No Title Needed.

Time runs like a bullet. Segala kesenangan di stase Puskesmas akhirnya mesti ditinggal di belakang untuk segera menyambut hiruk pikuk IGD dan bangsal rumah sakit –yang katanya banyak drama itu. Ah, bahkan di masa-masa akhir Puskesmas pun kami sempat berhadapan dengan –something you can call it drama-. Saya bersyukur ditempatkan di sini bersama teman-teman iship saat ini, yang kompak dalam hal baik maupun hal sableng *evil smirk.

Dulu sekali sempat ada kekhawatiran apakah bakal bisa nyaman sama anak-anak ini, apalagi ada yang luar daerah. Kan nggak enak banget kalo kelompok satu tahun tapi nggak bisa kompak. Tapi ternyata beyond expectation, saudara-saudaraa~

Mereka ini baik-baik dan nggak gigit hohoho

 

1487550024048.JPEG

Ini foto waktu pertama kali sampe di Puskesmas. Kita ini terdiri dari dua orang Manado, satu orang asli Gorontalo, satu orang Makassar, satu orang Tangerang, satu orang Medan, dan satu orang Jawa (alias saya :p). FYI, saya ini sering disebut orang Jawa KW, karena: 1) cuma sedikit ngerti bahasa Jawa, 2) lebih suka makanan asin-gurih ketimbang manis, 3) teman saya kebanyakan orang Batak, Betawi, Padang, Manado, jadi harap maklum kalau intonasi suara saya sering keras *peace

Berteman sama mereka ini membuktikan beberapa hal yang selama ini hanya menjadi dugaan. Dari oknum M, saya jadi tahu kalau Chinese People memang top banget urusan matematika dan hitung-menghitung uang. Memang bendahara jempolan. Dari oknum I, saya jadi tahu kenapa pengacara kebanyakan orang Batak. Maju terus pantang mundur, Bah! Dan meskipun terlihat garang di luar, orang-orang Manado itu lembut dan baik sekali hatinya ❤ Terbukti dari Oknum T dan Oknum S.

Ada juga oknum U, sang ratu lebah dari Palopo. Juga oknum Y, alias The Lord, Protector of Boalemo yang sering menolong dan mem-back up kami-kami ini meskipun kadang bikin gemes. Doi ini baik banget, sampe mau nemenin saya nyari penjahit buat bikin baju lamaran. Saya seneng, cowok-cowok di kelompok saya ini perhatian banget dan mau repot. Mereka nggak segan buat cuci piring, ke laundry, beli dan pasang gas, sampai buang trash bag. 

Biar, dipuji biar pada ge-er :p

Mereka juga yang meracuni cewek-cewek ini buat nonton serial Game of Thrones. Heu.

Seminggu sebelum perpindahan ke RS, kami melakukan sweet escape ke Manado. Pengalaman puasa di Manado ini bikin saya jadi sadar, bahwa menjadi minoritas itu memang butuh perjuangan. Masjid cuma ada sedikit, yang puasa juga sedikit. Saya akhirnya cuma bisa nunggu di mobil di saat yang lain pada menikmati tinutuan*hiks

 

2017_0602_21271200.jpg

Ini di depan mekdinya pas udah lautan ❤ something I can’t get in Jabodetabek 😦

Godaan kuat banget emang, dari dalam mekdi menguar aroma kopi segar di siang bolong. Huft.

 

IMG_20170602_215735_HDR_1496411931048.jpg

Jembatan Soekarno di malam hari. Masih lebih megah Jembatan Ampera di Palembang, tapi lebih bersih ini. Di malam hari, dihiasi dengan pantulan warna merah, hijau, kuning, biru, ungu, dan kuning.

 

IMG_20170606_161253_HDR.jpg

Ini penampakan siang harinya

 

IMG_20170606_084552_HDR.jpg

Monumen Yesus Memberkati di Kawasan Citraland ini mirip-mirip sama Patung Yesus di Cristo Redentor di Brasil. Patung ini mengisyaratkan Yesus yang memberkati warga Manado.

