalimat di atas itu saat periksa pasien stroke, untuk menguji lateralisasi dan gerak pasifnya.

“Lemesin aja Pak/Bu tangannya, jangan dilawan ya tangan saya….” Begitu.

Tapi kalimat ini sekarang saya pakai buat menenangkan diri. Kita memang terkadang mesti terlihat kuat demi menenangkan orang lain, tapi justru cara untuk membuat diri kita tenang adalah sebaliknya, yaitu: menerima bahwa diri kita ini sebenarnya lemah. Sebenarnya sungguh membutuhkan orang lain.

Saya memang sedang lemah, hati saya seakan sesak oleh berbagai macam emosi yang mungkin diciptakan oleh pikiran saya sendiri. Karena saya seakan baru tersadar bahwa saya mulai kehilangan. Entah teman-teman, keluarga, juga momen bahagia. Meskipun suatu kehilangan itu berarti menyambut kebahagiaan baru, tetap rasanya kaki-kaki ini dirantai dengan bola-bola besi.

Seorang bapak (bukan bapak saya-red) pernah menasihati saya,

“Momen menyenangkan di masa lalu itu ada untuk dikenang, tapi Rifa jangan pernah tinggal lama-lama di sana.”

Bapak ini juga yang pernah menasihati saya untuk jujur dengan perasaan sendiri. Katanya, “Kalau sedih menangislah, kalau ingin tertawa ya silahkan saja sampai terbahak-bahak. Jangan terkungkung oleh image tentang kamu yang dibuat oleh dirimu sendiri.”

Dan saat ini saya ingin me-‘lemas’-kan kebaperan ini. Biar saja, nggak usah dilawan. Percayalah, jadi orang kuat itu melelahkan. Apalagi kalau kamu pura-pura kuat. Air mata itu ada untuk dikeluarkan bersamaan dengan beban-beban di pundakmu. Setelah beban-bebanmu larut dan keluar, baru setelah itu kamu bisa kembali berdiri tegak.

Saya pernah membangun benteng yang begitu tinggi dan tebal demi melindungi hati dan jiwa. Dari apapun. Karena keadaan pun menuntut demikian. I was in dominant position for several times. Kamu nggak bisa jadi lemah kalau kamu yang jadi kepala, kan? Kamu akan berusaha sekuat tenaga tetap tegak bila kamu yang jadi sandaran kan?

Dan saya pernah menjadi orang keras kepala nan egois yang tidak mau mendengarkan kata-kata orang lain terlebih dahulu, sampai kemudian seorang teman mengingatkan tentang hal ini di hari ulang tahun ke-17 saya.

Kalau kamu berkata bahwa….

jomblo bahagia itu nggak ada dan perempuan jomblo itu menderita,

bahwa semua wanita mau menikah karena ingin ada yang menanggung semua biaya,

bahwa wanita nggak cukup kuat dengan dirinya sendiri,

saya bisa berkata bahwa anda salah besar. 

Percayalah, banyak wanita yang bisa berdiri tegak di atas kakinya sendiri. Banyak wanita yang  merasa puas dengan dirinya sendiri. 

Dulu, saya kira seorang wanita bisa menjadi pemimpin. Dimanapun, dalam keadaan apapun. Setelah berbagai ilmu yang saya dapat di boarding school, di buku-buku, dan dirumah saya sendiri, saya tahu kalau perempuan tak bisa menjadi pemimpin di satu tempat: rumah tangga. 

Setinggi apapun jabatan seorang wanita di kantor, seberapapun anak buahnya di organisasi, tetap dia mesti menjadi makmum di rumah. Sebuah pemahaman yang dulu tak bisa saya terima. Dulu saya pikir, kisah suami-suami takut istri itu wajar adanya dan dibenarkan. Memang banyak terjadi, tapi ternyata bukan hal yang benar.

Setara bukan berarti menduduki posisi yang sama. 

Laki-laki dan perempuan punya derajat yang sama di mata-Nya, tapi diciptakan dengan peran berbeda. Hierarki memang sudah menjadi takdir manusia. Karena rumah tangga tentu tidak bisa berjalan dengan dua kepala. Bahwa Allah pun menciptakan dua jenis kelamin dengan perangkat dan kebutuhan psikologis yang berbeda. Laki-laki akan hancur bila sisi kepemimpinan dan egonya dilukai, sedang perempuan dengan mudahnya hancur bila perasaannya disakiti.

