Ramadhan Day #14: No Way Back

Besok sudah tepat pertengahan Ramadhan. Kemarin tepat 4 bulan saya bertugas jauh dari rumah. Tadi malam saya sudah tidur di rumah dinas baru, dan saya jadi punya masalah baru. Kalau sedang tidak ada masalah, tentu saya akan malas menulis blog (?).

Masalah kecil sih: homesick.

Ternyata saya terlalu menyepelekan masalah ini, hingga akhirnya ia menyerang saya justru di saat yang sangat menyusahkan. Huft.

Karena konsekuensi akan selalu mengikuti sebuah pilihan, dan inilah konsekuensi yang mesti saya terima. Saya punya banyak pilihan, dulu sekali. Bahkan pilihan terbaik pun tidak berarti bebas dari konsekuensi buruk. Diri kita ini saat mengambil pilihan, sebenarnya bukan berada di sebuah persimpangan dengan banyak cabang. Melainkan, ada di tengah lautan dalam sebuah kapal kayu. Kita bebas mengambil arah manapun dengan cara bagaimanapun. Kita bebas memilih pulau manapun, pantai manapun.

Akan tetapi, begitu saatnya kita sampai di tujuan, kapal yang kita gunakan akan terbakar. Juga tidak ada kapal-kapal lain yang bisa kita gunakan di tempat tujuan.

Dengan kata lain: there’s no way back.

Selamanya keputusan yang kita ambil akan mengiringi selama perjalanan. Ditambah lagi dengan kecemasan-kecemasan: bisakah nanti hidup di tempat tujuan yang baru? apakah justru tidak ada air dan selamanya kita akan hidup dalam kekeringan? Apakah di sana ada makanan yang cukup? dan segala macam pertanyaan tentang esok hari yang tak mungkin jawabannya bisa didapatkan saat ini.

Setiap keputusan yang kita ambil akan terus bergaung hingga akhir hayat dan sekali ada penyesalan, gaung itu akan terus terdengar memekakkan telinga entah sampai kapan. Kita hanya bisa berhati-hati di awal untuk mencegah hal-hal yang kelak menjadi penyesalan. Kita hanya perlu membuang segala jenis kecemasan untuk yakin melangkah ke depan.

 

#notetomyself

Tilamuta, 9 Juni 2017