 

IMG_20170602_175011_HDR.jpg

Festival Ramadhan di Kawasan Megamas, digelar untuk buka puasa. Pas ini berasa banget suasana Ramadhannya.

 

2017_0605_01125500.jpg

Pagoda di Tomohon

 

2017_0605_01461800.jpg

View Gunung Lokon dari Bukit Doa. Hawanya dingin dan udaranya seger banget ❤

 

2017_0605_01521400.jpg

Kapel Bunda Maria di Bukit Doa, Tomohon

 

 

IMG_20170604_161517_HDR_1496564306711.jpg

Kafe D’Linow di Danau Linow. Lebih gede foto sayanya dibanding pemandangannya wkwkwk

 

IMG_20170604_174829_HDR.jpg

Menu buka puasa saya di D’Linow: Kopi susu, pisang sepatu tepung, dan……TINUTUAN!!

 

IMG_20170605_082903_HDR.jpg

Cakalang Fufu dan Tuna asap di Pasar Tomohon, my new favorite food ❤  Ohya, di pasar ini juga ada Pasar Ekstrim, tempat dimana bisa ditemukan daging babi, anjing, ular, kucing, monyet, dan paniki (kelelawar). Tadinya mau masukin fotonya kesini, tapi nggak jadi deh :p

 

IMG_20170605_100557_HDR.jpg

Bukit Kasih di Kaki Gunung Soputan, Minahasa. Itu yang di atas itu ada bangunan tempat-tempat ibadah dari semua agama yang ada di Indonesia (Islam, Katolik, Kristen Protestan, Budha, Hindu, Kong Hu Cu).

Sesuatu banget emang mendaki bukit ini pas puasa, saya setrong ternyata!

Bukit ini jadi simbol kerukunan beragama. Ada juga pahatan wajah Toar dan Lumimu’ut yang merupakan nenek moyang Suku Minahasa. Ada juga salib super besar di bukit ini, tapi untuk kesana butuh tenaga yang lebih besar karena tempatnya lebih tinggi lagi. Sepanjang perjalanan di bukit ini, bau belerang mampir berkali-kali melewati hidung.

 

IMG_20170605_101237_HDR.jpg

Ini Tugu Bukit Kasih, ada empat sisi yang melambangkan masing-masing agama.

 

2017_0603_22553300.jpg

Pasir Timbul Nain. Pas berangkat masih pasang selutut, beberapa jam kemudian udah sampe leher aja….

 

IMG-20170603-WA0438.jpg

Finally, snorkeling again. Ini pake usaha semaksimal mungkin biar airnya nggak ketelen.

Euforia banget mau ke Bunaken, tapi ekspektasi saya terlalu tinggi ternyata. Spot snorkeling kami nggak menarik karena karangnya sudah banyak yang mati. Masih lebih bagus Taman Olele di Gorontalo. Dari kecil pingin banget ke Bunaken tapi sayang sekali belum bisa melihat pemandangan yang bagus. Kalau mau ke spot yang bagus lebih baik pesan jasa private khusus meskipun lebih mahal.

Setelahnya, kami jalan-jalan ke Bitung. Cuma ke pelabuhan sama foto bareng patung cakalang doang tapi huahaha. Eh, sama beli tuna kaleng ding. Tuna kalengnya murah dan enak. Btw, Bitung ini daerah industri banget. Pabrik-pabrik everywhere. 

 

1497010855479.jpg

UPN Squad, bakda tarawih kedua saya di Tilamuta. Meski sedih nggak bisa tarawih bareng keluarga, setidaknya ada mereka yang nemenin 🙂

 

Bismillah. Semoga ibadah puasa saya tahun ini bisa berkah dan rencana-rencana ke depan bisa berjalan lancar. Aaamiinn….

 

Tilamuta, 9 Juni 2017