Dulu saat jadi panitia acara keagamaan di kampus, saya dan teman-teman muter-muter di pasar mencari barang. Karena melihat teman laki-laki saya bawa barang banyak, spontan saya ambil salah satu barang dari tangannya. Tujuannya yaa cuma satu: membantu. Tapi dia malah diam lalu bicara,

“Lo melukai harga diri gue, Rif…..”

Hayati bingung, apa yang salah dengan niat baik hamba?

Dan akhirnya saya belajar bahwa dalam sebuah hubungan, kemandirian wanita yang berlebih bisa menjadi bumerang dalam relationship-nya. Dominasi perempuan bisa menjadi penghancur rumah tangganya sendiri. Dan saya pernah ragu, apakah saya bisa bertemu dengan laki-laki yang bisa mendominasi saya tapi tanpa mengintimidasi? Seseorang yang bisa membuat saya mau mendengarkan dan taat padanya tanpa rasa terpaksa.

Seseorang yang membuat saya mengingat kalimat, “Lemesin aja, jangan dilawan.” untuk ego dan keras kepalanya saya.

Nyatanya (dulu) saya lebih sering bertemu dengan laki-laki baik yang pada akhirnya lebih cocok untuk saya kendalikan. Salah satu alasan mengapa perempuan mulai mendominasi adalah karena tidak cukup banyak laki-laki yang cakap menjadi pemimpin.

Tapi, saya sudah bertemu dengan laki-laki yang saya maksud di atas. Seseorang yang insyaAllah tepat untuk menjadi partner sehidup semati. Laki-laki yang membuat saya tidak melakukan effort yang sedemikian besar hanya untuk merasa nyaman, yang meyakinkan hati saya untuk merobohkan benteng dan membangun jembatan menujunya.

Orang yang membuat saya dengan sukarela meluaskan ruang penerimaan, meletakkan ego dan menyusun ulang ambisi pribadi demi menjalani ibadah besar bernama pernikahan.

Karena pernikahan adalah ibadah seumur hidup. Mesti dijalani dengan orang yang mau sama-sama terus belajar meski tertatih. Salah memilih pasangan, maka neraka mengiringi seumur hidup.

Dan kami masih harus menunggu, demi jalan hidup yang lebih baik. InsyaAllah 🙂

 

“Benar aku cinta, tapi ku percaya. Kau yang kuinginkan tak harus hari ini.

Mungkin hari nanti kamu ada di sisi, kita kan bersama dalam indahnya cinta.”

-Tak Harus Hari Ini by Iqbal Ceka

 

Bekasi, 20 Juli 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Melankolia

It’s obvious you’re meant for me
Every piece of you, it just fits perfectly
Every second, every thought, I’m in so deep
But I’ll never show it on my face

Why can’t you hold me in the street?
Why can’t I kiss you on the dance floor?

I wish that it could be like that
Why can’t we be like that? ‘Cause I’m yours

Boy you know this,

we got a love that is hopeless

I don’t wanna hide us away
Tell the world about the love we’re making
I’m living for that day
Someday

Why can’t I say that I’m in love?
I wanna shout it from the rooftops

 

Secret Love Song by Little Mix ft. Jason Derulo.

Video bisa dilihat di Secret Love Song

Bekasi, 6 April 2016

Bikin Caffe Latte Enak Nggak Pake Mesin

Emangnya, mana ada sih kopi susu a.k.a caffe latte yang nggak enak? Semua jenis kopi kan enak, mau yang instan sekalipun. :p

Sesuatu yang nikmat itu emang gampang bikin kecanduan yah. Ambang batas persepsi nikmatnya kopi di lidah saya makin lama makin naik dan ini…..nyusahin (banget)! Yang awalnya seneng seneng aja minum kopi instan and then sekarang rasanya udah biasa aja. Yang awalnya bikin ngantuk hilang sampe sekarang malah ngantuk abis minum kopi (loh?). Dan….finally lidah ini malah ketagihan sama kopinya Dunkin, JCo, Starbucks, Coffee Bean & Tea Leaf, dan Excelso. Saya telah jatuh hati pada kopi asli. Pokoknya, kalau ada yang bilang kopi buatan kafe sama kopi instan itu sama, maka saya bakal jadi orang yang ada di barisan paling depan penentang pernyataan tersebut! (Lebay, biarin) Bukan gegayaan, tapi emang beda….

Nah, karna diri ini belum berpenghasilan (hiks), sangat nggak mungkin tiap hari merelakan 30 ribuan saya demi memuaskan reseptor adenosin saya yang selalu ‘kelaparan’ kafein. Hoho jadi inilah caffe latte hasil eksperimen saya sendiri, yang rasanya nggak jauh beda sama kopi kafe *yeay

IMG_20160203_172906.jpg

Jelek banget ya pengambilan fotonya. Ada sampah tisunya pula. Biarin aja, emang nggak diedit dan sesuatu yang terlalu rapih entah kenapa terasa kurang ‘nyeni’ (menurut saya) *nyari excuse* hehehehe…

Setelah percobaan ke-empat, saya baru ngerasa rasanya pas di mulut saya. Ini saya kompilasi dari berbagai sumber dan tentu saja dengan modal lidah sendiri, berikut sedikit pengetahuan tentang kopi. Bagi yang bernasib sama kayak saya dan pingin coba bikin, here we goooo…..

Siapkan:

Satu. Kopi bubuk satu sendok makan (sekitar 7-9 gram). Terserah mau arabika atau robusta. FYI, rasa arabika cenderung lebih enak dan kafeinnya lebih sedikit. Kalau si robusta, rasanya cenderung lebih pahit dan kadar kafeinnya lebih tinggi, pun lebih sering disebut sebagai kopi kelas dua. Kasian, ya. Btw, ini masalah selera juga kok. Ohya, usahakan kopi bubuk tidak terlalu halus karena akan menghasilkan kopi yang pahit, dan juga jangan terlalu kasar karena rasanya akan menjadi datar.

Dua. Susu full cream 150 ml. Merk apa aja, sama aja.

Tiga. Gula dua sendok teh. Tapi untuk aplikasinya nanti, kembali ke selera masing-masing lagi. Ada juga yang lebih suka kopi pahit kan?

Empat. Alat-alatnya: panci, gelas, tempat minum/toples/gelas yang ada tutupnya (pokoknya wadah yang ada tutupnya), saringan kopi/teh, sendok.

 

Caranya:

  1. Bikin espresso-nya dulu. 

Nah, di sinilah letak perbedaan paling vital antara kopi kafe dan kopi yang kita buat. Tahap yang “benar” untuk membuat kopi enak adalah dengan memulai menggiling biji kopinya sesaat sebelum membuat kopi sampai menciptakan espresso, yang tentu saja akan nikmat bila pakai mesin kopi. Tapi kita bisa manipulasi dengan mengikuti prinsip-prinsip pembuatan espresso hohoho.

Seduh satu sendok makan kopi tadi dengan air panas sebanyak 45 ml. Inget, air panasnya mesti bersuhu 90-94 derajat celcius biar kopi benar-benar terekstrak dengan baik. Iseng banget yah, mesti pake termometer. Biar gampang, caranya adalah dengan memasak air hingga mendidih lalu didiamkan selama 30 detik. Di saat itulah suhu airnya jadi 90-94 derajat. Lalu….hirup aromanyaa…. *flying

Then, saring kopinya buat memisahkannya dari ampas. Setelah itu, pindahin ke gelas kesayanganmu 🙂

IMG_20160202_195710

Sayangnya, gelas di atas bukan gelas kesayangan saya 😦 Gelas kesayangan saya ada di rumah, gelas pemberian sahabat saya tercinta hehehe.

2. Bikin susu berikut foamnya

Kenapa susunya mesti 150 ml dan espressonya 50 ml? Hoho ya karena memang begitu komposisinya. Untuk caffe latte, proporsi susu lebih banyak dibanding kopinya (dua pertiga), ditambah dengan foam yang minimal. Berbeda dengan cappuccino yang porsi susunya hampir sama dengan kopinya dan foamnya banyak.

Pertama, panaskan dulu susunya. Jangan sampai mendidih. Hmm ya sekitar 65-75 derajat lah. Setelah itu, masukkan susu ke dalam wadah bertutup. Then….kocok sekuat tenaga. Iya, sekuat tenaga. Biar foamnya keluar. Lalu, tuang susu ke dalam espresso-nya. Bisa ditambah gula juga, bila dirasa kurang manis. Sesuaikan dengan selera aja pokoknya. Daaan jadilah caffe latte enak kita yang simpel!

*fotonya yang di atas itu ya*

Sekian tips dari pecinta kopi yang masih pemula ini. Komposisi kopi dan susu bisa disesuaikan juga dengan lidah masing-masing. That’s the art of coffee making. Buat mbak-mbak dan mas-mas barista, mungkin bisa nambahin informasi atau membetulkan bila ada salah-salah. Cara ini menolong banget kalau kita adalah pecinta kopi golongan fundamentalis (tsah) yang benar-benar menolak kopi instan tapi ingin menikmati kopi asli dengan cara sederhana.

Selamat menikmati kopimu dan berbahagia! XD

 

 

 

Aku Akan Mencarimu

7760134_d9baa51355

Aku akan mencarimu,

di antara lalu lalang orang-orang yang menempa mimpi dan harapan. Adalah kita, yang nanti akan dipertemukan tersebab memperjuangkan satu mimpi juga harapan. Adalah kamu, yang bersama-sama nanti menjadi teman dalam perjalanan panjang dan saling menguatkan dalam berjuang.

Aku akan mencarimu,

di antara pelukan benda-benda langit melalui doa-doa yang kupanjatkan. Karena ku tahu, walau takdir kita seterang rembulan, wujudmu masih disembunyikan Tuhan. Mungkin kau ada di malam dan menjadi bintang, atau kau menyatu sebagai matahari dalam siang. Tapi ku yakini, kau pasti yang bersinar paling terang, menerangi jalanku menujumu.

Aku akan mencarimu,

melalui pemahaman hidup yang ku genggam. Akan ku cari kau dengan panduan sel-sel otakku yang menjunjung tinggi pemikiran. Melalui idealisme dan prinsip yang ku pertahankan, kau pasti akan ku temukan.

Aku akan menemukanmu,

dengan meraba hatiku. Meraba jiwaku. Karena hanya mereka yang dapat merasakan hadirnya kebaikan, ketulusan, keberanian, kebijaksanaan, dan rasa cinta yang tulus milik seseorang kepada Tuhannya dan sesama manusia. Karena hanya hati dan jiwa yang paham akan kehadiran cinta yang indah dan menguatkan. Karena hati dan jiwa tak mengenal pengkhianatan.

Sementara kita yang belum dihadapkan oleh-Nya dalam suatu ikatan,

biarlah kita masing-masing berjalan hingga suatu saat akan kita temui sebuah persimpangan, sebuah tempat di waktu yang tepat, tempat dimana kau dan aku akan dipertemukan lalu bersama-sama dalam ridho-Nya kita lanjutkan perjalanan.

Palembang, 2 September 2015

Harga Sebuah Perasaan

Tentang perasaan. Lagi-lagi tentang perasaan.

Demikian juga orang-orang, selalu suka kalau bicara tentang perasaan. Perasaan dalam tanda kutip yang semua orang pasti sudah paham.

Ada yang mendefinisikan perasaan sebagai sesuatu yang harus dipenuhi dan ditindaklanjuti dengan segera. Ada yang masih meraba-raba hatinya dan memastikannya. Ada yang meletakkannya di tempat yang tinggi dan disimpannya untuk saat yang tepat kelak.

Saya termasuk yang ketiga. Lebih tepatnya bertahan untuk menjadi yang ketiga.

Kalian tahu, perasaan memang sesuatu yang bisa berubah dalam sekejap mata. Hari ini suka, besok benci. Hari ini jatuh cinta, besok kemudian lupa. Hari ini menggebu-gebu, beberapa hari setelahnya layu dimakan waktu. Perasaan kepada sesama manusia memang tidak akan pernah kekal. Jadi sebenarnya berapakah harga sebuah perasaan bila dapat dirasakan dan dibuang dengan begitu mudahnya?

Sebuah perasaan itu mahal, sebenarnya. Sungguh mahal untuk diberikan dan diwujudkan begitu saja, apalagi kepada mereka yang tidak pantas mendapatkannya. Manusia tak akan memiliki perasaan se-hakiki perasaan cinta Tuhan kepadanya ataupun sebaliknya. Perasaan cinta yang diwujudkan dalam sujud dan doa-doa kepada yang Maha Memiliki Kehidupan. Lantas bagaimana caranya menjaga perasaan hingga nanti dipertemukan dengan seseorang yang tepat bagi perasaan itu sendiri?

Saat semua orang di sekitar mengagung-agungkan sebentuk cara untuk mewujudkan perasaan yang bernama pacaran dan menghalalkan sentuhan?

Saat hati kita sendiri pun meyakini bahwa dengan cara itulah bahagia kita akan datang?

Saat pikiran kita sendiri pun lumpuh dan menyetujui untuk mengutarakan perasaan?

Kita harus membahagiakan diri kita sendiri dulu. Mengingat-ingat kembali cita-cita kita hidup dan ingin menjadi seperti apakah kita ini. Dalam perjalanan kita nanti, dengan sendirinya pasti akan bertemu orang-orang yang berada dalam satu frekuensi dengan kita. Entah ideologinya, cita-citanya, hidupnya, dan yang pasti kualitasnya. Juga jangan pernah lupa untuk selalu percaya dan meminta lewat doa-doa kepada Tuhan, yang memegang takdir kita. Masing-masing orang telah ditetapkan waktunya di Lauhul Mahfudz sana, jadi kita tinggal menunggu waktu saja dengan tetap berusaha memperbaiki segala aspek di hidup kita sendiri.

Hargailah perasaan kita sendiri dengan harga yang mahal dengan tidak memberikannya secara cuma-cuma bagi yang memang tidak berhak memilikinya. Adakalanya harus merasakan patah hati berulang kali, sedih ditinggalkan harapan, ataupun menangis diam-diam menahan kerinduan. Tapi tetap simpan ruang yang terbesar di hati kita bagi seseorang yang akan menemani sisa hidup kita kelak dalam ridho-Nya.

Ilustrasi Seorang Istri dan Ibu Sejati

Seorang istri disebut – sebut sebagai sumber semangat suaminya. Rasa cinta yang hangat, yang didapat dari rumah yang nyaman dapat mengantarkan seorang pria menjadi lebih baik. Rumah juga menjadi tempat awal dibangunnya sebuah keluarga dan kehidupan dari anak – anak yang hebat. Dari sini saya memahami bahwa begitu vitalnya peran seorang wanita dalam memegang kendali keluarganya, baik sebagai istri maupun sebagai ibu.

Tak jarang berita – berita di koran maupun televisi menanyangkan perilaku – perilaku buruk anak muda yang gemar merusak. Merusak harga dirinya sendiri, merusak kehormatan keluarganya, hingga merusak lingkungannya. Mabuk – mabukan, penyalahgunaan obat, tawuran antar sekolah, hingga perampokan berskala besar terjadi tidak begitu saja. Tidak ada orang yang jahat secara genetik melainkan lingkungannya lah yang membentuknya seperti itu. Keluarga sebagai lingkungan terdekat berperan sangat besar sebagai akar dari masalah – masalah sosial tersebut.

Ya, keluarga. Terutama ibu. Seorang anak yang berlimpah kasih sayang dari keluarga terutama ibu sangat kecil kemungkinannya untuk mencari ‘sumber kebahagiaan’ yang salah di luar rumahnya. Seseorang yang dikelilingi oleh suasana kasih sayang yang hangat juga akan membagikan rasa kasih sayangnya kepada orang lain. Anak – anak yang tumbuh di tengah – tengah anggota keluarga yang hangat tentu tak pernah mengenal kata broken home.

Saya pribadi masih tidak bisa memahami bahwa ternyata ada orang – orang yang tak pernah berpikir dua kali untuk melakukan tindakan keji kepada orang lain. Apalagi orang – orang yang masih berusia muda seperti saya. Logika dan perasaan saya tak sampai berpikir bahwa ternyata ada orang – orang yang menikmati hidup dalam kungkungan miras dan narkoba. Bahwa ternyata ada orang – orang yang begitu ringannya menghunuskan celurit ke temannya demi memuaskan emosi belaka. Bagaimanakah pola asuh dalam keluarganya? Seperti itu batin saya sering berucap.

Adalah mama dan bapak saya. Mereka telah membangun anak – anaknya untuk melihat dunia dari kaca mata kebaikan hingga saya dan adik – adik saya tak tersentuh pemahaman yang salah. Orangtua saya, terutama mama saya telah menyajikan kehidupan yang hangat setiap hari hingga rasanya tindakan – tindakan keji yang biasa kami lihat di TV terasa sebagai sesuatu yang asing dalam hidup kami. Rasa kasih yang saya terima membuat saya berpikir bahwa dunia di luar sana baik – baik saja dan semua keluarga seperti keluarga saya. Saya sangat bersyukur memiliki seorang ibu yang memerankan kodrat dan perannya secara sempurna dalam keluarga.

Mama yang setiap hari bangun jam 3 pagi untuk memasak makanan yang siangnya dijual di kantin. Dan saat saya tanya untuk apa sepagi itu bangun, beliau hanya menjawab, “Semua ini buat anak – anak mama.” Mama yang selalu mementingkan kepentingan anak – anaknya di atas kepentingannya sendiri. Mama yang tangannya tak pernah lelah membersihkan dan merapikan rumah agar suami dan anak – anaknya betah tinggal di rumah. Mama yang sangat tidak suka melihat anak – anaknya enggan berbagi dengan orang lain, dalam hal apapun itu.

Mama yang juga telah menjadi contoh sosok istri yang sangat baik. Beliau selalu menempatkan diri untuk mengabdi kepada Bapak. Dalam banyak artikel yang saya baca, disebutkan bahwa kebutuhan utama seorang wanita adalah dicintai dan kebutuhan utama seorang pria adalah dihargai. Dalam hubungan kedua orangtua saya, saya melihat contoh nyatanya. Mama selalu menghormati Bapak dan menghargai segala usahanya, memasak sendiri buat Bapak dan selalu siap menyambut Bapak saat pulang ke rumah. Segala wujud rasa kasih yang dilakukan oleh ibu saya membuat ayah saya juga melakukan hal yang sama. Dalam perbuatannya, sangat terlihat bahwa Bapak mencintai Mama walaupun tidak secara terus terang mengungkapkannya secara verbal. Wujud dari rasa kasih sayang yang ditunjukkan oleh orangtua saya pada akhirnya membuat siklus indah yang terus berputar dan tak berujung. Demi apapun, saya ingin dan akan menjadi sosok seorang istri dan ibu seperti ibu saya.

Saya ingin menjadi orang pertama yang tersenyum menyambut suami saya saat lelah sepulang kerja. Saya ingin menjadi orang yang mendamaikan hati suami saya saat ia sedang bahagia maupun berduka. Tak akan pernah saya menempatkan diri saya lebih tinggi darinya, karena biarlah ia memenuhi kodratnya sebagai pemimpin. Pada hakikatnya seorang laki – laki memang memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding perempuan. Bahkan Rasulullah sendiri pernah bersabda,  “Seandainya Aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya Aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya.”

Saya juga ingin menjadi seorang pendengar yang baik bagi suami saya, yang tak akan lelah mengisi kedua telinga saya dengan suara tawa maupun keluh kesahnya terhadap dunia. Saya ingin menjadi sesosok ibu yang baik bagi anak – anaknya, yang tangannya selalu sedia untuk memberi pelukan hangat di saat penuh bahagia maupun derita. Mengisi telinga dan hati mereka dengan kisah – kisah kebaikan hati dan ajaran yang dijunjung oleh Rasul mereka. Dan semoga Allah menganugerahkan kepada saya seorang laki – laki yang baik untuk menjadi pendamping hidup saya kelak.

family-ties

http://www.crafthubs.com

V for VERSA!

Tidak kurang dari satu minggu lagi saya akan ‘dipaksa’ keluar dari zona nyaman. Tanggal 30 Juni dijadwalkan sebagai hari pertama koas bagi lulusan Sarjana Kedokteran gelombang I angkatan tahun 2010. Masih ada satu tanggung jawab di pre – klinik yang belum bisa saya tanggalkan sampai sekarang. Saya pribadi ingin tanggung jawab sebagai ketua VERSA segera dapat diambil alih oleh member VERSA yang lain, dan insyaAllah sebelum koas ketua baru VERSA sudah dipilih dan disetujui oleh para member. Selain pemilihan ketua baru VERSA, satu hal yang membuat saya tidak bisa berlepas tangan sekarang adalah TEMILNAS. Saya telah berjanji kepada member VERSA untuk mengusahakan dana dan izin dari kampus untuk mereka. Disaat teman – teman yang lain sedang sibuk membeli peralatan untuk koas dan mempersiapkan segala tetek – bengeknya, saya masih pusing dengan proposal pengajuan dana dan surat izin TEMILNAS. Bukan, itu bukan karena saya menikmati menjadi ketua dari calon organisasi ilmiah ini. Bukan juga karena saya tergila – gila dengan urusan organisasi. Saya juga punya urusan dan kewajiban yang sama dengan teman – teman yang lain. Saya juga ingin fokus mempersiapkan segala sesuatunya untuk koas, terlebih saya sendiri masih takut koas bahkan hanya untuk membayangkan saja. Saya sudah lama ingin mundur dan melupakan idealisme yang telah dibangun di awal, di saat pembentukan VERSA. Saya sudah ingin mundur sejak mengerjakan skripsi, sejak ikut mega remedial, sejak saya ingin mulai latihan menulis tulisan fiksi, sejak saya ingin duduk saja di rumah menghabiskan daftar buku bacaan saya yang tak pernah akan habis. Saya sudah lama ingin berlepas tangan dari VERSA, seperti teman – teman lain yang juga mulai meninggalkan VERSA perlahan – lahan dan saya mulai merasa bahwa saya bekerja sendirian. Satu – satunya alasan yang membuat saya hingga hari ini masih memperjuangkan VERSA adalah…

harapan dan kemauan kuat dari member VERSA.

Niat dan kemauan mereka untuk belajar dan berprestasi lah yang tetap membuat api semangat dan harapan saya untuk VERSA tidak pernah padam. Pertanyaan – pertanyaan mereka soal tulisan ilmiah terus mengembalikan idealisme saya yang setiap detiknya bisa saja menghilang. Hanya karena rasa sayang saya terhadap mereka yang membuat saya mampu membagi pikiran saya untuk VERSA di sela – sela masa persiapan saya untuk koas.

Saya hanya bisa tersenyum saat ada yang bertanya “Buat apa masih ngurusin masalah dana sama izin organisasi? Mendingan mikirin buat koas.” Saya tak akan menjelaskan jawaban panjang saya di atas kepada siapapun karena hanya saya sendiri yang mengerti dan bisa merasakan. Kebahagiaan member VERSA adalah kebahagiaan saya.

Alhamdulillah di saat – saat krusial seperti ini masih ada teman – teman yang masih sungguh – sungguh mempertahankan VERSA. Teman – teman dengan satu visi dan misi yang akan terus saya pertahankan. Saya sedih. Saya kecewa. Saya sangat kecewa dengan teman – teman yang mulai melupakan cita – cita kami ini di awal. Tapi pada kenyataannya, apa yang bisa saya lakukan? Saya mengerti dan sungguh mengerti bahwa kami para pendiri VERSA adalah angkatan 2010 yang punya beban skripsi dan nilai di tahun ini. Masing – masing dari kami tentu akan memilih fokus pada skripsi dan mega remedial demi mendapatkan nilai yang bagus dan koas gelombang I. Tentu siapapun akan memilih untuk membuat orangtuanya tersenyum dengan lulus tepat waktu daripada mengurusi organisasi non – profit yang bahkan masa depannya saja masih buram dan bahkan tampak suram. Tapi…

Tak bisakah sebentar saja tergerak untuk mengingat kembali tujuan awal?

Tak bisakah berjuang sedikit lagi sebelum meninggalkan kampus?

Tak bisakah sejenak saja melupakan semua excuse dan mencoba membagi waktunya sebentar saja untuk VERSA?

Tak bisakah menyumbangkan kontribusi dan potensi demi VERSA, dimana semua juga tahu bahwa pendiri VERSA banyak yang dulunya petinggi organisasi di kampus.

Apakah kini hanya tersisa segelintir orang yang masih mau membangun organisasi ilmiah ini? Demi prestasinya sendiri dan demi almamaternya. Sebuah almamater tentu lebih dikenal karena prestasi mahasiswanya.

Saya begitu berharap pengajuan dana dan izin untuk TEMILNAS bisa dikabulkan oleh kampus, karena event ini dapat menjadi tonggak berdirinya VERSA. Salah satu yang membuat member VERSA masih bingung dengan kompetisi ilmiah dan lembaga ilmiah adalah karena mereka belum pernah ikut event ilmiah sekali pun. Saya punya keyakinan kuat para member akan semakin termotivasi dengan mengikuti event ilmiah dan TEMILNAS ini merupakan satu – satunya event tahunan yang bisa diikuti delegasi dalam jumlah yang banyak. Harapan saya bersandar sangat kuat pada TEMILNAS tahun ini. Semoga kasih sayang dah rahmat Allah melimpahi VERSA dan para membernya. Semoga Allah memberi kemudahan bagi siapa saja yang ingin berkarya dan berprestasi. Amiin…

Sebuah Epik Kesukaan

Bagi yang sering atau suka nonton channel ANTV jam setengah 9 malam Hari Senin-Jumat pasti tahu epik apa yang saya maksud. Sebuah kisah yang telah lama saya ketahui, yaitu saat masih SD. Pertama kali tahu dari orangtua saya yang suka menonton kisah itu di TV dan akhirnya menimbulkan kecintaan saya pada kisah tersebut. Sebuah epik yang menjelma sebagai miniatur kehidupan manusia di dunia yang dibumbui dengan romansa tokoh-tokohnya. Kisah yang sarat akan makna kehidupan dan menggambarkan sifat-sifat manusia secara keseluruhan. Epik satu ini menjelaskan bagaimana takdir antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya saling berkaitan dan bagaimana sebuah karma tak dapat terelakkan dalam hidup. Segala sifat manusia dihadirkan di sana, dari yang hitam seperti kesombongan, ketamakan akan tahta dan kekuasaan, iri hati, dengki, dendam, ambisi dan obsesi, juga yang putih mencakup cinta, kasih sayang, kesetiaan, kerendahan hati, dan penghormatan. Begitu banyak pelajaran moral yang dapat diambil dari kisah ini.

 

MAHABHARATA!

Sekarang saya justru ketagihan dengan serial film ini, yang kisah aslinya diterbitkan dalam bentuk tulisan pada Tahun 1951. Sebuah karya sastra yang legendaris. Epik yang berasal dari India ini juga ada versi Jawanya, yang sering ditampilkan dalam pementasan wayang. Tokoh sentral dari epik ini yaitu Pandawa Lima (Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa) dan saudara-saudaranya Kurawa (Duryodhana, Dursasana, dll). Film yang diputar di ANTV saat ini belum sampai pada lahirnya tokoh-tokoh sentral tersebut. Ada beberapa tokoh-tokoh yang telah muncul dalam film dan berikut ini adalah tokoh-tokoh yang sangat saya sukai 🙂 :

1. Bhisma

Image

Bhisma adalah putra dari Raja Shantanu dan Dewi Gangga. Saya menyukai Bhisma karena ketangguhan dan kebijaksanaannya. Bhisma tidak mementingkan egonya sendiri dan tidak serakah atas tahta Kerajaan Hastinapura. Demi rasa cintanya pada ayahnya, ia mengambil sumpah untuk tidak menikah agar keturunan ayahnya dengan Satyawati dapat menjadi Raja Hastinapura. Bhisma adalah seorang yang sangat bijak dan berpegang teguh pada kebenaran dalam keadaan apapun. Ia akan melakukan apapun demi membela keluarganya dan mempertahankan Kerajaan Hastinapura.

 

2. Puteri Gandhari

Mahabharat Gandhari

Seorang puteri cantik dari Kerajaan Gandhara yang hatinya penuh dengan kebaikan. Sesosok wanita yang ideal (menurut saya). Gandhari bersumpah untuk menutup matanya hingga akhir hidupnya demi ikut merasakan penderitaan suaminya (Pangeran Destarastra) yang buta sejak lahir. Pangeran Destarastra awalnya tidak mengakui Gandhari sebagai istrinya akibat sumpahnya itu, karena berharap Gandhari dapat menjadi ‘mata’ baginya. Walaupun suaminya tidak menganggapnya sebagai istri, Gandhari tetap setia melayani dan selalu ada untuk mendukung suaminya. Pangeran Destarastra akhirnya menyadari kesalahannya dan memohon pada Gandhari agar mau menerima dirinya sebagai suaminya. Gandhari juga sangat bijaksana dengan tidak memusuhi dan membenci keluarga Kerajaan Hastinapura yang tidak menjadikan suaminya sebagai raja dan ia sendiri pun tidak terobsesi untuk menjadi Ratu Hastinapura. Gandhari di Mahabharata adalah sosok istri, ibu, dan kakak ipar yang baik bagi keluarganya.

 

3. Pangeran Pandu

mahabharat_20_4

Ialah ayah dari Pandawa Lima yang juga merupakan raja dari Hastinapura. Pangeran Pandu adalah adik dari Pangeran Destarastra. Saya suka sosok ini karena begitu baik dan lembut pada orang lain, terutama keluarganya. Wajah Pangeran Pandu selalu dihiasi senyum yang manis. Di luar sifat lembutnya, Pangeran Pandu di Mahabharata adalah sosok yang tegas, kuat, dan berwibawa. Ia juga tidak serakah akan tahta dan kekuasaan. Entah kenapa saya berharap punya suami yang sifatnya seperti Pangeran Pandu ini 😀 (kecuali bagian poligaminya!).

 

Dan pasti masih banyak tokoh-tokoh lain yang akan saya suka bila terus mengikuti kisah ini dengan menonton di TV atau membaca bukunya. Sampai saat ini saya masih suka dengan Mahabharata. Sungguh sebuah karya yang sangat indah. 😀

 

Sempurna

Kebebasan beragama dan beribadah. Islam sebagai bangunan hidup. Kesempatan mempelajari bahasa surga–Nya dan memperdalam pedoman-Nya. Lingkungan yang baik dan tentram. Orangtua yang selalu mendorong anak–anaknya dalam hal–hal baik dan senantiasa demokratis. Adik–adik yang manis. Keluarga dengan ekonomi yang berkecukupan dan harmonis. Sanak saudara yang begitu menghargai. Teman–teman yang hangat beserta kepercayaan mereka. Cinta dari orang–orang yang dicintai. Tubuh dan mental yang sehat. Pendidikan yang sangat layak. Kebebasan memilih jalan hidup. Segala kelebihan yang ditanamkan dalam diri oleh–Nya. Profesi (nanti) yang sesuai nurani juga prinsip. Kucing yang lucu. Segelas kopi. Setumpuk buku bacaan. Piano yang anggun dan kenikmatan menyusuri indahnya not–not balok.

 

Rasanya hidup tak bisa lebih sempurna lagi.

Terima kasih Yaa Robbii….